Makassar Biennale 2017 | Pra – Event Makassar Biennale 2017: Residensi Seniman
15832
post-template-default,single,single-post,postid-15832,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Pra – Event Makassar Biennale 2017: Residensi Seniman

Pra – Event Makassar Biennale 2017: Residensi Seniman

 

Salah satu tulisan tentang kegiatan Pra-Event Makassar Biennale 2017 yang dimuat di makassar.tribunnews.com tanggal 26 Oktober 2017. Tulisan asli dapat diakses di sini. 

 


Demi Festival Biennale, Seniman Teater dan Komikus Ini Lakukan Riset Karya di Bulukumba

Laporan Wartawan TribunBulukumba.com, Firki Arisandi

TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU – Seniman teater dan penggiat sinematografi asal Yogyakarta, Andy Seno Aji dan komikus asal Banda Aceh, Cut Putri, melakukan riset karya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), Selasa (25/10/2017).

Hasil riset keduanya nanti akan ditampilkan pada festival berskala Internasional, yaitu Festival Biennale yang diselenggarakan di Makassar, November mendatang.

Di Bulukumba, Andy Seno Aji berkolaborasi dengan Sanggar Seni Alfarabi untuk menciptakan karya yang mereka namakan ‘Perempuan Bantaran Sungai’.

“Kami bersama Andy Seno Aji akan membuat karya seni yang akan ditampilkan di Festival Biennale Makassar 2017,” tutur Kepala Suku Sanggar Seni Alfarabi, Ichdar.

Sedangkan Cut Putri akan mengangkat kisah Maulana Khatib Bungsu atau yang terkenal dengan nama Dato Tiro, tokoh yang merupakan penyebar agama Islam pertama di Bulukumba.

“Sengaja saya ingin menelusuri jejak Dato Tiro ini karena dari referensi yang ada, Dato Tiro ini berasal dari Aceh, sehingga saya merasa ada ikatan tersendiri,” tutur Cut Putri.

Festival La Biennale pertama kali diadakan di Venesia pada tahun 1895. Sementara di Indonesia baru di 2015 dan di gelar dua tahun sekali di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Sumatera, dan Makassar.(*)

No Comments

Post A Comment