Makassar Biennale 2017 | Trajectory: MENEGAKKAN TUSUK GIGI (Catatan Kecil tentang Proses Makassar Biennale 2015)
15595
post-template-default,single,single-post,postid-15595,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Trajectory: MENEGAKKAN TUSUK GIGI (Catatan Kecil tentang Proses Makassar Biennale 2015)

Trajectory: MENEGAKKAN TUSUK GIGI (Catatan Kecil tentang Proses Makassar Biennale 2015)

Tulisan ini adalah salah satu catatan tentang proses Makassar Biennale yang pertama di tahun 2015, oleh Muhaimin Zulhair (@zullm2n). Ditayangkan di webzine revi.us . Tautan lengkapnya bisa di klik disini: http://revi.us/menegakkan-tusuk-gigi/


MENEGAKKAN TUSUK GIGI –  Catatan Kecil Tentang Proses MAKASSAR BIENNALE 2015

Biennale. Awal saya mengetahui kata ini, tercantol dengan nama Ibukota yaitu Jakarta Biennale 2015 yang akan dilaksanakan akhir tahun ini (desember 2015) sampai awal tahun depan (januari 2016) di beberapa tempat yang tersebar di Jakarta (gedung tua, Sarinah, dll) yang bertema “Maju Kena Mundur Kena”. Mirip judul sebuah film Warkop DKI. Dan tentu tema JB itu berkonteks historis-sosio-politico-kultural.

Hal yang membahagiakan bahwa beberapa nama yang cukup familiar memainkan peran yang penting dalam acara itu. Seperti Anwar Jimpe Rahman (Kurator JB 2015), Qui-qui (artist JB 2015), Cora (artist JB 2015), Firman Djamil (artist JB 2015), Reza Enem/Gitaris TOD (artist JB 2015) yang berjejaring dengan aktor ibukota, penjaringan, juga daerah lain seperti Nobodycorp (Jogja) serta seniman/artist internasional. Hal ini menandakan adanya ketersambungan dari rajutan antara aktor-aktor ibukota dan daerah, yang pada akhirnya sedikit demi sedikit menggerus/meminimalisasi sekat nasional – daerah, inferior – superior, senior – junior dan yang lebih luas lagi internasional – nasional. Suatu keterkikisan mental dan prilaku poskolonialisme.

Secara literal kata Biennial berarti sesuatu yang terjadi dua tahun sekali. Kata ini diturunkan dari bahasa Latin yaitu Biennium. Kalau kata Triennials berarti tiga tahun sekali, Quadriennials berarti empat tahun sekali dan seterusnya. Jadi misalnya anda memprogramkan “Putus Biennial” berarti anda memprogramkan untuk putus dengan pasangan dua tahun sekali. Tambahan huruf e sendiri berasal dari bahasa Italia, Biennale.

Rekam sejarah mencatat, Biennial pertama kali diadakan di Kota Venice, Italia pada bulan April 1885 (abad 19) dan setelahnya ada Corcoran Biennial pada 1907 dan sebagainya. Biennial Event tidak tegak di ruang vakum. Ia melekat dengan konteks sosial, ekonomi, politik, dan budaya pada zamannya ataupun maju-mundur. Dan boleh jadi internasional atau domestik. Misalnya, Biennial pertama di Venezia pada abad 19, yang pada abad itu bermunculan kota-kota besar yang notabene modern di Eropa, maraknya industrialisasi yang oleh karenanya kolonialisasi, bertumbuh dan membesarnya kelas menengah, populasi urban meningkat drastis, tekanan kota bertambah dan sebagainya. Italia sendiri pada waktu Biennial pertama tersebut memiliki beberapa koloni di Afrika, belum lagi jika dihitung negara-negara lain di Eropa yang memiliki daerah koloni tersebar di berbagai belahan dunia.

Setelahnya, ekonomi-politik Internasional tetap menyelimuti perkembangan Biennial ini mulai dari munculnya fasisme, krisis ekonomi dunia, perang dunia I dan II, perang dingin, berakhirnya perang dingin 1989/1990, globalisasi, dan sekarang ini perubahan drastis bidang IT. Biennial kontemporer tetap berarena dalam lokasi urban sebagai medan pertempuran baik ideasional maupun materil. Terus mengirimkan sinyal-sinyal pesan lebih melalui seni. Misalnya Biennial 2006 di Singapura yang bertema “Belief” yang mengalamatkan struktur multi-religius kota Singapura dan di saat bersamaan mengkritik kekuasaan “Uang” memanfaatkan momen yang bertepatan dengan konferensi IMF.

Makassar Biennale

Kembali ke domestik, Makassar Biennale pertama kali saya ketahui di Kampung Buku saat mulai dihembuskan angin-angin informasi bahwa Biennale akan terjadi di kota ini. Tentunya, hal tersebut menggembirakan sekaligus menyegarkan, ada pertarungan kreatif lagi bakalan terjadi di kota ini!

Pada awal Juni 2015 ketika menemani tim riset Koalisi Seni Indonesia di Makassar yang lagi melakukan riset seni, saya berkesempatan berkenalan wajah untuk pertama kalinya dengan Abi, salah satu tokoh utama man behind the scene of Makassar Binneale 2015 di Fort Rotterdam dalam seri acara MIWF. Tidak lama berselang Pak Charles Esche, Nirwan Ahmad Arsuka, dan seorang dosen Fakultas Sastra Unhas berbicara dalam seminar internasional di Aula Prof. Mattulada Unhas pada 5 Juni 2015 sebagai seri acara JB 2015 bertajuk kuliah umum.

Dari pemaparan Esche (pria kelahiran Skotlandia ini), saya mulai bisa menyusun perlahan puzzle-puzzle acara Biennale ini yang tidak lagi abstrak. Melalui presentasi Nirwan yang kuat di bidang sains dan sejarah, saya mulai menemukan benang merah akar sejarah seni dan kelanjutan lintas zaman dengan pergelaran karya seni semisal Makassar Biennale terutama diskusi tentang Lukisan Praserajah di Leang-leang. Yang menurut diskusi tersebut usianya lebih tua dibandingkan penemuan serupa di Eropa. Tentunya selain itu akar sejarah literasi juga nampak di buku Lagaligo.

Kualitas diskusi di kolong gedung Fakultas Sastra tersebut memang sudah tersohor sejak lama misalnya waktu masih kuliah dulu. Pada saat itu kualitas diskusi sekali lagi begitu terasa. Diskusi yang melibatkan pemateri yang awalnya dalam ruang seminar berpindah lebih cair dan luas, terlibat aktif diskusi dosen-dosen, senior-senior yang lain dan juga ada Abi dari Makassar Biennale 2015. Satu pernyataan yang sempat saya ingat ketika Abi meminta pendapat Nirwan yang dari pemaparan terbayang sekelumit masalah yang pastinya berat dan besar. “kasih jadi saja,” saran Nirwan.

Ide-ide tentang perhelatan MB 2015 datang dari pergumulan teman-teman seniman di Jogja yang sedang melanjutkan studi. Jogja sekali lagi memberikan inspirasi tetapi bukan kiblat! Argumen tersebut sering saya dengarkan ihwal ide-ide awal para penggagas acara ini. Penuh halang-rintang yang begitu tinggi dan banyak, medan pertempuran terbuka di mana-mana dan gesekan ke sana ke mari mewarnai proses Makassar Biennale 2015.

Tanahindie saat itu dipercaya menggawangi sekolah menulis untuk event Makassar Biennale 2015 tersebut bertajuk Kritik Seni. Suatu kepercayaan yang baik dalam hubungan antar komunitas. Para penulis juga semakin hari semakin tajam. Saya tidak banyak terlibat dalam proses itu. Misalnya awal penggodokan, saya meminta izin untuk membantu Kedai Buku Jenny di acara Musik Hutan. Dan setelahnya saya jarang aktif lagi, apalagi akhir-akhir ini semakin sering intens di tempat lain dikarenakan pengaisan rejeki untuk mengisi kuota data. Untuk hal itu, melalui tulisan ini, saya meminta maaf.

Malam Pembukaan Makassar Biennale 2015

Tadi malam, akhirnya proses berliku-liku tersebut menemui hari pembukaan Makassar Biennale 2015 di Societeit de Harmonie. Tentunya ada kegembiraan luar biasa bagi para pengusungnya dan tentunya juga kritik beruntun menyertainya. Mungkin dua hal tersebut suatu hukum alam sampai bumi berakhir mengenaskan serta bukan sesuatu yang aneh bin negatif. Karya seni dipamerkan, seniman lokal mendapatkan ruang, acara berjalan, ide-ide terjewantahkan, opini bermunculan, penikmat seni menikmati, kritikus bersuara, panitia bekerja merupakan komposit-komposit perhelatan ini. Sambil bersulang kopi hitam (tidak tahu siapa yang memesan milo dingin) di samping Societeit de Harmonie Gedung Kesenian Makassar, kami merayakannya.

Beberapa karya seni yang dipamerkan dalam Makassar Biennale 2015 di Societeit de Harmonie. ( Dok. Muhaimin Zulhair )

Saya tidak terlalu tahu menafsirkan karya, semisal contoh yang diberikan Esche ketika presentasi tentang seniman yang mengirimkan dan meletakkan sampah dari Eropa ke lokasi pameran seni di Korea (lupa antara Gwangju atau Busan Biennale) itu maknanya apa. Sependek penafsiran saya mungkin hal itu ingin menggambarkan Eropa selalu mengirimkan sampah ke Timur atau Timur jadi tempat sampah. Tetapi, jika hanya mengirimkan sampah dan meletakkannya begitu saja sudah menjadi karya seni apalagi karya yang betul-betul dibuat siang dan malam. Walaupun saya tidak tahu banyak tentang seni tetapi saya suka mengunjungi pameran seni, saya menikmati terutama seni instalasi seperti yang sering saya liat di pameran sewaktu kuliah di Jogja beberapa tahun lalu. Hak saya sebagai warga biasa yaitu menikmati seni terlebih gratis seperti menghirup udara. Makassar Art Gallery yang berada di fasilitas publik juga menambah ruang itu.

Sekarang tak perlu jauh ke kota lain untuk melihat karya seni non-kanvas misalnya. Sekarang teman-teman pengusung, penggiat dan seniman Makassar Biennale 2015 telah merealisasikan idenya, telah membuka ruang, dan memamerkan karya, maka kewajiban saya ialah mengunjunginya dan menunaikan hak saya bersamaan dengan itu.

Perselisihan terkait ide, anggaran, organisasi, hirarki, senior-junior, inside-outside serta institusi sebaiknya menjadi dialektika yang melahirkan ruang yang segar dalam nafas dialog zaman. Saya setuju dengan pernyataan S.B.Vogel, “setiap edisi perhelatan Biennial mengsinyalkan sebuah proses perubahan yang kemudian diikuti transformasi sosial yang dramatis.” Minimal perubahan dari dialektika para pihak yang berada dikonstalasi lingkar isu-isu ini. Saat ini saya sedang mengamati semua elemen ini dalam saat yang bersamaan, mengamati karya seni, proses, dialektika dan transformasinya.

Jaman dan ruang berkembang serta berubah melalui dialektika. Perubahan tidak bisa hadir dari kata “iya” dan manut saja. Idiosinkretik anak muda generasi ini melahirkan udara segar yang kiranya dapat membantu menambahkan jiwa pada kota melalui seni. Apalagi sejarah menjelaskan kota kita ini Kosmopolitan sejak jaman kerajaan. Meskipun dalam kurikulum institusi pendidikan kontemporer, seni mengalami pengerdilan. Jelas sekali lagi jelas Makassar Biennale 2015 bukan hanya pergelaran seni semata, ia melebihi itu. Semoga semua pihak menyadarinya terutama para panitia. Harapan saya dan semoga juga kita, eksistensi acara ini terus tercipta di masa depan.

Sebagai usulan ke depan, sekiranya lebih banyak mengangkat tema-tema ekonomi, sosial, politik baik skala kota, nasional, atau internasional mengingat sejarah event ini yang melengket dengan isu-isu tersebut selain estetika dan aliran seni itu sendiri.

Event dan membicarakan seni selalu mempunyai keindahannya sendiri. Sejenak menyelamatkan diri dari gerutu urban misalnya kemacetan yang membosankan yang tampil banyak dalam narasi sehari-hari padahal diskusi-diskusi dan opini perkiraan Makassar akan macet seperti saat ini telah terjadi satu dekade yang lalu. Sekiranya ini pendokumentasian dari mata saya sebelum semuanya menjadi artefak kota.

Kembali ke judul tulisan ini “Menegakkan Tusuk Gigi”, tentunya imajinasi yang rumit ketika satu tusuk gigi kita tegakkan sendirian. Tetapi ketika ia mempunyai wadah – ruang berpijak semisal gabus maka tentunya hal tersebut mudah dilakukan. Mestinya kita bergembira, bukan? Overall, Saya pribadi angkat topi untuk semuanya. []

*Penyebutan nama-nama di atas bukan untuk glorifikasi tetapi untuk menghadirkan subjek. Foto dari Herman Pawellangi berasal dari karya instalasi berjudul ” A Modern Gods Delusion” yang merupakan karya teman-teman Penahitam dan STOFO untuk Makassar Biennale 2015 di Pasar Seni Parakita – Lakeside Mall GTC Makassar.

Jangan sampai lupa, ramaikan Makassar Biennale 2015 hingga 31 Oktober 2015 mendatang!

No Comments

Post A Comment