MB2021: Sekapur Sirih | Mappiara
16935
page-template-default,page,page-id-16935,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

MAPPIARA

Bagi tim Mappiara, ada hal yang luput di tengah kepanikan kita menghadapi pandemi, yaitu berpegang pada praktik pengobatan berbasis pengetahuan lokal yang telah dilakukan nenek moyang kita dulu. Praktik ini bisa berupa ritual atau pengobatan secara herbal. Praktik pengobatan ini perlu digali kembali, agar kelak ketika warga dilanda wabah atau penyakit tertentu, warga mampu mengobati dirinya sendiri.

 

Dalam proses mencari praktik pengobatan itu, tim Mappiara menemukan satu jenis minuman probiotik yang kita kenal dengan kombucha. Ternyata minuman ini  telah dikonsumsi sejak tahun 1940 oleh sebagaian besar masyarakat di Sulawesi Selatan.

Dalam bahasa bugis, Mappiara berarti Memelihara. Karya berbentuk video dokumenter dan video mapping ini, menggambarkan pengalaman warga di Kabupaten Soppeng dan Kota Parepare Sulawesi Selatan yang pernah membuat, memelihara dan mengonsumsi kombucha untuk mengobati berbagai penyakit. Tema karya ini dipilih merujuk kepada pemeliharaan dan perawatan scoby (symbiotic colony of bacteria and yeast) salah satu jenis ragi basah yang berperan dalam proses fermentasi seduhan daun teh dan gula menjadi kombucha.

 

Pada proses alami tersebut haruslah diperhatikan dengan baik, mulai dari menjaga kebersihan peralatan, menakar larutan teh, mencatat waktu fermentasi hingga masa panen tiba, semua dalam satu rangkaian–Mappiara. Makna Mappiara secara meluas bukan hanya tentang memelihara kombucha dari persiapan hingga panen, akan tetapi merupakan representasi dari cara warga merawat diri ketika sakit tanpa harus bergantung pada tenaga medis.

 

Sekitar tahun 1972 di Kabupaten Soppeng, kombucha kerapkali jadi bahan barter dengan ikan yang diambil dari Danau Tappareng e, (sebutan warga di Soppeng dan Sidrap jika menyebut Danau Tempe di Kabupten Wajo Sulawesi Selatan). Para nelayan di Danau Tappareng e percaya bahwa kombucha mampu menjauhkan mereka dari masuk angin ketika melaut dan membuat badan mereka terasa hangat saat malam hari. Warga di sana juga tidak mengenal sebutan kombucha, mereka hanya menyebut minuman probotik ini Mappiara (memelihara) dan jamur scoby dengan jamur pekke’ (pekat).

 

Di Parepare, mereka bertemu Ibu Mariati (57) yang dulu menderita komplikasi yang disebabkan oleh batu empedu yang menyebabkan penyempitan pada jantungnya. Ibu Mariati bahkan hampir tanda tangan persetujuan kemoterapi. Hingga pada tahun 2017, saat sedang rawat inap di salah satu rumah sakit di Parepare,  ada seorang perawat yang menawarinya teh kombucha. Sejak saat itu Ibu Mariati rutin mengonsumsi kombucha selama enam bulan dan dinyatakan sembuh. Saat ini, Ibu Mariati masih Mappiara kombucha dan rutin membagi kombucha hasil buatannya kepada tetangga.

 

Dokumenter ini juga menggambarkan berbagai zat yang bekerja dalam proses fermentasi seduhan teh dan gula menjadi kombucha menggunakan jamur scoby (symbiotic colony of bacteria dan yeast) hingga bagaimana minuman ini menciptakan jejaring pengobatan alternatif antar warga di Kota Parepare dan sekitarnya.

Awalnya judul proposal yang Syahrani Said (Rani) ajukan adalah “Kata Kota” yang mencoba melihat lebih dekat cara bertahan warga kelas menengah ke bawah dalam hal memproteksi dirinya dari gempuran Covid-19. Sadar proposal yang dibuatnya masih bersifat umum, Rani mencoba mencari praktik pengobatan herbal di warga yang sesuai dengan tema Sekapur Sirih-Makassar Biennale. Dia memutuskan meneliti tentang kombucha karena minuman probiotik ini menarik karena dibuat dan dikonsumsi oleh warga. Berbeda dengan praktik pengobatan tradisional kebanyakan yang menggunakan perantara dukun dalam proses pengobatannya. Wargalah yang membuat dan memelihara obatnya sendiri. Keputusan memilih kombucha juga diperkuat dari pengalaman orang-orang di sekitar Rani yang telah membuktikan khasiat minuman ini sebagai obat.

 

Awalnya Rani mengajak Abdul Rifai untuk berkolaborasi mengerjakan visual karya. Tetapi sebelum proses pengerjaan karya, Rani mengajak Andi Musran, Mohd Alpian Shah, Muhammad Iksan dan Soraya Ayu Ananda. Menurutnya, Karya Normal Baru ini adalah kesempatan untuk anak-anak muda di Parepare berkolaborasi antar komunitas. Akhirnya, Rani mengajak Andi Musran yang gemar mengarsip kegiatan komunitas di Kota Parepare untuk mengkomunikasi karya yang mereka kerjakan kepada warga yang mereka wawancarai. Mohd Alpian Shah sendiri adalah teman sekomunitas Abdul Rifai, mereka berdua mengambil bagian sebagai fotografer dan editor video mapping dan dokumenter. Rani juga mengajak Muhammad Iksan untuk mengerjakan visual art karya Mappiara. Terakhir Soraya Ayu Ananda yang punya pengalaman sebagai penyiar radio mengambil peran sebagai narator di video dokumenter dan notulen yang mencatat segala detail yang berhubungan dengan karya. “Saya sendiri sepanjang pengalaman hampir tidak pernah melakukan pekerjaan yang bersinggungan dengan eksekusi karya secara langsung, namun saya mengambil peran mengarsipkan hasil penelitian karya Mappiara,” tambah Rani.

 

Bagi Rani, karya Mappiara yang dikerjakan bersama lima anak muda dari beberapa komunitas dan latar belakang minat yang berbeda menjadi tantangan tersendiri, karena perbedaan ritme dan cara bekerja yang mesti disesuaikan satu sama lain dalam menggarap karya selama satu bulan. Tapi di sisi lain, karya ini memberi alternatif lain dalam memandang lanskap kesenian secara luas di Parepare. Melalui karya kolaborasi Mappiara, Rani dan Tim memperlihatkan satu model kerja baru dalam membangun ekosistem seni rupa di wilayah Parepare dan sekitarnya.

Syahrani Said, dkk

Video Mapping dan Dokumenter bertema Mappiara ini dikerjakan oleh enam anak muda Kota Parepare. 1)Syahrani Said (28) mulai bergelut di komunitas lingkungan sejak tahun 2015. Saat ini, ia bekerja sebagai Amil di salah satu lembaga penghimpun zakat sambil membangun jejaring brand lokal di Kota Parepare. Di samping itu, ia menjadi fasilitator pendamping desa dan bergabung di Komunitas Bumi Lestari, Parepare Menulis, Cerita Anak Kompleks dan DDV Parepare. 2) Soraya Ayu Ananda lahir 11 November, bersama Rani menjadi fasilitator di program Muda Berdaya Dompet Dhuafa. Bergabung di komunitas DDV Parepare, Parepare Menulis dan malam puisi Parepare. 3)Mohd Alpian Shah kelahiran 1998, mulai bergelut di dunia fotografi sejak 2016, aktif di komunitas seperti fotografi dan mural dan bergabung dengan Animesh Project. 4) Andi Musran lahir di Pinrang. Saat ini berjualan buku secara daring. Ia juga sedang mengerjakan proyek pribadi pengarsipan tentang narasi seputar Kota Parepare. 5)Abdul Rifai (22) adalah anggota komunitas Urbex People. Ia juga aktif diberbagai komunitas fotografi dan tergabung dibeberapa wadah kolektif yang ada di Kota Parepare. 6)Muhammad ikhsan lahir di Parepare, mulai bergelut di dunia design dan video sejak kelas 2 SMP, kegiatan sehari-hari sebagai pekerja lepas design. Ia Menyenangi kesenian dalam bebagai bentuk dan berkomunitas.