MB2021: Sekapur Sirih | Banda Batua, Panduan Keselamatan di Laut Saat Keadaan Darurat
17027
page-template-default,page,page-id-17027,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Banda Batu, Panduan Keselamatan di Laut Saat Keadaan Darurat

Nelayan merupakan mata pencarian utama penduduk di Banda Neira. Tetapi, dengan tidak adannya kesiapan prosedur keselamatan di perairan, keselamatan nyawa nelayan pun menjadi resiko paling besar dalam pekerjaan mereka. Hampir setiap tahun setidaknya ada beberapa kasus korban nelayan Banda yang hilang di telan lautan. Beberapa dari mereka berhasil di selamatkan dan beberapa hilang selamanya termasuk beberapa sahabat Alwi juga hilang. Karena itulah isu keselamatan nelayan ini penting baginya.

 

Pada 2018 lalu, Alwi pernah memamerkan karya berjudul “Pertemuan Nyong Tataruga Dengan Penguasa Laut” di Galeri Nasional Jakarta. Dalam karya itu, dia mendesain pelampung yang bisa dipakai sebagai baju keseharian nelayan. Dalam karya Normal Baru ini, Alwi melanjutkan proyek yang sama dengan metode yang berbeda dengan tujuan untuk bisa memberi panduan keselamatan yang bisa dibaca dan dipahami dengan mudah oleh nelayan di Indonesia.

Banda Batua (Panduan Keselamatan di Laut Saat Keadaan Darurat) merupakan karya berbentuk buku visual singkat yang berisi berbagai informasi yang penting untuk bertahan hidup di laut. Kata batua diambil dari bahasa asli Banda yang berarti memancing.

 

Buku ini di desain menyerupai buku darurat yang biasa kita dapatkan di pesawat. Buku bersampul merah ini berisi berbagai informasi tentang benda yang wajib dibawa ketika melaut, makanan yang bisa dimakan saat situasi darurat, gambar-gambar benda yang bisa dipakai mengapung ketika kapal tenggelam, cara membuat air minum bersih menggunakan teknik desanilasi berbasis tenaga surya, dan beberapa benda yang bisa dipakai untuk mendapatkan bantuan di situasi darurat.

 

Selain beberapa panduan praktik keselamatan di atas, buku ini juga berisi resep permen jahe yang bisa dibuat sendiri dan dikonsumsi untuk menghindari mabuk laut. Di halaman akhir buku ini juga terdapat permainan cari kata yang bisa dimainkan para nelayan saat jenuh berada di laut.

Karya berbentuk buku ini digarap Alwi mulai dari proses riset keselamatan di laut. Selanjutnya, masuk dalam proses desain, proses riset ini dilakukan Alwi dengan cara menjadikan nelayan sebagai “client”nya. Maka dari itu, saya membuat korporasi nelayan palsu yang bernama Banda Batua. Kata batua diambil dari bahasa asli Banda yang berarti memancing. Dengan pendekatan ini, karya yang dihasilkan menjadi praktikal dan gampang dimengerti oleh nelayan.

M.S. Alwi

M.S Alwi (26) adalah seniman multidisiplin asal Banda Neira yang berbasis di Jakarta. Karya-karyanya banyak membahas berbagai isu sosial budaya yang secara personal dia alami dan rasakan. Selain membuat karya yang ekspresif (lukisan/gambar), Alwi juga kerap membuat karya yang bersifat “fungsional” seperti karyanya yang berjudul “Pertemuan Nyong Tataruga dengan Penguasa Laut” di mana ia mendesain pelampung yang bisa dipakai sebagai pakaian sehari hari. Selain itu, karyanya yang berjudul “Klinik Swalayan” membahas isu aborsi dengan mendesain klinik OBYGN dengan media tong sampah.