Makassar Biennale 2019 | Makassar Biennale 2019
16217
page-template,page-template-full_width,page-template-full_width-php,page,page-id-16217,page-parent,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

“Migrasi – Sungai – Kuliner”

1 September – 31 Oktober 2019

Pada pelaksanaan tahun 2019, Makassar Biennale melebarkan jangkauan publik dan proses dialog-belajar di empat wilayah di dua provinsi, yakni Kota Makassar, Parepare, Bulukumba (Sulawesi Selatan), dan Tinambung & Pambusuang di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Parepare adalah kota pelabuhan utama kedua di Sulawesi Selatan setelah Makassar. Di Pelabuhan Cappa Ujung, Parepare, sejak lama berlangsung perdagangan dan migrasi dari dan menuju Sulawesi bagian selatan. Wilayah kedua, Bulukumba adalah kawasan yang dikenal sejak lama menjadi sentra pembuatan kapal pinisi. Sementara di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Makassar Biennale berproyeksi melebarkan lokasi belajar di dua komunitas, yakni Uwake (kelompok masyarakat yang berkonsentrasi pada sungai utama di wilayah ini, Sungai Mandar, Tinambung) dan Nusa Pustaka (perpustakaan di Desa Pambusuang yang selama ini menyediakan bacaan bagi masyarakat pesisir).

To achieve that goal, this year Makassar Biennale will expand the public outreach as well as the learning-dialogue process in four cities/regencies in two provinces (South and West Sulawesi) namely Makassar, Parepare, Bulukumba (South Sulawesi) and Tinambung & Pambusuang in Polewali Mandar regency of West Sulawesi.

Parepare is the second major entrepot city in South Sulawesi after Makassar. Since centuries, Cappa Ujung Port, Parepare was a point of trade and migration from and to the Southern Sulawesi. The second regency, Bulukumba since a long time ago was known as the center of Phinisi making art. Furthermore at the other regency in the Province of West Sulawesi, Polewali Mandar, Makassar Biennale plans to expand learning space into two communities namely Uwake (community that concentrated at main river in this area, Mandar River, Tinambung) and Nusa Pustaka (open library in Pambusuang Village that provided books/literatures for the coastal communities).

 

Tema / Theme
Tiga subtema yang hendak ditampilkan dalam ajang Makassar Biennale 2019 yang mendampingi tema utama “Maritim” adalah / The three sub-themes that will be constructed as the supporting main theme “Maritime” in the Makassar Bienalle 2019 are:

  • Migrasi: perpindahan manusia ke wilayah satu dan wilayah lainnya yang memungkinkan berlangsungnya perkembangan yang tak terhingga—dari ras, barang, jasa, pemikiran, hingga wabah / Migration: the movement of people to one and another region that allows the development of an infinite number of things – from race, goods, services, thoughts, to epidemics.
  • Sungai: sebagai penghubung antara hulu dan hilir, sekaligus menunjukkan komitmen Makassar Biennale dalam mengusung tema “Maritim” sebagai sebuah ekosistem—bukan terbatas pada wilayah perairan laut / River: as a link between upstream and downstream, as well as demonstrating the Makassar Biennale’s commitment in supporting the theme “Maritime” as an ecosystem — not bounded to marine waters.
  • Kuliner: salah satu bagian terpenting dalam kebudayaan manusia sekaligus segi yang sangat terbuka dielaborasi dalam ajang seni rupa, baik sebagai seni rupa maupun festival kewargaan Culinary: one of the most important parts of human culture as well as a very open aspect elaborated in the art scene, both of fine arts and civic festivals

Bentuk Kegiatan / Forms of Activities

Pelaksanaan Makassar Biennale pada 2019 akan menekankan pada penyikapan isu-isu kemasyarakatan dengan menumbuhkan penyebaran pengetahuan dalam berbagai praktik—mulai dari dialog, praktik dan belajar bersama dalam bentuk residensi, hingga kegiatan berbentuk ekspedisi—yang melibatkan masyarakat luas dan beragam pihak-pihak yang dipandang penting terlibat. 

Makassar Biennale 2019 akan menekankan pendidikan dan riset kebudayaan masyarakat maritim secara luas, mengarusutamakan dan mengelaborasi wacana maritim, dan kerja bersama antara komunitas dan masyarakat tempatan, kawasan, bangsa, dan negara.   

The implementation of the Makassar Biennale in 2019 will emphasize to community issues by fostering the dissemination of knowledge in various practices – ranging from dialogue, practice and joint learning in the form of residencies, to expedition-shaped activities – involving the wider and diverse communities as well as other important stakeholders.  

Makassar 2019 Biennale will emphasize educational and cultural research in the maritime community extensively, mainstreaming and elaborating maritime discourse, collaborating between local communities and people, regions, nations, and countries. 

  • Pameran Utama: menampilkan berbagai bentuk presentasi artistik, dari dua dimensional, instalasi, patung, kriya (craft), media campuran (mix media), hingga seni peristiwa (happening art) di sejumlah lokasi, seperti museum, perpustakaan, komunitas-komunitas di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat / Main Exhibition: displays various forms of artistic presentations, from two-dimensional, installation, sculpture, craft, mixed media, to happening art in a number of locations, such as museums, libraries, communities in South Sulawesi and West Sulawesi.
  • Kegiatan Pendukung / Supporting Activities
    • Kegiatan paralel: open studio seniman, bedah buku, diskusi panel, workshop, dll / Parallel events: open artist studio, book review, panel discussion, workshop, etc.
    • Residensi memberi kesempatan kepada sejumlah seniman untuk bekerja selama sebulan penuh di beberapa tempat yang dipilih penyelenggara, yakni Kabupaten Bulukumba, wilayah yang dikenal sebagai pusat pembuatan kapal pinisi; permukiman pesisir berpenduduk padat di Makassar; Parepare sebagai kota masyarakat Pambusuang dan masyarakat Tinambung di Sungai Mandar di Polewali Mandar / Residency provides an opportunity for a number of artists to work for a full month in several places chosen by the organizer, namely Bulukumba Regency, an area known as the pinisi shipbuilding center; densely populated coastal settlements in Makassar; Parepare as a community town of Pambusuang and the Tinambung community on the Mandar River in Polewali Mandar.
    • Simposium Seni Rupa dan Masyarakat Maritim sebagai ruang untuk membicarakan berbagai topik tentang seni rupa kiwari (kontemporer) Indonesia dan isu kemaritiman / The Art and Maritime Society Symposium as a space to discuss various topics about Indonesian contemporary art and maritime issues.
    • Lokakarya / Workshop 
      • Penulisan Seni Rupa: pelatihan kepenulisan bidang seni rupa—dari ulasan pameran, praktik kuratorial, hingga kritik seni / Writing Art: training of writing in the field of art — from review of exhibitions, curatorial practices, to art critics.
      • Lokakarya Seniman: ruang interaksi para seniman dan khalayak untuk membincangkan dan mempraktikkan seni rupa / Artists’ Workshop: a space for interaction between artists and audiences to discuss and practice fine art.
  • Kegiatan lainnya / Other Activity:
    • Magang: peluang belajar dan bekerja bagi para profesional muda, mahasiswa, dan kalangan pelajar lain / Internships: learning and work opportunities for young professionals, students, and other students.
    • Pameran bagi komunitas dan usaha kecil menengah Makassar dan sekitarnya; memberi ruang dan peluang bertemu para pelaku UKMK untuk membangun jaringan dan saling belajar / Exhibition for the community and small and medium enterprise in Makassar and its surroundings; provide space and opportunities to meet UKMK actors to build networks and learn from each other.

Tujuan & Manfaat / Objectives & Benefits
Makassar Biennale 2019 akan dirancang sebagai / Makassar 2019 Biennale will be designed as:

  • Ruang persentuhan dan dialog seni rupa dan intelektualitas mutakhir berskala internasional di Sulawesi Selatan /  Meeting space, and the contemporary international-scale dialogue of art and intellectuality in South Sulawesi.
  • Berkontribusi dalam pengembangan seni rupa dan praktik-praktik jaringan seni kebudayaan di Indonesia /  Contributing to the development of art and practices of cultural arts networks in Indonesia.
  • Menjadikan peristiwa seni rupa dua tahunan ini sebagai ruang berdialog, saling belajar, dan bertukar pengetahuan/tradisi segala lapisan masyarakat / Making this biennial art event as space for dialogue, mutual learning, and sharing knowledge / traditions of all groups of society.
  • Membangun pameran berskala internasional ini sebagai salah satu tujuan wisata pelesir dan wisata belajar di Kota Makassar, Bulukumba, Parepare, dan Sulawesi Barat / Developing this international scale exhibition as one of the tourist destinations and study tours in Makassar, Bulukumba, Parepare, and West Sulawesi cities
  • Menjadikan Kota Makassar sebagai kota jaringan seni rupa dunia / Making Makassar as a city of world arts networks.