MB2021: Sekapur Sirih | Lidah di Ambang
16942
page-template-default,page,page-id-16942,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

LIDAH DI AMBANG

Lilla dalam bahasa Bugis berarti “lidah”.  Lidah digunakan untuk mengolah makanan dan kemudian diproses di lambung. Lidah juga menjadi hal penting dalam bertutur, terutama kepada orang lain. Dalam konteks karya ini, kamera akan berfungsi sebagai lidah untuk mentransfer materi kepada penonton/pembaca/penyimak. Sementara “Ambang” merujuk pada persoalan batas, teritori, sekat, dan limit.

 

Proyek karya seni ini merupakan kemajemukan dari lintas disiplin, di antaranya puisi, seni performans, dan audio visual dengan menggunakan objek utama eksplorasi, yakni air. Selain itu, ada beberapa objek lain yakni jahe dan kunyit sebagaimana pernah dipraktikkan nenek saya ke tubuhku. Ia menyemprotkan olahan air, jahe, kunyit ke leher saya ketika ia gagap berbicara di usia 6 tahun.

 

Karena ini berangkat dari kisah personal dan kedekatan antara objek dengan tubuh, maka tentu saja kami mendapatkan temuan baru, yakni bagaimana lapisan-lapisan ingatan itu dapat diinstal ke dalam karya digital.

Setelah mendapatkan pengumuman bahwa karya ini masuk dalam penerima Karya Normal Baru, kami melakukan siasat untuk memproduksinya dengan berangkat dari gagasan awal yakni memperlakukan kamera sebagai bagian dari aktor/tubuh itu sendiri. Proses syuting berlangsung selama 3-4 hari dalam rentang waktu yang berbeda. Kami pergi ke pasar untuk mencari kemungkinan lain dalam menggabungkan teks dan footage dari tiga daerah dan struktur yang berbeda, yakni Ammani – Pinrang , Tamalanrea – Makassar, dan juga Berlin – Kassel di Jerman. Dalam karya ini, tekstur-tekstur ini diharapkan menjadi salah satu upaya mempertanyakan ruang serta hubungannya dengan “aku-video” dan “aku-penonton”.

 

Lidah di Ambang dirilis dalam pecahan beberapa puzzle, agar penonton/penikmat karya dapat berdialog, menikmatinya secara acak, dan menghubung-hubungkan antara satu puzzle dengan yang lain. Dalam merealisasikan karya ini, kami didukung oleh Suburban Poetry Project dan Rumata’ ArtSpace.

 

Secara garis besar, karya ini berusaha mengeksplorasi medium sebagai bahasa dan sebaliknya, terutama pada persoalan keruangan, material fisik dan non-fisik, tubuh, teks, dan performans itu sendiri. Pada penyajiannya, karya ini akan terdiri dari 8 seri video pendek.

Rachmat Hidayat Mustamin

Seorang penyair, sutradara film, dan seniman performans. Karya-karyanya berfokus pada eksplorasi medium dan relasi antara tubuh, citra dan pengalaman impresif. Setelah menamatkan studinya pada bidang Media Komunikasi di Universiti Kebangsaan Malaysia, ia menyelesaikan studi Pascasarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta Jurusan Penciptaan Seni.