MB2021: Sekapur Sirih | Sowan
17000
page-template-default,page,page-id-17000,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

SOWAN

Dalam karya ini, Akbar dan Syaiful mencoba mempertanyakan kembali “penemuan” dalam konteks pengobatan yang tersedia di alam, mereka berpikir bahwa vitamin A, B, C, D dan sebagainya telah terkandung pada setiap obat-obatan yang diramu dan dikonsumsi sejak dulu oleh nenek moyang kita di nusantara setiap hari.  Kita telah lama menggunakan sumber daya alam di sekitar kita untuk obat atau asupan gizi secara turun-temurun bahkan sebelum nutrisi tersebut “ditemukan” oleh masyarakat barat, jejamuan menjadi pengobatan sekunder, kita lebih memilih obat-obatan yang berada dalam kemasan plastik, berbiaya mahal, diproduksi oleh korporasi besar, dengan segala bentuk pemasaran yang nampak menjanjikan.

 

Dunia mikroskopik yang kita sadari selama ini diyakini sebagai dunia nyata namun kasat mata, bahkan seperti mitos, ketika kandungan suatu obat dikatakan berkhasiat dan mengandung unsur-unsur tertentu kita hanya mendapatkan informasi secara verbal, namun secara visual kita tidak pernah melihat seperti apa kandungan-kandungan tersebut. Maka dari itu Akbar dan Syaiful akan membawa pemirsa bertemu dunia mikroskopik jejamuan yang selama ini membuat kita sehat walafiat, kuat sebagai masyarakat Indonesia selama ini

Sowan 1/so·wan/ Jw v menghadap (kepada orang yang dianggap harus dihormati, seperti raja, guru, atasan, orang tua); berkunjung (https://kbbi.web.id/sowan).

 

Sowan adalah proyek seni rupa yang dipresentasikan dalam format video melalui kanal Youtube https://bit.ly/2Y9MUVY dan IGTV @sowanproject, karya ini menampikan reaksi kimia mikroskopik dari 10 ramuan jamu yang umum di buat di rumah, antara lain: Empon-Empon, Kunir Asem, Masuk Angin, Jamu Kuat, Galian Singset, Beras Kencur, Pegal Linu, Sinom, Gepyokan, Sari Rapet.

Karya video berseri ini disertai audio wawancara dengan satu narasumber. Setiap jamu beri pokok bahasan yang berbeda-beda. Namun, pokok bahasan tersebut tidak lagi membahas jamu itu sendiri, melainkan persoalan-persoalan keseharian manusia Indonesia yang berhubungan dengan khasiat jamunya, setiap pokok bahasan tersebut akan diwakilkan oleh audio wawancara dan respons bunyi dari setiap narasumber yang kompeten di bidangnya. Total karya yang dipresentasikan sebanyak 10 episode dengan 10 narasumber. 10 episode itu akan diunggah dua kali dalam seminggu secara berkala.  Video ini di antaranya:

  1. Jamu Masuk Angin, membahas “Kesendirian di Luar Ruang”, Puisi oleh Theoresia Rumthe (Penulis)
  2. Jamu Pegal Linu, membahas “Kerja Keras”, Respons musik oleh Baya Risbaya (Musisi, Mr. Sonjaya, Syarikat Idola Remaja, Petani Jamur)
  3. Jamu Sari Rapet, membahas “Formalisme dan visual pleasure dalam seni rupa”. Narasumber:Patriot Mukmin (Perupa, Pengajar Studio Seni Lukis FSRD ITB)
  4. Jamu Galian Singset, membahas “Otoritas Tubuh, Kekerasan & Pelecehan Seksual”. Narasumber: An Nissa Yovani (Samahita).
  5. Jamu Gepyokan/Uyup-Uyup, membahas Lingkungan Berkelanjutan dan Ketahanan Pangan. Narasumber: Misbah Dwiyanto (Petani, Pemilik Perkebunan Sistem Permakultur “Kebun Belakang”)
  6. Jamu Kunyit Asem, membahas “Hormon dan Rahim”. Respons cerita oleh Maesa Ranggawati Kusnandar (Dokter dan Penulis).
  7. Jamu Kuat Pria, membahas “Poligami & Maskulinitas dalam Islam”. Karya bunyi oleh Angga Wedhaswara (Seniman Performans).
  8. Jamu Beras Kencur, membahas “Pendidikan dan Asupan Gizi pada Bekal Murid Sekolah”. Narasumber: Dwi Kartika Yuddhaswara (Guru, Musisi di Nada Fiksi & Syarikat Idola Remaja)
  9. Jamu Empon-Empon, membahas “Imunitas”. Narasumber: Ahli Biomolekuler (masih dalam konfirmasi).
  10. Jamu Sinom. Membahas “Wajah, Make-up dan Topeng”. Narasumber: Make-up Artist (masih dalam konfirmasi).

Pada proses pertama, Akbar dan Syaiful memilih jamu yang biasa di konsumsi oleh masyarakat umum dan mereka sendiri, terpilihlah 10 jamu-jamuan: Empon-Empon, Kunir Asem, Masuk Angin, Jamu Kuat, Galian Singset, Beras Kencur, Pegal Linu, Sinom, Gepyokan, Sari Rapet. Mereka tidak memilih untuk membahas khasiat jamu itu sendiri, melainkan khasiatnya dengan kehidupan sehari-hari manusia Indonesia. Setelah mengontak narasumber untuk wawancara, dan beberapa lainnya untuk merespons karya dengan media bunyi.

 

Format akhir presentasi karya dalam bentuk sepuluh episode ini dibuat seragam termasuk durasi. Akbar dan Syaiful Melakukan treatment yang berbeda di setiap jamu yang akan ditampilkan per episode. Mulai dari segi pengambilan gambar dan editing. Dalam presentasinya mereka mengundang narasumber dari ahli gizi, dokter, guru, peminum dan peramu jamu, format tayangan yang akan disajikan berupa pertunjukan visual mikroskopik jejamuan. Para narasumber (baik itu wawancara dan perespons) diberi kerangka acuan terkait tema dan yang dilakukan terkait karya pertemuan via zoom untuk bernegosiasi.

Syaiful Garibaldi

Syaiful Garibaldy alias Tepu lahir 1985 di Jakarta. Bekerja di Bandung, lulus dari Jurusan Seni Rupa di FSRD ITB. Sempat mengambil jurusan Agronomi UNPAD yang menjadi latar belakang karya-karyanya banyak memadukan sains dan seni yang membuka cara baru mengakses dunia sains melalui karya-karya cetak dan instalasinya, Tepu menempatkan ketertarikannya pada kekuatan dunia microorganisme sebagai simbol kematian dan penguraian di alam sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.

Muhammad Akbar

Lahir 1984. Bekerja di Bandung, lulus dari jurusan Pendidikan Bahasa Perancis FPBS UPI kemudian melanjutkan studinya di Jurusan Magister Seni Rupa FSRD ITB. Banyak bekerja dengan medium video, gambar bergerak & citra digital, praktik artistiknya didasarkan pada kesadaran diri sebagai objek yang dilihat oleh orang lain dan melihat orang lain, yang tertanam sebagai tontonan atau penonton dalam keseharian teknologi layar. Akbar mendorong pemirsa untuk mempertanyakan keadaan dualitas ini dan kesadaran visual mereka sebagai bentuk kontrol sosial. Pameran Tunggal: Tatapan [Tak Terlihat] (Gaze [The Invisible]). Selasar Sunaryo (2012).