Makassar Biennale 2017 | Trajectory: Memahami Sejarah Seni Rupa Lewat Analogi Lapisan Lempeng Bumi
15572
post-template-default,single,single-post,postid-15572,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Trajectory: Memahami Sejarah Seni Rupa Lewat Analogi Lapisan Lempeng Bumi

Trajectory: Memahami Sejarah Seni Rupa Lewat Analogi Lapisan Lempeng Bumi

Liputan GoSulsel.com tentang Simposium Makassar Biennale 2015. surel aslinya klik disini: http://gosulsel.com/lifestyle/21/10/2015/memahami-sejarah-seni-rupa-lewat-analogi-lapisan-lempeng-bumi/

 

Makassar, GoSulsel.com – Dalam Simposium Seni Rupa bertajuk “Dari Leang-Leang, Indonesia Membalik Sejarah” yang diadakan di Societeit de Harmonie, Rabu (21/10), muncul analogi yang membantu para pengunjung memahami sejarah seni rupa. Analogi itu dikemukakan oleh Iwan Sumantri, Dosen Arkeologi Universitas Hasanuddin.

Iwan yang lebih banyak mengkaji tentang sejarah kebudayaan material, mengemukakan tentang bagaimana pembentukan bumi.

“Saya tidak berbicara selayaknya seorang seniman karena saya seorang arkeolog. Yang pertama yang akan saya bicarakan yaitu bumi ini terbentuk dengan beberapa gejala alam. Gejala alam yang selalu terjadi yaitu gempa. Karena pergeseran lempeng yang ada di bawah kerak bumi. Jika lempeng ini terus bergerak, maka akan saling bertabrakan. Ada beberapa proses lainnya. Sejarah akan lahir dari sebuah proses yang panjang,” tutur Iwan, di tengah simposium.

Penuturan Iwan ditemalikan oleh Aminuddin TH Siregar yang juga didaulat sebagai pembicara. Ia mengetengahkan tentang sejarah seni rupa yang terjadi di Indonesia dan di luar negeri.

“Sekarang bagaimana kita bisa hubungkan dengan apa yang dikatakan Pak Iwan dengan yang ingin kita tulis dan dari mana mulainya. Nah, kalau Anda membuka-buka buku sejarah Indonesia–kalau Pak Iwan tadi mengatakan dengan analogi lempengannya yang berlapis-lapis–begitu pula juga dengan sejarah tentang seni rupa. Di Indonesia, seni rupa itu begitu luas dan kaya karena semakin Anda memasuki lapisan-lapisan, maka semakin banyak pola-pola yang Anda dapat. Dan di situlah kesenian dibagi-bagi. Ada seni rupa, musik, drama, dan lain-lain,” terang Aminuddin, Kurator Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung.

Para pengunjung yang datang di hari kedua Simposium Seni Rupa Makassar Biennale 2015 ini pun begitu bersemangat mendengarkan apa yang diutarakan kedua pembicara.

“Saya beruntung datang di sini karena obrolan dan pembahasan yang dibahas tadi begitu bagus. Karena ini menyangkut sejarah. Apalagi sejarah seni rupa ya,” ujar Supardi Haris, salah seorang pengunjung simposium.

No Comments

Post A Comment