Makassar Biennale 2017 | Trajectory! Kilas Balik Catatan Tema Makassar Biennale#1 – 2015
15554
post-template-default,single,single-post,postid-15554,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Trajectory! Kilas Balik Catatan Tema Makassar Biennale#1 – 2015

Trajectory! Kilas Balik Catatan Tema Makassar Biennale#1 – 2015

“The now global white cube certainly should not be supplanted by another model that will become the biennial standard […] the future of biennials is to be found in a sensitivity to how the coincidence of works of art and other conditions (temporal, geographic, historic, discursive, and institutional) locate a project and how that “location” can be used to articulate a project that is respectful of its artworks and speaks to its viewers.”

–Elena Filipovic, “The Global White Cube”. (Issue 22/April 2014).

 

Gagasan Makassar Biennale mengemuka tidak serta merta mengikuti tren menjamurnya fenomena biennale ataupun artfair di berbagai belahan dunia. Makassar Biennale digagas untuk memancangkan sebuah tonggak baru dalam perjalanan seni rupa di Makassar. Kota ini sudah berusia ratusan tahun. Dalam perjalanannya, kota ini pernah menjadi bandar niaga yang penting di timur, dengan warna dan kompleksitas masalahnya sendiri. Hal itulah yang setidaknya bisa dieksplorasi lewat perhelatan besar seni rupa,menggali seperti apa perjalanan seni rupa di Makassar hingga saat ini.

Mengapa biennale? Biennale dalam wacana seni rupa dunia telah menjadi satu capaian baru dan  berkembang menjadi identitas sebuah kota. Makassar dengan sejarahnya yang panjang membutuhkan sebuah penanda, sebuah tonggak baru untuk menandai babak baru dalam perjalanan seni rupanya. Meski begitu, “Biennale” dalam Makassar Biennale tidak berambisi untuk menjadi mega-eksebisi yang menawarkan euforia. Makassar Biennale akan menjadi ruang belajar melihat ulang perjalanan panjang seni rupa Makassar yang terbentang dari masa lalu hingga sekarang.

Momen penemuan lukisan gua Leang-leang sebagai lukisan tertua di dunia menjadi tonggak awal yang akan diurai. Melalui penemuan penting ini, sejarah seni rupa dunia atau bahkan peradaban manusia bisa jadi menemui titik balik. Tonggak lain yang perlu diurai melalui Makassar Biennale adalah sejarah kota Makassar itu sendiri. Kota Makassar merupakan bandar niaga yang penting di masa lalu.

Di sini, akulturasi budaya menjadi hal yang lumrah layaknya kota-kota pelabuhan di masa lalu. Akulturasi budaya yang dimulai dimasa itu sangat mungkin menyentuh wilayah seni rupa.Selama masa penjajahan Belanda maupun Jepang, seni rupa di Makassar dan Sulawesi Selatan juga mencatat beberapa tonggak penting. Kesimpulannya, seni rupa di Makassar tidak muncul dari langit begitu saja, tetapi dari proses perjumpaan pengetahuan dengan kawasan lain.

Setiap lini masa seni rupa Makassar punya alurnya sendiri, tetapi bersilang-sengkarut satu sama lain. Dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir, belum ada lagi catatan komprehensif perihal peristiwa seni rupa penting di Makassar. Cukup banyak peristiwa seni yang dihelat, terutama komunitas-komunitas seni independen. Belum lagi komunitas-komunitas kreatif yang bekerja dengan media baru tetapi “belum diakui” sebagai bagian dari varian seni visual. Komunitas yang cukup mapan masih cukup aktif beraktifitas. Di dalam institusi-institusi seni, seniman-seniman muda berbakat turut lahir dan rutin berkegiatan maupun berkarya, entah dengan atau tanpa dukungan kampus. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi penanda penting berdetaknya praktik seni rupa di Makassar.

Peristiwa seni, baik yang kecil maupun besar, merupakan jejak sejarah kesenirupaan di Makassar. Peristiwa-peristiwa itu perlu dibingkai, dibaca, dan ditafsir ulang. Ia adalah sumber pengetahuan yang layak digali, dieksplorasi terus-menerus tanpa harus selalu membebek pada konsep biennale arus utama. Boleh jadi, Makassar Biennale akan nampak “tertinggal” sebab didominasi karya-karya konvensional. Saat biennale-biennale di berbagai tempat sudah menyuguhkan seni berbasis komunitas, serba konseptual, partisipatif-kolaboratif, riuh dengan media-media baru, infrastruktur seni yang mendukung, Makassar Biennale niscaya akan menemukan coraknya sendiri. Melalui Makassar Biennale, berbagai kemungkinan baru dalam dunia seni rupa Makassar terbuka untuk dieksplorasi. Salah satu yang menarik adalah budaya maritim dan kaitannya dengan sejarah Makassar sebagai bandar niaga. Sejauh apa budaya kemaritiman memberi pengaruh pada perkembangan kesenian di kota ini? Jejak apa yang mungkin bisa digali? Adakah seni rupa berbasis maritim di wilayah ini?

Apa yang ada dan menubuh saat ini dalam kancah seni rupa Makassar tidak datang begitu saja. Ia terbentang dari sebuah jejak sejarah yang panjang dan garis edarnya sendiri. Untuk itulah, pada Makassar Biennale#1 ini mengangkat tajuk “Trajectory”, menilik jejak tonggak-tonggak seni rupa Makassar. Dengan tajuk ini kita akan melihat betapa setiap zaman punya nilainya sendiri, bergerak seiring dengan gerak manusia yang ada di dalamnya. Melalui tajuk ini juga kita akan menempatkan semua jejak itu sebagai sesuatu yang penting, elemen-elemen partikulir yang membentuk keberadaan praktik kesenian di Makassar dan Sulawesi Selatan hingga kini.

Pada akhirnya, Makassar Biennale merupakan upaya membangun kesadaran bersama untuk membangun “penanda kota” secara bersama-sama agar kota menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dengan warganya yang aktif, emansipatif, partisipatif merawat sebuah kota, sebuah propinsi, dan sebuah Indonesia.

No Comments

Post A Comment