07 Dec Irfan Palippui – New Director for Makassar Biennale, starting with Makassar Biennale 2025: Revival!
Irfan Palippui is an academic, writer, and arts activist who currently leads the Makassar Biennale as its Director since the 2025 edition. With an extensive educational background—a Bachelor’s degree in Indonesian Literature, a Master’s degree in Religious and Cultural Studies, and a Doctorate in Art Studies and Creation—Irfan brings a fresh vision to make art a space for critical dialogue and collective awareness. As a first step under his leadership, the 2025 Makassar Biennale carries the theme “REVIVAL,” a call to revive marginalized artistic and cultural values while responding to ever-changing socio-political dynamics. Irfan believes that art is not merely aesthetics, but a product of thought that explains how we become human. With a spirit of collaboration, he is committed to making the Makassar Biennale a creative platform that connects the intellectual heritage of South Sulawesi with today’s challenges, as well as opening up space for artists and the community to create change together.
“Art is not just aesthetics; it is how we understand ourselves and the world. Through art, we learn to be human,” said Irfan, emphasizing his belief that art is a product of thought that can disrupt rigid social structures. With a spirit of collaboration, he is committed to making the Makassar Biennale a creative platform that connects the intellectual heritage of South Sulawesi with current challenges, as well as opening up space for artists and the community to work together to create change.
Congratulations Irfan Palippui on your new role, the New Director of the Makassar Biennale!
Irfan Palippui adalah seorang akademisi, penulis, dan penggerak seni yang kini memimpin Makassar Biennale sebagai Direktur sejak edisi 2025. Dengan latar belakang pendidikan yang mendalam—Sarjana Sastra Indonesia, Magister Ilmu Religi dan Budaya, serta Doktor Pengkajian dan Penciptaan Seni—Irfan membawa visi segar untuk menjadikan seni sebagai ruang dialog kritis dan kebangkitan kesadaran kolektif. Sebagai langkah awal di bawah kepemimpinannya, Makassar Biennale 2025 mengusung tema “REVIVAL”, sebuah ajakan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai seni dan budaya yang terpinggirkan, sekaligus merespons dinamika sosial-politik yang terus berubah. Irfan percaya bahwa seni bukan sekadar estetika, melainkan produk pemikiran yang menjelaskan cara kita menjadi manusia. Dengan semangat kolaborasi, ia berkomitmen menjadikan Makassar Biennale sebagai wadah kreatif yang menghubungkan warisan intelektual Sulawesi Selatan dengan tantangan masa kini, serta membuka ruang bagi seniman dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan perubahan.
“Seni bukan sekadar estetika; ia adalah cara kita memahami diri dan dunia. Melalui seni, kita belajar menjadi manusia,” ungkap Irfan, menegaskan keyakinannya bahwa seni adalah produk pemikiran yang mampu menginterupsi tatanan sosial yang kaku. Dengan semangat kolaborasi, ia berkomitmen menjadikan Makassar Biennale sebagai wadah kreatif yang menghubungkan warisan intelektual Sulawesi Selatan dengan tantangan masa kini, serta membuka ruang bagi seniman dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan perubahan.
Selamat Bekerja, Direktur Makassar Biennale yang baru!
No Comments