Makassar Biennale 2019 | Esai
289
archive,category,category-esai-makassar-biennale-2019,category-289,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
 

Sekitar jam setengah delapan malam, beberapa pemuda berdiri di Tarungku Toae, bekas penjara tua Bulukumba, yang berlokasi di perempatan lampu merah Jalan Sudirman. Mereka memastikan orang-orang memarkir motornya dengan rapi,...

“Ada dunia yang penuh pengalaman, yang melebihi dunia orang yang agresif, yang melebihi sejarah, dan yang melebihi ilmu pengetahuan. Keadaan kualitas alam dan ungkapan seni yang hebat sama-sama sulit untuk...

“Visual tidak penting. Yang lebih penting adalah bahagia” -Ahmad Anzul Konsepsi tentang apresiasi seni seringkali menjebak kita melihat segala sesuatu hanya sebatas visual saja. Lantaran terpaku pada daya pesona visual, kita lupa...

Membahas keterkaitan musik dan seni rupa acapkali membuat kita terjebak dengan memisahkan keduanya sebagai dua disiplin ilmu yang berbeda. Musik dengan audionya dan seni rupa dengan visualnya. Padahal ketika diletakkan...