MB2021: Sekapur Sirih | Jaring Herbal
16872
page-template-default,page,page-id-16872,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

JARING HERBAL

Di masa pandemi Covid-19 tahun 2020 ini, masyarakat dunia berbondong-bondong bersiasat melakukan pencegahan dan pengobatan. Tenaga-tenaga ahli kesehatan seperti dokter dan ahli virus dari seluruh dunia mencoba sebanyak mungkin cara guna menciptakan obat hingga vaksin untuk jenis Virus Covid-19 ini.

 

Kelompok non-medis pun demikian, setelah dikejutkan dengan virus covid, warga berupaya menggali ingatan dan pengetahuan terkait herbal dan obat alami. Baik itu dari pengetahuan nenek-kakek, orang ke orang, maupun penelitian herbal terbaru yang secara bebas diakses melalui internet.

 

Natsir, seorang reseller sayur dan bumbu dapur online di Makassar mengakui adanya lonjakan permintaan dan harga jahe selama masa pandemi ini. “orang-orang banyak pesan jahe untuk direbus jadi minuman atau dijadikan rempah campuran sayur, orang percaya kalau jahe itu bagus untuk jaga daya tahan tubuh. Apa lagi Jahe Merah, lebih mantap itu. Tapi lebih mahal bisa sampai 120 per kg,” Ujarnya pada pertengahan Ramadan lalu.

 

Warga di kota besar seperti Makassar sebenarnya memiliki peluang akses terbuka untuk banyak jenis tanaman-tanaman herbal. Misalnya saja pada kompleks pemukiman, masih bisa dijumpai pohon kelor, sirsak, dan mengkudu yang dibiarkan tumbuh di depan rumah begitu saja. Bahkan seperti binahong dan sirih cina yang bisa dengan mudah tumbuh, namun justru dianggap sebagai tanaman liar pengganggu.

 

Tanaman itu ada di sana, namun hanya beberapa yang tahu bahwa itu adalah tanaman obat. Sementara yang lain, yang tahu khasiat dan cara mengolahnya, mereka kadang tidak punya akses untuk mendapatkan bahan-bahan herbal tersebut.

 

Melihat situasi ini, Pekebun Malas berpikir untuk membuat sebuah ekosistem digital yang menjadi jaring penghubung antar warga. Jaring yang menghubungkan pengetahuan dan sumber daya yang tersebar di warga, agar dapat tercipta lingkungan pengobatan herbal secara kolektif di masyarakat.

Jaring Herbal merupakan program yang dari Pekebun Malas untuk kembali mencari tanaman-tanaman herbal yang tumbuh dekat dengan warga, mengarsipkan pengetahuan obat-obatan herbal yang tersebar pada warga, dan menghubungkan setiap orang yang memiliki dan membutuhkan bahan herbal itu.

 

Setelah dinyatakan lolos sebagai satu dari sepuluh Karya Normal Baru, Jaring Herbal kemudian digarap dengan melibatkan 5 orang peneliti muda–Achmad Teguh Saputro Z, Fakhiha Anugrah Prastica, Rafsanjani, Wilda Yanti Salam, dan Aziziah Diah Aprilya–untuk melakukan pencarian lokasi warga yang menanam tanaman herbal serta mengarsipkan pengetahuan warga terkait tanaman yang ditanamnya.

 

Selama proses pencarian dan pengarsipan pada bulan Juli 2020, mereka telah mengumpulkan 74 jenis tanaman herba yang tersebar di 52 titik se-Kota Makassar. Seluruh informasi terkait tanaman itu dihimpun ke dalam website bernama jaringherbal.com. Dari temuan 52 titik itu kemudian dibuat peta sebaran lokasi yang saling dihubungkan hingga membentuk jaring. Visualisasi ini mereka unggah menjadi sampul website jaringherbal.com.

 

Kini jaringherbal.com sudah dapat diakses bebas untuk menjadi rujukan mencari tanaman herba di wilayah Kota Makassar. Segala temuan terbaru terkait tanaman herba akan terus diupdate di Website jaringherbal.com. Mereka juga membagikan kabar terbaru terkait karya Jaring Herbal di sosial media Instagram @jaringherbal.

Achmad Teguh Saputro Z & Fakhiha Anugrah Prastica

Pekebun Malas adalah upaya yang bermula dari semangat mengarsipkan kegiatan kebun rumahan sejak oktober 2019, lalu mereka mendapatkan banyak permintaan dan tawaran berkebun pangan di lahan terbatas selama masa pandemi ini. Pekebun malas lalu bertransformasi menjadi upaya kolektif untuk menyebarkan kebiasaan berkebun tanaman pangan di halaman rumah.

 

Dalam hibah karya normal baru ini, dua anggota pekebun malas, Achmad Teguh Saputro Z dan Fakhiha Anugrah Prastica menginsiasi sebuah program bernama Jaring Herbal sebagai respons terhadap situasi pandemi. Fakhiha Anugrah Prastica, perempuan kelahiran 1998 yang mengisi sebagian waktunya dengan berkebun di halaman rumah sejak Oktober 2019 dan rutin menulis jurnal kebun sebagai pekebun pena pada akun instagram @pekebunmalas. Selama masa pandemi mulai belajar tentang pangan lokal dan berbelanja di pasar.

Achmad Teguh Saputro Z menjadi peneliti dan penulis tentang pertanian di dalam kota pada tahun 2018 yang dimuat dalam buku berjudul Kota Diperam dalam Lontang, juga merupakan fasilitator pendidikan seni di Yayasan Ganara Mari Berbagi Seni sejak 2017.