MB2023 | 75 Menit Bicara Fotografi Bersama Whens Tebay, Koordinator Papuansphoto
18211
post-template-default,single,single-post,postid-18211,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
 

75 Menit Bicara Fotografi Bersama Whens Tebay, Koordinator Papuansphoto

Kalau kamu punya akun Facebook, coba ketik kata kunci “PAPUANSPHOTO I Karya Anak Papua” pada kolom pencarian. Dengan segera, kamu akan diarahkan ke sebuah grup publik dengan 67.433 anggota di dalamnya. Grup tersebut adalah tempat berbagi hasil karya anak-anak Papua di bidang fotografi. 

Pada bagian paling atas halaman grup, terdapat beberapa postingan sematan, salah satunya tentang aturan main dalam grup yang mengikat setiap anggotanya. Ia bak AD/ART dalam sebuah organisasi. Kalau terus scroll ke bawah, kamu akan menikmati foto-foto hasil karya anggota grup dengan beragam kategori foto seperti “Landscape“, “Fashion Photography“, “Couple” “Waterfall Photography“, “Human Interest“, “Ethnic Photography”, “Panning”, dan lainnya.

Pada Workshop Fotografi yang berlangsung 29 Oktober 2021 di Aula Dinas PU Nabire dalam gelaran MB 2021 Nabire, kami mengundang Whens Tebay, pendiri sekaligus koordinator umum Papuansphoto. Selama kurang lebih tujuh puluh lima menit, Whens berbagi cerita tentang komunitas Papuansphoto.

“Teman-teman, sebelum sa bercerita lebih jauh, kalau sa bicara begini tanpa mik bagaimana? Atau sa pakai mik saja?” tanya Whens kepada peserta workshop yang duduk berderet di hadapannya.  “Ah, pakai mik saja,” jawab beberapa peserta. Whens lantas menggunakan mik untuk berbicara. Ia juga mengharapkan adanya sebuah diskusi yang dua arah antara ia dan para peserta. “Sa senang kalau pas sa lagi bercerita, kita ada diskusi. Jadi teman-teman tidak menjadi pendengar saja. Saat sa bercerita, teman-teman boleh potong untuk menanggapi atau bertanya. Tapi itu tergantung moderator nanti”.

Whens awalnya adalah anggota aktif di Komunitas Sastra Papua (KoSaPa) dan Gerakan Papua Mengajar (GPM) di Jayapura, Papua. “Saat itu tahun 2014, dua komunitas tempat sa bergabung ini fokusnya ke membaca dan menulis. Sedangkan sa pu minat lebih ke fotografi. Sa suka memotret. Sa tidak terlalu suka membaca dan menulis,” kenang Whens. Ia lalu didorong beberapa kawannya, Hengki Yeimo, Aleks Giyai, Arnold Belau dan Andy Tagihuma untuk membentuk satu komunitas fotografi, yang kemudian dikenal dengan Papuansphoto.

Dan saat itu pula, ada event perlombaan karya fotografi yang diadakan oleh Kementrian Kehutanan di Jayapura. Whens yang kala itu hanya memiliki kamera pocket dengan pengetahuan yang masih minim, ikut perlombaan tersebut. Hasilnya, ia mendapatkan juara tiga. “Sa tidak sangka, dapat juara tiga. Juara satu orang dari Kemenhut sendiri, juara dua kawan wartawan di Cenderawasih Pos. Antara percaya dan tidak percaya, karena saat itu sa ikut lomba cuma modal nekat,” katanya.

Pengalaman tersebut rupanya yang memacu pria kelahiran 1991 asal Mauwa, kampung di Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai, yang lahir di Wamena ini untuk lebih semangat dalam mewujudkan mimpinya.

Sejak dibentuk pada 18 Oktober 2014, Komunitas Papuansphoto terus memperkuat kuda-kudanya di pusat, dan melebarkan sayapnya ke beberapa kota di tanah Papua. Pusatnya di Kota Jayapura, ibu kota provinsi Papua. Sementara untuk cabang-cabangnya atau simpul regional, berada di Tanah Merah, Yahukimo, Wamena, Lani Jaya, Tolikara, Puncak, Biak, Supiori, Manokwari, dan Sorong. “Dalam waktu dekat ini, akan ada cabangnya di wilayah Meepago, Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai, yang masuk melalui Nabire. “Mungkin nanti berpusat di Nabire. Di Nabire dulu kita permantap, setelah itu baru merambah ke Dogiyai, Deiyai, dan Paniai.” Tebai menjelaskan.

Berbagai pelatihan untuk peningkatan kapasitas para anggota Papuansphoto juga dilakukan secara tematik. Baik di pusat maupun di tingkat simpul regional. Beberapa jenis foto yang sering dipraktekkan adalah  foto model, human interest, dan street hunting. Mereka beberapa kali mengadakan pameran foto di Kantor Gubernur, Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP), Kantor Dinas Kesehatan, hingga pameran foto di bawah jembatan merah Youtefa. Sering juga mengadakan agenda berupa hunting. Mereka juga memberikan pembekalan fotografi jurnalistik bagi mahasiswa magang Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Jayapura. Waktu itu berkolaborasi dengan komunitas lain untuk berkampanye tentang penyelamatan lingkungan melalui kegiatan fotografi [1], dan masih banyak kegiatan seru lainya. 

Perekrutan anggota baru di Papuansphoto, kata Whens, tidak terlampau formal dan harus mengacu standar operasional prosedur (SOP) tertentu, atau ujuk-ujuk menyodorkan tata-tertib komunitas yang mesti dipatuhi, seperti di kebanyakan komunitas/organisasi. Teman-teman Papuansphoto dengan terbuka menerima siapapun yang ingin bergabung, asal punya kemauan belajar yang tinggi dan bisa menyesuaikan diri.

“Selama beberapa waktu mereka akan bergabung, amati aturan main kami, kalau tertarik menjadi anggota tetap, itu baru kami perkenalkan ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati untuk diikuti. Kalau kemudian mereka tidak tertarik karena tidak sesuai mood mereka, tidak apa-apa juga. Itu hak mereka,” jelas Whens. Jadi, ibaratnya itu, “Orang ambil pasir, lalu diayak, yang baik akan lolos, yang tidak baik akan tertinggal.” tambahnya.

Dalam sesi tanya jawab, Yoyok, peserta diskusi, menanyakan dua hal. Pertama, menurut Whens, sebagai orang yang cukup lama bergelut di bidang fotografi, apa kriteria sebuah foto dikatakan baik/indah? Kedua, bagaimana tanggapan Whens soal adanya aplikasi-aplikasi pengedit foto di smartphone seperti FaceApp, yang dengan berbagai fitur di dalamnya, bisa mengubah wajah seseorang jauh lebih berbeda dari aslinya, yakni jadi lebih putih atau mulus, misalnya? Pertanyaan pertama dijawab Whens dengan sebuah perumpamaan.

“Setiap orang itu pada dasarnya punya selera yang berbeda-beda, yang didasari dengan alasan-alasan tertentu. Misalnya sa suka makan ubi. Ko sebelah suka makan nasi. Atau Roberta [salah satu peserta] suka makan Papeda. Begitu juga cara orang melihat dan memaknai sebuah foto. Foto yang baik menurut A belum tentu baik menurut B. Itu yang pertama. Yang berikut itu, untuk menilai sebuah gambar, kita harus lihat komposisinya. Dari mulai angle atau sudut pengambilan sebuah foto, pencahayaan, kombinasi warna, dan seterusnya,” ujarnya. Ia juga menyoroti tentang proses editing setelah pemotretan. Menurutnya, editing memang penting, tetapi “haram” jika berlebihan. 

“Saya tidak suka melihat sebuah foto diedit secara berlebihan. Contohnya daun, yang diedit sampai terlalu hijau. Okelah itu selera yang mengedit, karena yang dia mau mungkin seperti itu, tetapi menurut saya merusak sebuah karya yang asli. ‘Kan akhirnya yang asli hilang. Yang ada adalah yang sudah ditambah-kurangkan,” ucap Whens, yang menamatkan perguruan tingginya di jurusan Hubungan Internasional Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) pada 2014.

Menanggapi pertanyaan kedua dari Yoyok, Whens menjelaskan bahwa hal itu sering didiskusikan dan menjadi perdebatan Papuansphoto bersama kawan-kawannya dari Komunitas Balobe Fotografi (BGP), LOOR Komunitas Fotografi Jayapura, dan Komunitas Kelas Pagi. Pada prinsipnya, mereka tidak setuju dengan adanya aplikasi-aplikasi yang, mereka beri istilah “aplikasi-aplikasi cari gampang” itu. Pasalnya, aplikasi-aplikasi yang dipakai kadang mereduksi keotentikan foto sebagai sebuah karya. Dengan adanya aplikasi seperti FaceApp, InstaBeautyMakeup Selfie Cam, Sweet Camera, nilai seni yang seharusnya dikerjakan/dimaksimalkan oleh seorang fotografer dengan penuh perhitungan dan ketepatan justru kerap hilang. 

“Banyak teman-teman, terutama perempuan, yang sering foto wajah mereka pakai kamera biasa, kemudian editing pakai aplikasi edit wajah glowing. Hasilnya wajah lebih cerah, halus, dan lebih memukau. Padahal kalau ketemu langsung, ‘ado, kaka, minta maaf’. Hahaha.. Bukan bermaksud menyindir pihak tertentu. Ini realita yang sa bicara,” jelas Whens. Fenomena penggunaan aplikasi FaceApp, Glow Ap Challenge, dan semacamnya demi hasil wajah yang kinclong tampaknya tidak hanya ditentang oleh para fotografer seperti Whens. Kalangan aktivis perempuan pun menentangnya karena dianggap sebagai bentuk pelanggengan standardisasi kecantikan. Bahwa yang cantik adalah yang berkulit cerah, yang cantik adalah yang berkulit mulus, dan seterusnya.

Whens juga menceritakan kendala-kendala yang kerap dihadapi oleh kawan-kawan di komunitas. Pertama, ketika memotret kegiatan aksi demonstrasi di lapangan. “Seorang fotografer harus bisa menjaga jarak dari dua kubu di lapangan, baik aparat maupun massa aksi. Karena ketika situasi chaos misalnya, fotografer dan wartawan sering jadi korban. Dorang main hantam saja tanpa pikir-pikir. Ko wartawan ka, fotografer ka, yang hampir selalu terjadi adalah peralatan berupa kamera dirampas atau dirusak karena dicurigai. Karena itu, ketika mau hunting di suatu aksi massa, harus bisa menjaga jarak, kenakan tanda pengenal kalau ada, dan minimal fotografer harus kenal baik aparat dan massa aksi di lapangan,” jelas Whens.

Kendala selanjutnya yang kerap dialami para fotografer adalah ketika berhadapan dengan mama-mama pedagang di Pasar. Whens berujar, pernah satu kali, ia diajak almarhum Robert Jitmau, pejuang pasar Mama-Mama Papua yang meninggal dunia setelah ditabrak di jalan Ring Road, Kelurahan Hamadi, Kota Jayapura pada 20 Mei 2016 lalu untuk mendokumentasikan kondisi pasar Mama-mama Papua [2]. 

“Saat itu pasar di sana belum jadi permanen seperti sekarang. Masih pakai tenda. Tiba-tiba ada satu mama pasar, sebut saja Mama Tina, yang rampas sa punya kamera dan mau banting. Sa kaget, lalu bilang, ‘mama, itu kamera sa beli mahal. Mama jangan begitu,” kisah Whens. Tindakan Mama Tina terhadap Whens dilihat Robert. Dengan segera ia menjelaskan kepada Mama Tina bahwa ia sengaja membawa Whens yang dari Papuansphoto untuk memotret kondisi riil pasar mama-mama Papua, untuk keperluan memperjuangkan hak mama-mama Papua di situ.

Mama Tina kemudian paham. Ia lalu marah ke Robert. “Ah, anak Robert. Ko itu. Ko tidak kasih tahu mama. Mama kira ini dia orang dari pemerintahan yang datang foto-foto kami, bikin proposal, dan dong yang makan-makan uang,” ucap Mama Tina, yang kemudian meminta maaf ke Whens atas tindakannya tadi. Apa yang dilakukan Mama Tina bukannya tanpa sebab. Ia begitu karena punya trauma. Pernah beberapa kali orang datang ke pasar, ambil gambar, wawancara mama-mama, kemudian hilang. Tidak ada kabar. Mama Tina dan mama-mama pasar lainnya berkesimpulan bahwa mereka adalah orang dari pemerintah atau entah berantah, yang datang cuma memanfaatkan mama-mama pasar untuk kepentingan pribadi/golongannya.

Selain dua pertanyaan dari Yoyok dan satu pertanyaan tentang apa kendala-kendala yang dihadapi Papuansphoto selama ini, yang ditanyakan oleh Roberta Muyapa di atas, ada juga beberapa pertanyaan serta jawaban-jawaban lainnya yang dikemukakan. Workshop sore itu berjalan begitu hangat, hidup, karena adanya tanya jawab dan diskusi antara narasumber dan para peserta workshop. 

Herman Degei, tim kerja Makassar Biennale – Nabire

[1] Tiga Komunitas Kampanye Selamatkan Hutan Sagu di Sentani – Suara Papua, diakses pada 03 November 2021, 22:31 WIT

[2] Rojit dan perjuangan perempuan pedagang yang terusir dari tanahnya sendiri (rappler.com), diakses pada 05 November 2021, pukul 26:09 WIT

No Comments

Post A Comment