Makassar Biennale 2017 | Makassar Biennale 2017 : Selamat Datang Seni (Rupa) Maritim!
15600
post-template-default,single,single-post,postid-15600,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Makassar Biennale 2017 : Selamat Datang Seni (Rupa) Maritim!

Makassar Biennale 2017 : Selamat Datang Seni (Rupa) Maritim!

PERHELATAN biennale menjadi peristiwa sekaligus situs penting yang menandai geliat perkembangan kebudayaan di satu kota. Peristiwa semacam ini sejak lama berlangsung di berbagai kota, dikemas dalam bentuk festival internasional yang mempertemukan beragam jenis praktik atau gagasan artistik.

Ini bermula dari La Biennale di Venezia yang pertama kali dihelat pada 1895, menyusul kota lain di berbagai penjuru dunia—mulai Sao Paulo, Havana, Gwangju, Johannesburg, Shanghai, Busan, Berlin, Porto Alegre, hingga Singapura. Di Indonesia sendiri, ada lima wilayah yang menghelat kegiatan sejenis, yakni Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Sumatra, dan Makassar. Selain sebagai ajang menampilkan aneka bentuk maupun strategi artistik terbaru setiap dua tahun sekali, ia juga menjadi ruang percakapan pengetahuan berbagai kalangan terkait isu atau gagasan tertentu.

Sebagai kota penghelat biennale seni rupa termuda di Indonesia, Makassar Biennale juga mengarahkan dirinya sebagai ruang pertukaran pengetahuan dengan modus seni, bukan sekadar ajang pajang-memajang karya bernuansa artistik.

Pada perhelatan pertama tahun 2015, Makassar Biennale mengusung tajuk Trajectory, yang berupaya meniti tonggak-tonggak sejarah seni rupa di Sulawesi Selatan. Ini bermula dari Parietal Art yang tergurat pada dinding-dinding gua Leang-Leang, Maros, sekira empat puluh ribu tahun lampau, seni Girlan (pinggir jalan) yang menandai awal munculnya seni rupa modern di Sulawesi Selatan, hingga ragam bentuk artistik yang berkembang pada era 2000-an. Perhelatan ini sekaligus menjadi penanda baru bagi seni rupa di Sulawesi Selatan yang kurang bergeliat dalam lima belas tahun belakangan.

 

SELEPAS perhelatan pertama, kantung-kantung seni di Kota Makassar mulai dipetakan ulang. Beberapa komunitas dengan modus artistik, yang sebelumnya tidak dipandang sebagai praktik seni rupa, mulai dimunculkan. Begitu juga dengan seniman-seniman muda yang tersebar di kota ini, berupaya dirangkul dan didorong untuk menjadi bagian dari perhelatan Makassar Biennale selanjutnya. Ini digunakan sebagai taktik untuk menyiasati minimnya sumber daya pekerja seni seperti art handler di Kota Makassar, yang sejatinya sangat diperlukan dalam perhelatan-perhelatan berskala besar.

Selain itu, sebagai rangkaian dari perhelatan 2015 lalu juga diselenggarakan program edukasi publik lewat simposium, tur pameran, dan lokakarya (workshop) penulisan seni rupa. Yang disebut terakhir menjadi cukup strategis, sebab di Kota Makassar terdapat cukup banyak penulis muda yang potensial, tapi sangat jarang yang berminat untuk menulis tentang seni rupa. Jadi, boleh dikata, perhelatan biennale juga menjadi salah satu jalan untuk membangun infrastruktur dan sumber daya dunia intelektual, khususnya berkaitan dengan jagat seni di Kota Makassar.

Trajectory’ yang menjadi bingkai perhelatan pertama, tetap akan menjadi pemicu dalam merumuskan tajuk untuk perhelatan yang kedua tahun ini. Tajuk Trajectory terbilang luas sebab berangkat dari pembacaan atas konteks sosio-kultural dan corak seni rupa Sulawesi Selatan dengan cara yang sangat umum. Kendati begitu, ada temuan-temuan menarik dalam kerangka pembacaan awal tersebut, remah-remah yang belum sempat dipungut pada perhelatan sebelumnya, yakni kemaritiman.

 

PEMBICARAAN tentang budaya maritim di Sulawesi Selatan hampir tidak pernah dikaitkan dengan praktik seni yang dilakukan masyarakat setempat. Paling banter, gagasan kemaritiman itu sekadar dilihat dari segi ekspresi artistik, pada lukisan-lukisan bercorak dekoratif atau realis tentang laut dan kapal Pinisi. Padahal, terlalu banyak potensi lain yang memungkinkan untuk kita baca bersama.

Ini dapat kita saksikan ketika Parietal Art berupa 12 karya hand stencil dan lukisan babi-rusa di Leang-Leang ramai dibicarakan, orang hanya fokus pada usianya yang jauh lebih tua dari temuan serupa di Prancis dan Spanyol. Perbincangan itu melewatkan fakta bahwa gua karts itu dahulunya juga berbatasan langsung dengan bibir pantai. Kiranya tidak bisa diabaikan bahwa mereka hidup sebagai masyarakat pesisir, yang sehari-harinya menatap dan hidup dari laut. Tumpukan kulit kerang yang habis dikonsumsi tidak berserak begitu saja, ditumpuk di tempat tertentu, dan dalam lintasan waktu yang panjang, telah memalih menjadi semacam instalasi purba yang estetis.

Begitu juga saat membicarakan catatan sejarah kawasan ini, seperti masa keemasan Kerajaan Gowa-Tallo, salah satu kerajaan maritim terbesar yang berkembang mulai awal abad ke-16, kita bisa membayangkan betapa temuan benda penting sangat dapat kita katakan hubungan antara seni dan pengetahuan.

Ketika Raja Tumapa’risi Kallonna memerintah masa abad itu, ia membuat jabatan non-teritorial pertama di kerajaan ini bernama sabarana (syahbandar) yang disandang oleh Daeng Pamatte. Kronik Gowa melekatkan penemu aksara Makassar ke sosok ini meski kemungkinan besar sudah ada seratusan tahun sebelumnya, inilah pertama kali negara menggunakannya (Gibson, 197:2009). Masa setelahnya, Tunipallangga (1548-1565), inovasi tombak dan perisai yang lebih ringan dan produksi bubuk mesiu serta pembuatan peluru untuk senapan pun berlangsung (Ibid.). Abad ke-17 kemudian Karaeng Pattingalloang dan Amanna Gappa, dua orang cerdik pandai berwatak kosmopolit, hidup.

Pattingalloang adalah sosok di balik kejayaan Gowa-Tallo saat itu, ahli diplomasi, dan konsolidator ulung yang tergila-gila pada ilmu pengetahuan—memesan barang langka antara lain bola dunia, peta dunia, hingga teropong bintang (Lombard dalam Arsuka, 2000). Sementara Amanna Gappa, seorang matoa Wajo di Kerajaan Gowa-Tallo, menjadi perumus undang-undang kelautan yang tersohor, Ade’ Allopi-Loping Ribicaranna Pa’balu’e atau Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa (O. L. Tobing, 1961).

Dari contoh dan catatan sejarah di atas dapat kita katakan bahwa nilai-nilai kreativitas, sebagai tempias dari pertukaran pengetahuan antar-manusia dari kawasan yang berbeda, mendorong kemajuan dan kematangan peradaban di kawasan tertentu, melalui dunia maritim.

 

DENGAN demikian, seni yang bersenyawa dengan kemaritiman tidak bisa lagi dibatasi dengan sekadar merujuk pada bentuk-bentuk visual tertentu. Yang juga sangat pokok adalah ‘nalar’-nya, perihal bagaimana isu kemaritiman ditempatkan sebagai bingkai dalam proses kreatif seniman agar tidak terjebak pada eksotisasi bentuk visual. Pada titik inilah kemaritiman akan berusaha ditempatkan sebagai tema dalam perhelatan Makassar Biennale II. Melalui perhelatan ini, beragam kemungkinan dalam isu kemaritiman akan dieksplorasi dengan pendekatan seni.

Mengangkat kemaritiman sebagai tema besar kegiatan kiranya juga menjadi daya tawar tersendiri, di samping karena posisi Makassar sebagai kota pelabuhan yang tumbuh pada dua masa perdagangan utama di Nusantara, yakni perdagangan rempah-rempah dan kurun perdagangan dan industri teripang yang menjadikan bandar ini sebagai pusatnya. Hingga kini pun, Makassar sebagai bandar menjadi pintu penghubung yang strategis dalam konteks Indonesia mutakhir.

Tema ini juga sangat beririsan dengan salah satu visi dari kabinet Jokowi-JK yang hendak mengembalikan marwah Indonesia sebagai poros maritim dunia. Titik berangkatnya juga serupa, yakni kegelisahan atas sikap manusia Indonesia yang condong memunggungi lautan dan dipingit di pedalaman selama beratus tahun. Padahal, 160 juta penduduk Indonesia (60 persen) berdiam di kawasan pesisir. Perhelatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan visi tersebut.

No Comments

Post A Comment