MB2021: Sekapur Sirih | Hikayat Pengobatan Bedak Basah
16929
page-template-default,page,page-id-16929,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

HIKAYAT PENGOBATAN BEDAK BASAH (WARISAN YANG DITURUNKAN MELALUI MIMPI)

Bedak basah umumnya dipahami sebagai ramuan untuk merawat kulit bagi kaum perempuan di masyarakat di Sulawesi Selatan. Sejauh ini, di beberapa kelompok masyarakat masih banyak yang melakukan praktik merawat kulit menggunakan bedak basah.

 

Bahkan, bedak basah kini, dijual bebas di pasar daring. Jika kita masukkan kata kunci: ‘jual bedak basah’ di mesin pencari, maka dapat dijumpai layanan penjualan. Ini menunjukkan kalau bedak basah sebagai warisan leluhur hingga kini masih terus diproduksi dan digunakan. Namun, sejauh ini, ada hal tertentu yang, mungkin, tak banyak diketahui khalayak kalau sesungguhnya bedak basah tidaklah semata dipakai untuk perawatan kulit bagi kaum perempuan.

 

Dalam riwayatnya yang belum banyak diulas, bedak basah adalah bagian penting dari proses pengobatan. Bedak basah adalah salah satu bagian dari keseluruhan bahan yang digunakan untuk pengobatan.

Hikayat Pengobatan Bedak Basah merupakan film dokumenter tentang proses pembuatan bedak basah yang dilakukan oleh Hj Badaria (80) yang dikenal luas di Desa Kabba, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkejene dan Kepulauan (Pangkep) sebagai pewaris pembuat bedak basah untuk pengobatan. Keahlian membuat bedak basah ini diwarisi oleh bibinya, Mina Cade yang telah wafat.

 

Di desa Kabba sendiri, ada beberapa warga yang bisa membuat bedak basah untuk perawatan kulit, lazim disebut be’da bau (bedak harum) atau be’da ana dara  (bedak anak gadis). Tetapi, khusus bedak basah untuk pengobatan, warga hanya meyakini bahwa hanya Hj. Badaria yang bisa membuatnya karena dia adalah generasi penerus dari Mina Cade. Meskipun Hj. Badaria hanya keponakan, tetapi Mina Cade tidak menikah hingga akhir hayatnya.

 

Secara garis keturunan, Hj. Badaria masih memiliki aliran darah dari Bungko, orang pertama di Desa Kabba yang dikenal sebagai sanro’ (dukun) pengobatan bedak basah. Wangsa pengobatan bedak basah sepeninggal Bungko turun ke anaknya yang bernama Cade’e yang merupakan ibu dari Mina Cade. Bungko melahirkan tiga anak, yakni Bungko, Cabaria, Juraeje. Cabaria sendiri merupakan ibu dari Hj. Badaria. Di luar dari wangsa aliran darah ini, proses peralihan tentang siapa yang berhak melanjutkan praktik pengobatan ialah petunjuk melalui mimpi. Dalam penuturannya, hal itu pernah dialami oleh Hj. Badaria dan tiga anak perempuannya.

Kini, Hj. Badaria di usia sepuhnya dibantu oleh anak perempuannya bernama Hukmawati yang juga pernah mengalami mimpi didatangi oleh Cade’e.

 

Dalam praktiknya, Hj. Badaria juga melanjutkan kerja pengobatan sebagai sanro (dukun) di kampung Kabba. Spesifikasi pengobatannya adalah penyakit dalam atau pada perempuan pasca melahirkan agar kondisi tubuhnya kembali prima. Begitupun dengan pasien laki-laki yang biasanya mengalami kondisi tubuh yang lemah (kurus kering). Bedak basah ditambah ramuan minum yang lain adalah bahan yang digunakan dalam proses pengobatan itu.

 

Terdapat dua jenis bedak basah yang dibedakan berdasarkan penggunannya. Pertama, bedak basah untuk merawat kulit. Dahulu, bedak basah dipakai para petani perempuan dan laki-laki untuk melindungi kulit dari sengatan matahari ketika turun ke sawah. Kedua, bedak basah untuk pengobatan.

 

Selain penggunaan, bedak basah juga dibedakan berdasarkan bahan dasarnya. Perbedaan itu terletak pada jenis beras dan jumlah jenis daun dan rempah yang dipakai. Proses pembuatan bedak basah untuk kulit cukup beras putih saja. Sedangkan untuk pengobatan menggunakan dua jenis beras, yakni beras putih dan merah. Secara fisik, kedua jenis bedak basah ini dibedakan dari bentuk bulatannya yang sudah jadi. Bedak basah untuk kulit bundalannya kecil sedangkan yang dipakai untuk pengobatan bundalannya lebih besar dan teksturnya agak kasar.

Dalam proses pengerjaan karya ini, F Daus AR berkolaborasi dengan Ahmad Anshari dan Arman Pio. Daus mengajak dua kolaboratornya ke rumah Hj. Badaria untuk menyaksikan langsung proses pembuatan bedak basah. Setelah dua kali menyaksikan prosesi pembuatan hingga proses pengobatan, Arman Pio mengolah hasil pengamatannya ke dalam video, sedangkan Ahmad Anshari ke dalam sketsa. Rekaman audio-visual, sketsa, tutur kata dan teks inilah yang diramu menjadi film dokumenter. Setelah melalui fase revisi bersama kurator, Daus mengajak Aulia AA, cucu Hj. Badaria menjadi narator film dan Ardi, seorang editor untuk mengedit dan merapikan hasil akhir film dokumenter ini.

F Daus AR

F Daus AR merupakan penulis kelahiran pangkep 7 Desember 1984. Daus pernah menggagas media warga bernama saraung.com pada tahun 2016-2017, menerbitkan buku esai “Kamar Bawah”, dan beberapa kali menjadi kontributor buku di antaranya “Mereka Bicara Fakta (Wajah Sistem dan Regulasi Kesehatan Indonesia) terbitan Insist Press, Januari, 2014. juga buku “Makassar Nol Kilometer” dan “Jurnalisme Plat Kuning” terbitan Tanahindie Press. Sejak 2010 juga, artikel Daus diterbitkan dalam beberapa harian lokal seperti Tribun Timur, Fajar, Tempo Makassar. Dan sebagian artikel lainnya dimuat di media online seperti Indoprogress.