Makassar Biennale 2019 | Menyisir Masyarakat Pesisir
16595
post-template-default,single,single-post,postid-16595,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
 

Menyisir Masyarakat Pesisir

“…Kekasih hari ini aku ingin bercerita. Tentang nelayan yang menjual perahunya, mengubah lajur hidupnya. Sebab terampas laut dan gelombangnya…”

– Sombanusa, “Kepada Kekasih”

Seratus enam puluh juta (60 persen) penduduk Indonesia mendiami wilayah pesisir. Fakta ini, diterjemahkan Presiden Indonesia, Jokowi, dalam visinya yang disampaikan pada tahun 2014 di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar, dengan ambisi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Untuk menegaskan ini, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16/2017 diterbitkan dengan pertimbangan Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas dengan potensi sumber daya kelautan yang melimpah sehingga perlu dikelola secara optimal dan berkelanjutan.

Visi presiden Indonesia, Jokowi, mendapat tantangan yang besar. Dari Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, kita banyak mendengar tentang illegal fishing yang hasilkan banyak penenggelaman kapal. Bahkan aksi itu menghasilkan jargon dan banyak meme yang berseliweran di media sosial dengan kata “Tenggelamkan”—merujuk cara Susi membasmi kapal-kapal yang ketahuan melakukan praktik illegal fishing.

Di Bulukumba, Sulawesi Selatan, berada 200-an kilometer di tenggara Kota Makassar, tiga fotografer: Ahmad Nadir, Rahmat “Valent” Alvian, dan Syamsurya “Felix” Pratama, merekam dengan kamera tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan dan produk-produk laut seperti ikan. Potret-potret itu, mereka pamerkan pada Makassar Biennale 2019 – Bulukumba di Tarungku Toae, Jalan Jenderal Sudirman, Bulukumba.

Ahmad Nadir, fotografer asal Bulukumba, merekam aktivitas nelayan lingkungan Togambang, Kelurahan Matekko, Kecamatan Gantarang, ketika musim kemarau tiba. Di saat musim kemarau, laut di lingkungan Togambang mengalami surut yang ekstrem. Di saat-saat itu, nelayan hanya sibuk membersihkan perahu dan jalanya. Lain lagi dengan petani rumput laut. Panen mereka terancam gagal karena rumput laut yang mereka tanam tidak terendam. Rumput laut di tengah surutnya air laut, seperti pakaian yang dijemur di bawah matahari.

Kemarau diprediksi akan berlangsung dalam durasi yang lama tahun 2019. Ada dua alasan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Indra Gustari dalam berita yang ditulis Ellyvon Pranita (2019), “BMKG: Musim Kemarau Tahun Ini Lebih Lama, Harap Waspada Kekeringan”:

“Pertama, anomali atau simpangan terhadap rata-rata suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia masih terlihat negatif atau lebih rendah dari biasanya. Kedua, muson Asia yang biasanya membawa banyak hujan ke Indonesia terutama Jawa atau daerah di sebelah equator, tampak agak lambat munculnya atau menjalar ke selatan Indonesia… BMKG memprediksi, jika biasanya musim hujan akan mulai masuk pada bulan Oktober, di tahun ini akan mundur beberapa hari, sekitar 10-30 hari, tergantung pada kondisi.”[1]

Seperti Nadir, saya membayangkan apa yang terjadi selama kemarau panjang berlangsung di Togambang. Mengimajinasikan mereka mendapatkan ikan dalam jumlah kecil karena menjala dan mencari ikan di laut yang surutnya ekstrem, juga rumput laut yang perlahan-lahan mati dan gagal panen.

Di saat Nadir merekam ancaman gagal panen rumput laut di Togambang, Valent justru merekam bagaimana rumput laut menjadi komoditi yang menggoda warga Desa Salemba, Kecamatan Gantarang, dari nelayan dan petani tambak beralih menjadi petani rumput laut karena harga yang stabil dan panennya yang cepat. Peralihan ini mengorbankan satu perangkat kebudayaan, panambe, alat yang sering dipakai oleh nelayan di Bulukumba untuk menangkap ikan. Alat ini pelan-pelan ditinggalkan karena banyak nelayan beralih menjadi petani rumput laut.

Panambe bukan saja alat yang berfungsi sebagai penangkap ikan. Ia juga jadi basis material warga yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kebudayaan seperti gotong-royong. Menurut Valent, panambe dilakukan oleh banyak orang, kemudian hasilnya dibagi-bagi pada mereka yang turut serta membantu memungut ikan, tentu saja pembagian ini dilandasi dari kemurahan hati si pemilik panambe.

Setelah warga menjadi petani rumput laut, kearifan lokal yang dimiliki warga Desa Salemba ketika bergotong-royong menangkap ikan dengan panambe tidak serta merta hilang. Kearifan lokal itu juga mereka praktikkan ketika memanen rumput laut. Dengan pola yang sama, warga bergotong-royong memanen rumput laut dan mendapat upah dari kerjanya. Perbedaannya barangkali terletak pada pembagian untuk mereka yang tidak terlibat secara langsung memanen rumput laut, tetapi menyiapkan makanan, kopi, dan lain-lain.

Ada persoalan lain dari tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir. Selain karena modernisasi, hilangnya perangkat budaya seperti panambe, ada persoalan yang tidak selesai seperti kemiskinan dan kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga banyak dipicu oleh alasan ekonomi. Di masyarakat pesisir, kekerasan dalam rumah tangga seringkali terjadi ketika para suami tidak pergi melaut karena musim barat. Desakan para ibu dan anak untuk memehuni kehidupan sehari-hari, berujung pada tekanan berat yang membuat para bapak, nelayan-nelayan di pesisir, seringkali mengalami stres. Akibatnya, mereka terdesak dan kalut lalu ‘main tangan’ pada istri mereka.

Di Bulukumba, data yang dikeluarkan oleh Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Bulukumba, tercatat 186 kasus kekerasan dalam rumah tangga di tahun 2016. Dari angka itu, 72 kasus terjadi di Kecamatan Ujung Bulu,[2] salah satu daerah pesisir yang ada di Bulukumba.

Melihat tantangan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir, ini jadi persoalan besar sebab 60 persen masyarakat Indonesia hidup di daerah ini. Artinya, banyak masyarakat kita yang juga terancam mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan, jika tantangan kemaritiman kita hanya digantungkan pada pemerintahan saja. Ini menjadi masalah kita bersama.

Felix mengangkat tema yang masih berhubungan dengan masyarakat pesisir. Ia merekam Pasar Cekkeng, pasar yang terletak di daerah pantai Kampung Ela-Ela, Kecamatan Ujung Bulu, Bulukumba. Pasar ini dinamai dari cara para pedagang di sana berjualan: cekkeng yang berarti jongkok. Pada tahun 2017, pasar ini direnovasi dengan tata letak yang menurut Felix bermasalah karena penjual ikan didekatkan dengan penjual kue. Menurut Felix, kedekatan ini akhirnya menimbulkan kesan ‘kumuh’ karena bau ikan yang menyeberang ke penjual kue.

Karya Felix merupakan karya yang interaktif. Ia menyediakan kertas dan spidol agar pengunjung yang datang dapat memberikan saran bagaimana seharusnya penjual kue dan penjual ikan diletakkan. Ia menggambar denah Pasar Cekkeng dengan dua kode bergambar ikan dan makanan sebagai penanda tata letak yang saat ini ada di Pasar Cekkeng. Felix, lelaki energik ini pecinta kue taripang, itu sebabnya, ia merasa perlu ada sekat untuk menghalangi bau ikan yang tecium di tempat penjual kue.

Kue di Pasar Cekkeng merupakan komoditi yang laku, sebab seperti gerai, kue-kue di Pasar Cekkeng dibeli dan dijual kembali. Salah satu kue yang jadi buruan warga adalah taripang. Kue taripang yang sempat ditangkap Felix pada kameranya saja, ia mesti bernegosiasi dahulu dengan pembeli terakhir kue itu agar dipajang kembali dan difoto. Meski di foto yang Felix pamerkan, berbeda secara visual karena tanpa talenan dan hanya beralas kantong plastik hitam. Pasar Cekkeng sebenarnya beroperasi sampai jam sepuluh pagi saja. Meski beberapa pedagang masih tinggal sampai jam sepuluh malam. Hal ini disebabkan karena para pedagang di Pasar Cekkeng, ada juga yang berdagang di Pasar Sentral Bulukumba.

Persoalan gagal panen rumput laut, panambe, kue, dan pasar, pada akhirnya saling berjalin jejal membentuk satu ekosistem maritim dengan pengertian yang luas. Persoalan maritim kemudian menjadi praktik seni dan ekspresi artistik seperti apa yang dipamerkan Nadir, Felix, dan Valent di Makassar Biennale 2019 yang berlangsung di Tarungku Toae dari tanggal 16 September sampai tanggal 22 September 2019.

Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie.

[1]ElyvonPranita, https://sains.kompas.com/read/2019/08/07/111232623/bmkg-musim-kemarau-tahun-ini-lebih-lama-harap-waspada-kekeringan?page=all, diaksespada 19 September 2019, pukul 3.47 Wita.

[2]Mustaqim, http://radarsulbar.fajar.co.id/2016/02/08/oalaa-ada-186-kasus-kdrt-di-bulukumba/, diaksespada 19 September 2019, pukul 4.46 WITA.

No Comments

Post A Comment