Makassar Biennale 2019 | Global Hakka Clocks & Mapping Project (世界鐘:全球客家地圖繪製計畫)
15920
post-template-default,single,single-post,postid-15920,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
 

Global Hakka Clocks & Mapping Project (世界鐘:全球客家地圖繪製計畫)

Sanwan Cultural Collective

藝渡˙三灣;Miaoli, Taiwan

SCC didirikan tahun 2019 oleh Wun Sin-Yu (Jili), Lin Chen-Wei (Laurent) dan Shen Yu-Lin.

SCC bekerja di satu wilayah pedesaan tua dengan menitikberatkan perhatiannya menjembatani isu pedesaan dan perkotaan di Taiwan, sekaligus menguatkan pemahaman ragam pemikiran orang setempat dengan imigran multikultural melalui lokakarya seni dan ragam inisiatif yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial.

 

Established in 2019, SCC is composed by Wun Sin-Yu (Jili), Lin Chen-Wei (Laurent) and Shen Yu-Lin as core members. 

SCC works in an ageing and rural area, with great intention of lessening the developing gap between rural and urban areas in Taiwan, as well as reinforcing the inter-understanding from the locals to multi-cultural immigrants by holding art workshops and social welfare initiatives.

 

Global Hakka Clocks & Mapping Project

世界鐘全球客家地圖繪製計畫

Kota Sanwan, berpenduduk sekisar 6700 jiwa, berpenghuni 98 persen orang Hakka; sisanya oleh orang asli Taiwan, Hokkien, Indonesia (Pontianak/Kalimantan Barat, Lampung, Sumatra Selatan), Vietnam, and Tiongkok Daratan.

Untuk memandu dan memberi pemahaman anak-anak setempat tentang migrasi global orang-orang Hakka dan definisi zona waktu, SCC bekerja sama dengan 12 pelajar Sekolah Dasar Sanwan (三灣國小), berusia 8-11 tahun menyelenggarakan lokakarya kayu pada 6, 13, dan 20 Maret 2019.

Kelompok anak-anak ini ingin mengetahui tentang kebudayaan “Hakka” yang berubah dan dimobilisasi dalam konteks global: orang-orang Hakka membangun pelabuhan dan jalur kereta api pada abad ke-19 di Amerika Serikat dan Kanada; merintis perkebunan tebu, kopi, dan kapas di kawasan Pasifik, Laut Karibia, dan Amerika Latin; begitu pula dengan perdagangan barang ke Asia Tenggara (seperti Indonesia dan Timor Leste). Hakka pun sebagai ikon diproduksi sebagai gaya penyajian makanan atau pakaian di Bangladesh dan Afrika Selatan. Bahkan, orang-orang Hakka juga membantu beberapa wilayah dalam perang dan proses pembangunan bangsa (seperti Kuba dan Republik Mauritius).

Selain itu, kelompok anak-anak ini ingin belajar bagaimana mewawancarai “orang luar” di Sanwan, termasuk seorang pria sepuh pensiunan guru dari Lampung (Indonesia) yang pernah mengajar di salah satu SMA di Sanwan, dan para pastor dari Korea untuk memperkaya pengetahuan budaya mereka.

 

Sanwan Town (near population 6700) is composed of mainly 98% Hakka people (Orang Hakka), yet minor ones consisted of people who from native aborigines, Hokkien (orang Min Selatan) Indonesia (Pontianak/Kalimantan Barat, Lampung, Sumatra Selatan, and so on), Vietnamese, and Mainland China.

In order to guide the local kids to understand the global Hakka migration and the definitions of time zones step by step, SCC cooperates with 12 students (ageing from 8-11) from Sanwan Elementary School (三灣國小), co-holding woodwork seminar during March 6th, 13th and 20th in 2019.

These kids need to know that the ”Hakka” cultures which would be changed and mobilized in global contexts:  Hakka ancestors had built the harbors and railways in the 19th century in America and Canada; grown sugarcane, coffee beans and cotton in Pacific regions, Caribbean Sea and Latin America; as well as trading goods to Southeast Asia (e.g. Indonesia and Timor Leste). Hakka icons are also manufactured as food style or fashion in Bangladesh and South Africa. Furthermore, Hakka people also help some regions in wars and nation-building process (e.g. Cuba and Republic of Mauritius).

Besides, they are required to learn how to interview with “foreigners” in Sanwan, including an old Sanwan-based teacher “Guru Shen” from Lampung, and pastors from Korea to gain the cultural knowledge.

No Comments

Post A Comment