Makassar Biennale 2017 | Trajectory: A MODERN GODS DELUSION
15558
post-template-default,single,single-post,postid-15558,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Trajectory: A MODERN GODS DELUSION

Trajectory: A MODERN GODS DELUSION

Review Modern God Delusion, karya seni instalasi di Makassar Biennale 2015 oleh Randie Akbar (@randakbar), di Revius Webzine, 26 Oktober 2015. Surel aslinya bisa diklik disini: http://revi.us/a-modern-gods-delusion/.


A MODERN GODS DELUSION 
KONSEP KARYA INSTALASI DARI STOFO X PENAHITAM MAKASSAR UNTUK MAKASSAR BIENNALE

La Grotte Chauvet, sebuah gua arkeologi yang ditemukan di Lembah Ardeche, Perancis Tenggara. Gua tersebut menyimpan lebih dari seribu lukisan dinding yang hampir memenuhi setiap sudut gua yang berukuran 8.500 meter persegi. Berumur 36.000 tahun dan menyimpan berbagai lukisan berbentuk hewan seperti singa, rusa, bison, kuda, mamooth, atau gambaran tentang proses perburuan yang dilakukan manusia. Lukisan-lukisan ini diduga sebagai ciptaan seni tertua dan merupakan kebudayaan modern pertama di Eropa.

Lukisan seperti itu juga terdapat di Gua Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di Leang-Leang, kita bisa menjumpai karya seni tua berupa lukisan tangan, babi hutan, ikan, dan bentuk manusia di dinding gua. BBC, sebuah lembaga yang bergerak di bidang seni, sains, dan budaya menyebut karya ini sebagai lukisan stencil tertua di dunia. Para ahli seni dan geologi menjelaskan bahwa manusia pada masa itu melukiskan hewan dan proses perburuan karena telah mengenal waktu luang. Hal tersebut digunakan untuk meninggalkan jejak atau mendokumentasikan ingatan mereka ke dalam sebuah karya seni lukis. Karya itu menggambarkan aktivitas harian, baik dalam proses berburu atau apapun yang mampu mereka lihat dan rekam dalam ingatan.

Peradaban manusia membawa perubahan yang kompleks pada perkembangan seni. Sejak manusia masih hidup dengan pola berburu-meramu manusia telah memproduksi karya seni dalam berbagai bentuk dan cara. Ragam seni tersebut sebagai penanda yang menggambarkan kondisi kehidupan masa lampau. Manusia merepropduksi seni sebagai bentuk pure dari eksistensi diri. Kita tidak akan pernah tahu jika ada manusia yang pernah hidup di gua tersebut tanpa adanya lukisan-lukisan itu.

Di era modern, seni bukan lagi merupakan bentuk dari ekspresi aktivitas keseharian manusia. Akan tetapi, lebih dimaknai sebagai produk yang bisa dikonsumsi. Kemajuan teknologi membuat seni bisa diproduksi secara massal. Di era modern, seni tidak lagi dalam bentuk konvensional seperti seni pahat, lukis, patung, dll. Seni sudah hadir dalam beragam bentuk. Salah satunya adalah industri periklanan di mana karya seni dibuat untuk tujuan dari kepentingan produk tertentu.

Manusia modern mereproduksi seni dalam bentuk produk. Produk dikonstruksi sedemikian rupa melalui industri periklanan dan melahirkan citra. Sesuatu yang hadir bersamaan dengan lahirnya budaya konsumtif. Manusia modern tiba-tiba membutuhkan sebuah produk yang sebenarnya mereka tidak butuh. Jika dulu kebutuhan dasar manusia adalah sandang, pangan, dan papan, manusia modern melangkah setahap lebih jauh dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Mereka tidak cukup lagi dengan pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs), tapi mereka membutuhkan citra.

***

Berkunjunglah ke Lakeside GTC pada tanggal 17-31 Oktober 2015. Di depan pintu mall anda akan disambut oleh sebuah robot. Tertunduk lesu dengan posisi duduk, seakan letih setelah melakukan sebuah pekerjaan berat. Semprotan cat stencil warna-warni memenuhi sekujur tubuhnya yang berkarat. Instalasi robot tersebut dikerjakan selama seminggu oleh Komunitas Penahitam dan Stofo Makassar. Setiap malam selama seminggu mereka begadang untuk menyelesaikan karya itu. Beberapa diantaranya menyempatkan menginap di GTC. Memotong seng, menyambung dan mengaitkan kawat menjadi kerjaan sehari-hari. Meskipun latar belakang mereka bukan di bidang pertukangan, karya yang juga bagian dari Biennale itu bisa diselesaikan tepat waktu.

A Modern Gods Delusion, sebuah karya seni instalasi robot berukuran 4×7 meter dengan medium seng bekas dan kombinasi teknik stencil. Kombinasi itu mengadaptasi lukisan tangan yang ada di Gua Leang-leang. Tekstur karat dari seng mewakili tekstur dinding gua. Semprotan cat stencil warna-warni plesetan brand atau merk mewakili produk-produk konsumeristik. Instalasi itu merupakan kritik manusia modern terhadap pembentukan citra. Manusia modern diibaratkan sebagai sebuah robot yang tak henti mencari citra demi eksistensi diri.

Manusia modern tidak lagi cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan mendasar (basic needs). Mereka mengonsumsi citra sebagai pembentuk identitas diri, mengganti kebutuhan (needs) menjadi keinginan (want). Ponsel tidak lagi bersifat fungsional sebagai alat komunikasi semata. Ponsel berubah menjadi bagian dari gaya hidup, mode, serta pembentukan citra diri. Kamu tidak tampil keren tanpa memakai sepatu merk A atau B atau mendapat citra kampungan jika tidak makan di restoran cepat saji merk A atau B, dan seterusnya dan seterusnya. Mereka tidak lagi mengonsumsi untuk urusan perut semata tapi demi citra sebagai si A atau si B.

No Comments

Post A Comment