MB2021: Sekapur Sirih | Clickbite
16959
page-template-default,page,page-id-16959,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

CLICKBITE

Pandemi tentu membawa banyak hal yang menyedihkan hingga menyebalkan dalam kehidupan kita. Baik itu hidup seseorang maupun kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Menolak terus terpuruk dan menerima saja, masyarakat berusaha untuk ikut serta dalam upaya melalui krisis yang berdampak pada semua hal. Mulai dari yang paling personal untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, hingga usaha-usaha untuk bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman agar bisa bertahan dari krisis. Ingatan-ingatan digali, resep-resep diuji.

 

Kepercayaan atas pengetahuan dan budaya yang ditinggalkan oleh para pendahulu diangkat kembali. Dari jamu empon-empon, tetek molek, hingga empida menjadi beberapa contoh warisan yang dikontekstualisasikan dengan wabah covid-19 ini. Warisan-warisan tersebut tentu selama ini tidak hilang, hanya tersingkir oleh modernitas. Mendadak secara masif hal-hal tersebut dibangkitkan menjadi upaya penangkal dan tolak bala.

 

Giddens dalam bukunya Modernity and Self Identity; Self and Society in the Late Modern Age (1991) mengatakan bahwa manusia sebagai subjek aktif akan selalu mencemaskan hari ini dan masa depan. Bentuk-bentuk kenormalan yang selalu berubah berdasarkan kondisi lingkungan sosial membuat setiap individu memiliki strategi untuk mengantisipasi. Trajektori diri sebagai individu dan histori kolektif terkait masyarakat tradisional menjadi bentuk antisipasi hari ini. Kadang-kadang, alih-alih menolak globalisasi, manusia melakukan komodifikasi bentuk-bentuk tradisional sebagai penawar di era modernitas lanjut.

 

Berfokus pada makanan sebagai bagian dari kebutuhan dasar manusia, bahan-bahan hasil alam seperti jambu, kulit jeruk, daun kelor, madu, hingga berbagai macam rempah dan jamu digadang-gadang mampu menangkal corona. Penguat imun manusia. Media turut aktif berperan dalam terciptanya fenomena ini. Berhentinya rutinitas dan pembatasan mobilitas fisik manusia membuat berita tersebar lebih cepat dari biasanya. Selain bahan komodifikasi bagi media, secara sadar atau tidak, masyarakat juga memanfaatkannya sebagai strategi untuk bertahan hidup jua.

 

Pangan atau kuliner adalah satu dari sedikit sektor perekonomian yang masih dan harus bisa bertahan. Banyak pekerja yang terdampak penghasilannya menurun atau bahkan kehilangan pekerjaannya, mencoba bertahan dengan mulai menjual makanan secara daring. Infrastrukturnya sangat mendukung. Tinggal bagaimana cara paling efektif untuk menjualnya, bagaimana brandingnya? Dan sekali lagi kemudahan untuk mencari pengetahuan di era ini bisa membantu bagi siapapun untuk membuat strategi pemasaran yang mumpuni.

Pada proses awal program, di minggu pertama, Clickbite membuat ajakan terbuka bagi orang-orang yang punya usaha di bidang kuliner untuk memasak berbagai bahan makanan yang diberitakan bisa menangkal Corona. Olahan bahan makanan itu di antaranya: bayam, brokoli, durian, daun kelor, kulit jeruk, lodeh tujuh rupa, nanas, pepaya, rempah, dan tempe.  Kemudian, bahan-bahan tersebut diolah menjadi beberapa menu makanan dan minuman. Selanjutnya, Benny dan Wiky mengajak beberapa orang yang dipilih secara acak untuk mencoba makanan itu dan memberi tanggapannya. Semua olahan dan tanggapan itu dikemas semenarik mungkin dalam bentuk foto, video dan desain-mockup.

Karya berjudul Clickbite ini hadir dalam platform Instagram @clickbite.project yang di dalamnya menyajikan foto, video, desain-mockup. Makanan-Minuman ini menggunakan bahan-bahan yang dikontekstualisasikan oleh media mampu menjadi penangkal Corona (tautan berita tersedia di linktr.ee/clickbite). Bahan-bahan tersebut adalah bayam, brokoli, durian, daun kelor, kulit jeruk, lodeh tujuh rupa, nanas, pepaya, rempah dan tempe.

 

Clickbite merespons cara portal berita daring dalam mengkomodifikasi berbagai bahan makanan yang dianggap bisa menangkal virus corona sebagai bahan clickbait berita untuk menaikkan rating portal mereka. Melalui karya ini, Benny dan Wiky menggunakan berbagai berita itu untuk membranding ulang olahan bahan-bahan tersebut. Praktik pemasaran makanan secara daring diadopsi. Platform karya ini menjadi alternatif media dan strategi pemasaran bagi para pelaku usaha kuliner dalam pengembangan usahanya.

Benny Widyo

Setelah menyelesaikan pendidikan di jurusan Fotografi, ISI Yogyakarta; saat ini sedang melanjutkan studi di jurusan Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, UGM. Dua proyek terakhirnya adalah Rest In Fear bersama Pendulum yang dipamerkan pada Biennale Jogja XV – Equator #5 dan Turunkan Jangkar, Kembangkan Layar bersama Gulung Tukar di Tulungagung yang menjadi bagian dari Biennale Jatim 8.

Christian Dwiky Sirait

Menyelesaikan studi S-1 jurusan fotografi di ISI Yogyakarta. Aktif berkegiatan fotografi serta bekerja sebagai fotografer di Futurana. Pada beberapa karya yang pernah dibuat banyak terinspirasi oleh fenomena yang terjadi pada media sosial serta aktif mencari tahu bagaimana bisnis di media sosial itu berjalan.