Makassar Biennale 2019 | Masak Apa ‘tuk Makan Malam? — What’s For Dinner?
16441
post-template-default,single,single-post,postid-16441,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
 

Masak Apa ‘tuk Makan Malam? — What’s For Dinner?

Sebuah ajang masak-memasak tentang konflik, budaya, dan perdamaian

A cookout forum about conflict, culture, and peace

Pangan mengandung jejak-jejak migrasi, perjuangan lahan, struktur-struktur sosial dan budaya, serta konflik. Dari mendapatkan bahan-bahannya hingga metode pengolahan dan pembuatannya, pangan mengungkap berbagai informasi tentang seseorang atau orang-orang yang membuatnya, begitu pula lingkungan sosial-politik di mana mereka memproduksi pangan tersebut.

Food bears the traces of migration, of land struggles, and of societal and cultural structures and conflicts. From the sourcing of its ingredients to its methods of preparation and production, food reveals information about the person or people who make it, and the socio-political environment in which they produce their food.

Untuk Makassar Biennale 2019, kami gunakan pangan dan memasak untuk mengurai dan memahami isu-isu orang Ata-Manobo dari pegunungan Talaingod Pantaron. Mereka diusir dan dipaksa bermigrasi ke Kota Davao, akibat militerisasi besar-besaran di tanah leluhur mereka. Ajang masak-memasak ini akan jadi semacam meja bersama untuk bercerita dan berbincang.

For Makassar Biennale 2019, we will use food and cooking to unravel and understand the issues of Ata-Manobos from the Talaingod Pantaron Mountain Range. Driven to flee and migrate to Davao City, due to heavy militarization in their ancestral domains, this cookout forum will serve as the common table for storytelling and discourse.

Akan ada tiga ajang masak-memasak di dua lokasi. Masak-memasak yang pertama akan digelar pada tanggal 6 Mei 2019 di United Church of Christ Philippines (UCCP) Haran, Kota Davao, Filipina. UCCP menjadi suaka di Kota Davao yang berfungsi layaknya kamp pengungsian dan rumah sementara bagi komunitas mereka.

There will be three cookout forums in two locations. The first cookout will be May 6, 2019 in UCCP Haran, Davao City, Philippines. UCCP has become a sanctuary in Davao City which serves as the community’s evacuation camp and temporary home.

UCCP Haran beralamat di Jalan 341 Fr. Selga, Madapo, Kota Davao, Davao del Sur. Gereja tersebut berfungsi layaknya kamp pengungsi bagi masyarakat adat yang meninggalkan kampung halaman mereka akibat militerisasi yang intens selama lima tahun hingga kini. Pada saat ini ada 600 keluarga, mencapai total sekitar 1.500 individu yang mengungsi di lingkungan itu. Butuh sekitar empat karung beras sehari untuk memberi makan komunitas tersebut.

United Church of Christ Philippines (UCCP) Haran is located at 341 Fr. Selga Street, Madapo, Davao City, Davao del Sur.  It has served as a refugee camp to different indigenous communities who fled their homes due to intense militarization for five (5) years now. Currently there are 600 families, amounting to around 1,500 individuals seeking refuge at the compound. It takes about 4 sacks of rice a day to feed the community.

Masak-memasak yang kedua akan digelar di Makassar, Indonesia, di mana cerita-cerita yang terkumpul dari peserta-peserta (para pengungsi) dari ajang yang pertama akan dihadirkan bersama eksibisi foto-foto dan video agar mampu bertransformasi secara dinamis dan menciptakan dimensi baru ketika makanan dan cerita disajikan dan disebar ke peserta dan khalayak internasional yang lebih luas.

The second cookout will be at Makassar, Indonesia where the stories gathered from the refugee participants of the first cookout forum will be presented in another cookout forum with an accompanying exhibition of photographs and video allowing it to dynamically transform and create a new dimension as food and stories are shared and served to a wider, international audience and participants.

Ajang masak-memasak bakal tuntas ketika rekan-rekan tim Filipina, membawa kembali cerita-cerita dan diskusi dari Makassar ke kamp pengungsi Ata-Manobo di UCCP Haran di Kota Davao pada 16 Oktober, 2019 sebagai bagian dari kegiatan mereka selama World Foodless Day, di mana mereka ambil bagian dalam aksi menanam pangan organik sebagai bentuk protes.

The cookout forums will come full circle as the Philippine team of collaborators, brings back the stories and discussions from Makassar to the Ata-Manobo refugee camp in UCCP Haran in Davao City on October 16, 2019 as part of their activities during World Foodless Day where they partake food grown organically by farmers as a form of protest.

Ajang masak-memasak ini merupakan kolaborasi dengan: Sabokahan IP Women; Jong Monsod, cultural worker and Secretary-General of PASAKA; and XL Ysulat of MASIPAG.

This cookout forum is in collaboration with: Sabokahan IP Women; Jong Monsod, cultural worker and Secretary-General of PASAKA; and XL Ysulat of MASIPAG.

• Sabokahan IP Women merupakan organisasi perempuan akar-rumput yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan pemajuan hak-hak perempuan lumad dan masyarakat adat.

Sabokahan IP Women, grassroots women organization that empowers and advances the rights of lumad women and IPs.

• PASAKA-Southern Mindanao Region (SMR), Konfederasi Organisasi Lumad di Mindanao Selatan. Merupakan singkatan dari tiga istilah lumad yang berarti Persatuan dan Solidaritas. Terdiri dari 9 suku.

PASAKA-Southern Mindanao Region (SMR), a Confederation of Lumad Organizations in Southern Mindanao. It’s an acronym of 3 lumad terms means UNITY and SOLIDARITY. Consist of 9 tribes.

• MASIPAG, Magsasaka at Siyentipiko para sa Pag-unlad ng Agrikultura (Kemitraaan Petani-Ilmuwan untuk Kemajuan) merupakan jejaring ormas yang dipimpin petani, ornop-ornop dan ilmuwan yang bekerja sama mencapai pengelolaan dan penggunaan sumber daya alam berkelanjutan.

MASIPAG, Magsasaka at Siyentipiko para sa Pag-unlad ng Agrikultura (Famers-Scientist Partnership for Development),  a farmer-led network of people’s organizations, NGOs and scientists working towards the sustainable use and management of natural resources.

Catatan Kurator Curator’s Notes

Apa peran pangan di tengah konflik? Ini menjadi pertanyaan umum kami, begitu pula pada ajang masak-memasak ini. Kami ingin menyimak bagaimana komunitas, hidupnya terikat dengan tanah mereka, lantas kehilangan tempat tinggal sebab gencarnya militerisasi dan terpaksa tinggal di kamp pengungsi di kota, menanggapi pertanyaan ini.

What is the role of food amidst conflict? This is our general question and in this cookout forum, we would like to see how the community, whose lives are tied to their lands but have been displaced through intense militarization and forced to live in a refugee camp in the city, answers.

Apa yang kita makan menjadi ukuran kualitas pangan dan hidup kita, bahkan ketaktersediaannya telah dijadikan senjata dalam peperangan. Sayuran segar yang dulu berlimpah bagi perempuan-perempuan masyarakat adat untuk dipanen, dan daging hewan liar yang dulu diburu para lelaki masyarakat adat di tanah leluhur mereka bukan sekadar pemenuhan kebutuhan pokok tetapi juga perwujudan kedamaian bagi komunitas tersebut. Kebutuhan pokok mereka saat ini yang terdiri dari makanan kaleng dan makanan olahan lain yang disumbangkan oleh berbagai organisasi keagamaan dan akademis melalui berbagai program bantuan bukan sekadar penyediaan keperluan dasar tetapi juga pertanda ketakmampuan mereka dalam menyediakannya bagi diri mereka sendiri.

What we eat measures our quality of life and food, or deprivation of it, has been used as a weapon in wars.  Fresh vegetables that once were abundant for IP women to harvest and game meat that IP men used to hunt in their ancestral lands does not only mean sustenance but represents peace for the community.  Their present sustenance consisting of canned goods and other processed food donated by different religious and academic organizations through different assistance programs are not just provisions but symbols of their inability to provide for themselves.

Sembari kami mendalami isu-isu komunitas masyarakat adat di Haran—migrasi terpaksa mereka, kelaparan mereka, keterbatasan akses pangan mereka, kami bermaksud mempelajari hubungan yang terbina dan budaya yang tersirat dari mengkaji peran-peran nyata yang diemban ketahanan pangan dalam kehilangan tempat tinggal dan bertahan hidup.

As we explore issues of the IP communities in Haran—their forced migration, their hunger, their limited access to food, we aim to learn the the relationships maintained and the culture transmitted by exploring the profound roles that food security plays in displacement and survival. 

 

Namun bila pangan bisa digunakan dalam konflik, bisakah pangan digunakan juga untuk menjalin perdamaian? Semoga ajang masak-memasak ini meningkatkan kesadaran akan betapa pangan, tanpa kita sadari, mendikte peran kita dalam keluarga, bahkan aturan-aturan dalam komunitas. Lagipula, tidakkah kita bekerja sepanjang hidup agar tidak kelaparan?

But if food can be used in conflict, can food can be also used to build peace? Let this cookout forum raise an awareness of how food, without us noticing, dictates our roles in our families and the rules of the community. After all, don’t we work all our lives not to get hungry?

 

No Comments

Post A Comment