MB2021: Sekapur Sirih | Tabib Pasongsongan
17010
page-template-default,page,page-id-17010,page-child,parent-pageid-16775,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

TABIB PASONGSONGAN

Pengerjaan karya Tabib Pasongsongan dimulai Shofiful Ridho’I dari menggali informasi dari nenek dari pihak ibu dan bibi dari pihak bapaknya untuk mendapatkan informasi tentang macam-macam rempah yang dipakai untuk pembuatan jamu, metode pengolahan berbagai rempah menjadi jamu, dan khasiat atau kegunaan jamu tersebut bagi kesehatan yang dilakukan dua neneknya dulu. Data hasil wawacara itu selanjutnya dibandingkan dengan sumber-sumber teks dari platform online dan website kesehatan.

 

Setelah pengumpulan data selesai, Shofifur menentukan bentuk karyanya. Ia memilih bentuk format manuskrip kuno yang ditulis dengan menggunakan aksara Arab Pegon Madura karena ini merupakan aksara awal yang dipelajari di bidang ilmu baca tulis di keluarga Shofiful. Membuat outline isi naskah, menulis naskah, dan menggambar sketsa rempah. Semua proses produksi teks ini dilakukan secara manual dan ditulis di atas kertas bookpaper 57 yang telah diolah menjadi (seolah) kertas tua.

 

Selanjutnya semua teks hardcopy itu discan dan diolah-dilayout di komputer melalui aplikasi desain menjadi softcopy untuk penayangan di platform online. Mengingat bentuknya adalah kitab, maka pengunggahan manuskrip ini menggunakan laman FlipHTML 5, sebuah platform yang dikhususkan untuk flipbook atau publikasi buku digital.

Tabib Pasongsongan merupakan kitab yang terdiri dari 36 halaman, berisi nama dan ilustrasi rempah beserta manfaatnya bagi kesehatan. Kitab ini berisi 15 jenis rempah diantaranya Daun Pepaya, Sintok, Kunci, Cabe Jamu, Kendawung, Manjakani, Temulawak, Kayu Manis, Beluntas, Kunyit Putih, Kunyit Merah, Lengkuas, Pandan Betawi, Bunga Pepaya dan Temu Ireng. Karya ini juga memuat dua metode pengolahan rempah itu.

 

Dua metode ini berasal nenek Shofifur dari pihak ibu dan bapaknya. 1)Metode Rukayya (nenek dari pihak bapak), dalam metode ini, semua rempah dikeringkan, kemudian disangrai, lalu digiling sampai halus. Hasil akhirnya adalah bubuk jamu. 2)Metode Sudahma (nenek dari pihak ibu), dalam metode ini, semua rempah diparut, lalu diambil airnya (sari airnya) kemudian dimasak sampai mendidih. Hasil akhrinya berupa jamu cair siap konsumsi. Karena kedua neneknya tinggal dan memproduksi jamu di Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Shofifur memilih judul karyanya Tabib Pasongsongan.

 

Kitab ini dibuat untuk memberikan pengertian bahwa sejarah kesehatan, pengetahuan atas rempah, dan cara-cara bertahan hidup dari ancaman penyakit dan seterusnya sesungguhnya dimiliki oleh setiap komunitas warga lokal, dengan sistem pengolahan melalui teknologi tradisional yang mereka miliki. Penggunaan aksara Arab Pegon dalam manuskrip ini tidak saja sebagai upaya memulihkan ingatan atau sejarah atas tindakan pencatatan pengetahuan lokal di masa lalu, melainkan juga sebagai artikulasi tentang bagaimana warga Madura di masa lalu–yang sebagian besar pendidikannya ditempuh di lingkungan pesantren–mendapat akses terhadap pengetahuan berbasis teks (selain pengetahuan yang didistribusikan secara lisan).

 

Manuskrip online ini tersedia di laman FlipHTML 5, sebuah platform yang dikhususkan untuk flipbook atau publikasi buku digital.

Shohifur Ridho’i

Seniman pertunjukan dengan melibatkan pendekatan serta medium penciptaan lintas disiplin. Lahir di Sumenep, Madura, 02 Januari 1990. Sejak 2010 mukim di Yogyakarta. Mendirikan rokateater, sebuah platform yang bertujuan menjadi situs pertemuan dan perlintasan dari para praktisi di berbagai bidang, dengan menggunakan ‘seni pertunjukan’ sebagai pendekatannya. Sejak 2017, bersama rokateater, Ridho tertarik menggali isu tentang operasi/kontrol kekuasaan di dalam fotografi identitas. Karya-karyanya dalam tiga tahun terakhir antara lain: Passport, Passphoto (2018), Nameless Faces (2019), Otobiografi (2019), Heterotopia: Dapur (work in progress, 2020). Tahun 2019, bersama Ayos Purwoaji mengkuratori pameran Nemor: Southeast Monsoon di Cemeti Institute, Yogyakarta. Tahun 2020, bersama Riyadhus Shalihin menginisiasi zine Sandi/wara, sebuah mini-publikasi tentang peristiwa dan pertunjukan.