MB2021: Sekapur Sirih | Hayati: Laku dan Ingatan
17086
page-template-default,page,page-id-17086,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

HAYATI: LAKU DAN INGATAN

Perubahan lingkungan yang cepat kerap menyebabkan kepunahan massal. Dari semua spesies yang pernah hidup di bumi, lebih dari lima miliar spesies diperkirakan telah punah. Dalam perjalanan bumi, lima kepunahan massal besar dan beberapa peristiwa kecil telah menurunkan secara drastis keanekaragaman hayati, salah satunya 400 juta tahun yang lalu terjadi beberapa kali kepunahan massal, yaitu hilangnya keanekaragaman hayati secara besar-besaran pada periode Karbon. Hancurnya hutan hujan menyebabkan hilangnya kehidupan tumbuhan dan hewan.

 

Kepunahan keanekaragaman hayati terus-menerus terjadi hingga kini. PBB menetapkan periode 2011-2020 sebagai Dekade Keanekaragaman Hayati PBB dan periode 2021-2030 sebagai Dekade Restorasi Ekosistem PBB. Menurut Laporan Penilaian Global tentang Keanekaragaman Hayati dan Layanan Ekosistem pada 2019 oleh IPBES, 25% spesies tumbuhan dan hewan terancam punah akibat aktivitas manusia.

 

Dalam karya ini, hayati yang dimaksud adalah hayati tanaman. Semakin berkurangnya lahan merupakan masalah tersendiri dalam hal berkurangnya keanekaragaman hayati tanaman. Berkurangnya kesadaran menyisakan lahan berupa pekarangan dan menanam hayati tanaman pada sebuah generasi akan mempengaruhi generasi berikutnya. Akibatnya, generasi berikut tidak mengenal hayati tanaman sedari dini yang terkhusus tumbuh di sekitarnya.

“Hayati: Laku dan Ingatan” awalnya merupakan kolaborasi Sinta Ridwan dan Panji Damar Pradana. Di dalam proses pembuatannya, keduanya dibantu oleh Aun Fakhrun dan Gevi Noviyanti. Dukungan juga datang dari musisi Senyawa yang mengijinkan dua lagu mereka yang senafas dengan karya ini untuk dipakai sebagai musik latar, yakni lagu “Warna” dan “Tanah”. Kedua lagu ini merupakan pilihan dari Senyawa sendiri setelah melihat draft karya ini.

“Hayati: Laku & Ingatan” terdiri dari tiga video yang dinarasikan di setiap rilisan mulai dari Teaser, Book 1: Hayati (1 video), Book 2: Laku (2 video), dan Book 3 (Waktu Lampau&Masa Kecil).

 

Book 1: Hayati
Dalam video berdurasi 7 menit ini digambarkan berbagai tanaman hayati yang bermanfaat bagi kesehatan, baik itu untuk pengobatan maupun pencegahan. Wabah Covid-19 yang “dimulai” pada awal tahun ini (2020) dan munculnya kesadaran akan keberadaan hayati tanaman yang bermanfaat serta bisa diolah kembali menjadi sebuah ‘ramuan’ yang “dipercaya” bisa diolah untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan model konsumsi “gaya baru” misalnya infused water.

 

Infused water pada dasarnya adalah air mineral yang dicampur dengan potongan beberapa bagian dari spesies tanaman yang dipercaya sebagai air detoks yang bisa membuang racun di dalam tubuh, meningkatkan energi dan membantu mengurangi berat badan. Infused water naik daun lantaran dianggap sebagai salah satu minuman pelengkap gaya hidup sehat yang kaya manfaat.

 

Dalam “Book 1: Hayati” digambarkan pola warna infused water yang muncul pada masa perendaman, ternyata menghasilkan warna-warna alami yang tidak terduga kemunculannya. Pada penampilan warna-warni yang dihasilkan segenggam hayati tanaman menarik perhatian untuk memperlihatkannya. Selain itu bentuk-bentuk segenggam hayati tanaman yang sengaja dipilih “atas dasar benang merah kemunculannya di setiap karya” juga ingin memperkenalkan kembali. Nama-nama sesuai urutan kemunculan pada karya adalah beras, kunyit atau kunir, sambiloto, sereh, kencur, sirih, asam kawak, jahe, temulawak yang kemudian memunculkan pertanyaan, “Apakah bisa semua itu menjadi infused water yang bisa bermanfaat untuk kesehatan?” Lalu pertanyaan selanjutnya, “Apakah bedanya dengan ramuan jamu?”

 

Infused water dan jamu sama-sama berbentuk cairan. Konon, manusia hanya bisa bertahan tiga hingga empat hari tanpa minum. Air yang diperlukan semua organisme hidup, termasuk kebutuhan air bagi hayati tanaman sendiri, yang salah satu manfaatnya adalah untuk pertumbuhan serta perubahan struktur dan organ tanaman.

 

Sejak dulu, hayati tanaman sudah dimanfaatkan dalam keseharian warga, khususnya untuk kesehatan. Dalam segenggam yang ditampilkan dalam karya selain warna dan nama juga bentuk-bentuk yang di zaman sekarang sudah asing. Sebagai salah satu makhluk hidup, adakah muncul perasaan saat melihat jarak yang “mungkin” sudah sangat jauh antar sesama makhluk hidup? Bagaimana caranya menjadi dekat kembali dan kesadaran itu muncul lagi? Lewat pendidikan yang bagaimanakah? Lewat teknologi lingkungan yang seramah apa? Sebelum keanekaragaman hayati yang dimiliki negeri ini semakin banyak yang punah. Kehilangan sudah menanti, kekayaannya akan terlupakan di masa depan.

 

Beberapa laku kegiatan yang berhubungan dengan tanaman di antaranya meracik, meramu, menanam serta mengonsumsi tanaman berupa ramuan yang dipercaya berkhasiat. Konon laku ini sudah ada sejak zaman dulu dan kegiatannya terpahat pada relief di Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Brambang, dan beberapa lokasi lainnya. Adanya teknik memotong, menumbuk, merebus, dan sebagainya serta penemuan teknologi berupa cobek dan ulekan. Memang belum ada catatan khusus perihal laku membuat ramuan di dapur secara khusus, tetapi pada masa lalu konon rahasia kesehatan dan kesaktian para pendekar dan petinggi-petinggi kerajaan salah satunya berasal dari bantuan ramuan dan racikan tersebut.

 

Selanjutnya pembahasan mengenai laku dan perbedaan meracik dengan meramu.

 

Book 2: Laku (Ramuan Jamu & Tinggal Seduh)
Pada masanya, mengonsumsi ramuan tanaman yang dipercaya berkhasiat ini mengalami penurunan, ketika ilmu modern masuk ke negeri ini, ketika obat-obatan bersertifikat mampu mengubah pola pikir termasuk tingkah laku. Pada 1940-an, laku mengonsumsi tanaman berkhasiat kembali terangkat karena terbentuknya Komite Jamu Indonesia, namun laku individu masuk ke ranah massal. Perubahan bentuk dan kemasan menjadi pil, tablet, dan serbuk instan yang mudah diseduh. Bersamaan dengan itu, terjadi hal yang bertentangan yaitu penurunan kondisi pertanian akibat beralihnya pengolahan ke sektor industri.

 

Sejak 1974 hingga 1990 bermunculan perusahaan di sektor industri ramuan tanaman yang dipercaya berkhasiat ke dalam bentuk laku instan, tinggal diberi air hangat lalu seduh. Kemungkinan besar pada masa itulah peralihan pola pikir dan tingkah laku menghadapi langsung tanaman-tanaman yang digunakan di dalamnya. Berangsur-angsur tinggal nama, tak mengenal bentuk apalagi melihat pertumbuhannya. Selain tentu saja sensasi mengambilnya dari tanah, membersihkannya, memotong atau menumbuknya, lalu diolah kembali lewat rebusan atau rendaman, kemudian melihat warna-warna yang dihasilnya, mencium aromanya, dan mencobanya secara langsung setiap hasil pengolahannya sebelum diramu sedemikian rupa.

 

Keberadaan pedagang keliling minuman yang berasal dari tanaman yang dipercaya berkhasiat itu memberi dampak juga pada pengurangan laku menanam tanaman dan mengolahnya di dapur sendiri. Meski pedagang keliling tersebut (sebagian menyebutnya dengan penjual jamu gendong sekitar 1990-an yang di masa sekarang sudah termasuk susah ditemukan) memberi dua pilihan, hasil racikan dan ramuannya yang diberi label alami dan yang instan, tinggal seduh, berupa serbuk dalam kemasan sachet. Pelanggan akan melihat perbedaan langsung di hadapannya. Ketika memilih yang berlabel alami, mereka akan melihat cairan berwarna-warni yang disebut juga bahan dasar tanaman yang diolahnya itu keluar dari botol-botol yang khas. Ada sensasi tersendiri melihat dan mencium aromanya. Berbeda dengan yang instan, seduhan serbuk hasil industri yang berwarna pucat atau ngejreng.

 

Dalam “Book 2: Laku” ini penggambaran perpaduan warna dan bentuk dari semacam ramuan yang umum ditemukan di jamu gendong, di antaranya yang “disebut” kunyit asam, beras kencur, dan bahkan di masa-masa wabah Covid-19 sekarang ini sedang beredar dan terkenal di pasaran yang “disebut” jamu corona. Dalam ramuannya terdapat temulawak, sereh, kunyit dan jahe. Nama-nama ramuan tersebut bisa berhubungan dengan beberapa jenis penyakit, sementara dalam kemasan sachetan ada yang berupa judul nama penyakitnya langsung seperti sariawan usus, pegal linu, batuk, dan ulu hati. Ada juga yang disebut Apusirih dan Lancar Haid khusus untuk kesehatan wanita, Buyung Upik untuk kesehatan anak-anak, Gemuk Sehat untuk semua kalangan, Gadung Klingsir untuk pegal linu dan nyeri sendi, dan Kuku Bima untuk kesehatan lelaki.

 

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, “Apakah ada perbedaan pengaruh khasiatnya dalam tubuh ini ketika mengonsumsi hasil racikan dan ramuan dari tanah dan dapur sendiri dengan yang alami yang digendong dan berkeliling sekaligus dengan yang instan tinggal seduh dari sachetnya?”

 

Ingatan soal tanaman berkhasiat terdokumentasi dalam khazanah tradisi tulis di masa lampau. Salah satunya dalam bentuk manuskrip. Tersebutlah di sana—lewat aksara-aksara dan bahasa daerah—nama-nama, khasiatnya, komposisi, dan cara meramu. Untuk generasi sekarang yang sudah terbiasa menulis dengan aksara Latin dan berucap dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing—meski juga masih berbahasa ibu aka bahasa daerah—sudah tidak bisa membaca teks-teks dalam manuskrip tersebut. Selain soal pengobatan dan obat-obatan serta cara meramu bahan-bahan yang tumbuh di sekitarnya, kandungan isi teks pada manuskrip berisikan banyak pengetahuan seperti astronomi, sastra, religi, arsitek, sejarah, undang-undang, kesenian, budaya, bencana dan lainnya.

 

 

Book 3: Ingatan (Waktu Lampau & Masa Kecil)
Sesuai visi Makassar Biennale yakni kembali membuka warisan nenek moyang, manuskrip adalah warisan pengetahuan masa lampau yang perlu dibuka dan dibaca. Tentu kemampuan mengenal aksara dan bahasa daerah menjadi kunci di sini, selain ada cara ‘instan’ dengan membaca hasil kajian para filolog (pengkaji manuskrip).

 

Kekayaan pengetahuan sebagai warisan masa lampau dalam manuskrip dimiliki negeri ini. Hal ini menunjukkan tradisi tulis nenek moyang sudah terbentuk lama (meski pelakunya ada di strata sosial tertentu) dan tentu punya kesadaran mendokumentasikan pengetahuannya. Pada “Book 3: Ingatan” ini menghadirkan manuskrip yang berasal dari pesisir Cirebon, menggunakan aksara dan bahasa Jawa-Cirebonan. Manuskrip koleksi Elang Panji (50 tahun) dari Desa Mertasinga Kabupaten Cirebon yang telah dikaji dan diterjemahkan Sinta Ridwan. Ibu dari Elang Panji sendiri adalah pelaku pengobatan tradisional yang masih aktif hingga kini.

 

Manuskrip berjudul “Tetamba & Tamba” artinya pengobatan dan obat. Sinta Ridwan mendigitalisasi manuskrip ini pada 2012. Oleh Panji Damar manuskrip itu dikomposisikan dengan foto-foto rempah, rimpang dan tanaman berkhasiat lainnya, hasil jepretan Gevi Noviyanti. Kemunculan foto disesuaikan dengan kata yang ditulis aksara. Tidak ada maksud jelek memunculkan unsur api yang digambarkan membakar manuskrip, sekadar pengingat soal hilangnya ingatan dan pengetahuan di dalam manuskrip, jika tidak segera diselamatkan. Tidak dapat diprediksi berapa lama lagi manuskrip-manuskrip itu mampu bertahan menghadapi kerusakan secara alami, dan kerusakan tidak disengaja maupun “sengaja”. Hanya sebagian kecil yang ditampilkannya di sini yaitu pinang atau jambe, secang, jinten hitam, ketumbar, bawang merah, bawang putih, dan temulawak hitam.

 

Di kehidupan sekarang, ingatan terhadap warisan masa lalu sangat terbatas dan terputus dari generasi ke generasi. Salah satu sebabnya perubahan laku dan zaman, lingkungan, peralihan penggunaan aksara dan bahasa sehingga ada jarak yang perlahan-lahan melebar dan lantas hilang. Ada ingatan yang tertulis namun dokumentasinya hilang, ada juga yang bersifat tuturan yang turunannya terputus karena ada jarak tadi. Kesadaran untuk menggali pengetahuan di masa lalu untuk dipelajari dan diambil inti yang dianggap bisa disesuaikan di masa kini sangatlah kecil. Warisan pengetahuan tersebut bisa hilang di masa depan jika di masa sekarang tidak ada upaya penyelamatan manuskrip tersebut.

 

Pada masa wabah Covid-19 merebak—ketika kesadaran akan pentingnya pengetahuan meramu, meracik, menanam, isi kandungan tanaman-tanaman berkhasiat untuk ketahanan individu secara khusus baru muncul kembali—terjadi semacam kebingungan karena harus menggali lebih dalam lagi ‘dari awal’, mengumpulkan kembali, membacanya, menerjemahkan, dan baru mau melakukannya. Edukasi untuk mengenal tanaman berkhasiat itu sendiri sudah jarang terjadi di lingkungan keluarga.

 

Ingatan semasa kecil kala pengenalan tanaman yang tumbuh di lingkungan sekitar adalah permainan membuat dan menjual jamu-jamuan. Sebagai anak kecil yang setiap pagi melihat aktivitas pembelian dan kegiatan minum jamu lewat pedagang jamu gendong keliling, tercetuslah ide memainkan aktivitas pedagang jamu gendong itu; meracik, meramu, mengolah, hingga melakukan jual-beli (rekaan). Ingatan akan masa kecil selalu tersimpan dan memberi pengetahuan sendiri, selain soal tanaman. Tentu saja di masa itu, ketika masih kanak-kanak, belum ada pengetahuan lebih dalam khasiat yang terkandung.

 

Terdapat anak kecil menggerus beberapa tanaman yang gambarnya diambil Aun Fakhrun. Si anak ditanya, apakah pernah bermain jamu-jamuan dan melakukan jual-beli menggunakan uang dari daun? Jawaban si anak membuat tersenyum yang mendengarnya; karena permainan anak di masa sekarang lebih banyak terbuat dari plastik.

 

Ingatan itu belum tentu ada di benak generasi masa depan ketika mereka kini tidak lagi melakukan aktivitas itu. Lantaran lahan-lahan hijau yang menjadi tempat bermain berkurang, laku keluarga soal tanam menanam di sekitar tempat tinggal sudah hilang, meramu di dapur tidak dilakukan lagi, apalagi menyangkut obat-mengobati dengan ramuan tradisional. Ketika pengobatan bergantung pada apotek atau warung kelontong yang menjual obat-obat dari pabrik—pengetahuan didapatkan dari iklan-iklan di berbagai media—atau jamu sachet dan hilangnya peredaran penjual jamu gendong, membuat masa kecil di hari ini semakin dijauhi dari hal-hal yang berkaitan dengan tanaman yang tumbuh di sekitar. Apakah hal ini hanya berlaku di sebagian kota saja atau sudah merambah ke desa-desa di mana pemandangan anak kecil bermain di dalam konteks alam sekitar semakin jarang terlihat?.

Sinta Ridwan, dkk

Sinta Ridwan adalah mahasiswi Program Magister Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (2019). Selain menekuni naskah kuna, ia juga menulis cerpen, puisi, dan esai. Saat ini, selain kuliah ia sedang membuat peta interaktif berbasis web berisi kumpulan aksara dalam naskah kuna dan prasasti di Nusantara dengan nama Aksakun.org, sebuah proyek pribadi yang sudah dijalaninya sejak 2011. Pada 2009-2013, ia membuka kelas tatap muka belajar aksara di Bandung. Lantas, kelas tersebut dilakukan secara daring sejak 2013 hingga kini.

 

Panji Damar Pradana, kelahiran Bandung 21 Oktobe 1995. Dia berada di dunia film sejak 2014 sampai sekarang. Panji menyukai visual art dan editing. Panji sering menjadi research Motion Graphic, Producer, Editor, Assitant Director,Director, Audioman, dan Cameraman di beberapa film sejak 2014 hingga kini.

 

Gevi Noviyanti, kelahiran Cirebon 8 November 1994. Seringnya berdomisili di Yogyakarta. Karya-karyanya banyak berkaitan dengan bidang seni pertunjukan terutama dalam bidang musik sesuai dengan ketertarikannya. Saat ini, Gevi dipercaya untuk menjadi pengurus Kelas Pagi Yogyakarta sebagai program manager untuk mengorganisir kegiatan kelas fotografi, pameran dan juga berjejaring antar komunitas.

 

Fakhrun Mubarak Hasan (Aun Fakhrun), kelahiran Serang, 15 Juni 1993. Saat ini berdomisili di antara Cirebon dan Indramayu. Karya-karyanya banyak berkecimpung di dunia perfilman sejak 2014 hingg kini.