PEMBUKAAN MAKASSAR BIENNALE 2021

Revisi Memori, Batu-Batu, dan Bayang-Bayang di Malam Pembukaan Makassar Biennale 2021
09/01/2021
Diskusi Lomba Foto “Sunset Kayak di Pantai” bersama Armin Hari
09/02/2021
Show all

PEMBUKAAN MAKASSAR BIENNALE 2021

1 September 2021 kemarin, ajang dua tahunan Makassar Biennale (MB) dibuka secara resmi. Bertempat di Kampung Buku Ininnawa di Jl. Abdullah Daeng Sirua 192 E.  Pembukaan MB 2021 Maritim: Sekapur Sirih dimulai sejak pukul 17.00 WITA hingga 22.00 WITA, dengan agenda yang cukup padat namun dikemas dalam konsep bincang sore yang santai bersama Anwar Jimpe Rachman (Direktur Yayasan Makassar Biennale), Fitriani A Dalay (Kurator), bersama Hirah Sanada, Viny Mamonto, Eka Wulandari—Ekbess (Seniman Residensi), Rachmat Hidayat Mustamin (Seniman) dan Muhlis Lugis, seniman cukil yang juga berpameran di rangkaian panjang kegiatan tersebut.

Jimpe selaku pembuka kegiatan memaparkan hal sehubungan dengan latar belakang pelaksanaan MB 2021. Melalui subtema Sekapur Sirih yang dimaksudkan untuk merespons pandemi menggunakan pengobatan-pengobatan tradisional. Memanjangkan ingatan yang terwariskan terkait resep pengobatan yang berada dekat di sekitar keseharian kita. Selanjutnya Fitriani A Dalay (Piyo) menyambung sambutan tersebut dengan memfokuskan pembahasannya pada kegiatan residensi yang menitik beratkan kerja-kerja perempuan untuk dapat berdaya melampaui diri. Dari ruang yang disediakan, para seniman tersebut mengekspresikan dirinya dalam menanggapi media pengobatan tradisional dengan lebih mendalam.

 

 Ekbess, Hirah dan Viny sebagai seniman residensi juga turut menyampaikan cerita perjalanannya dalam menyelesaikan karya pada pembukaan kegiatan itu. Di kurun waktu beberapa minggu, dimulai dengan menetapkan arah akan menyiapkan karya seperti apa dilanjutkan dengan proses penelitian untuk bisa mengeksekusi karya melalui kerja-kerja kreatif. Eka yang melampaui dirinya dengan coba menyeriusi video berupa stop motion yang dulu hanya ia coba-coba untuk menyebarkan resep makanan sehat untuk memperbaiki pola pencernaan. Di mana ia belajar untuk lebih mengeksplor diri, menyiapkan dan mengedit video dengan berbagai aplikasi yang terbilang asing baginya hingga mengaplikasikan resep pengobatan yang ia ketahui melalui narasumber penelitiannya. 

Hirah yang berani untuk lebih mengenalkan pengobatan bawang putih melalui media lukisan yang ia geluti, dengan cara kreatif untuk lebih menekankan eksistensi penggunaan bahan di dapur untuk menyembuhkan sakit di tubuhnya. Serta Viny yang dikenal sebagai musisi, memperlakukan dapur sebagai arena menyenangkan melalui karya pertunjukan yang ia rancang di sana. Mengajak orang-orang untuk mengingat bahwa pendefinisian diri juga bisa melalui makanan apa yang dicerna—bahwa kita adalah apa yang kita makan. Perjalanan karya yang telah berhasil diselesaikan, turut diusahakan semaksimal mungkin melalui kerja-kerja reflektif para kurator dan asisten kurator—Aziziah Diah Aprilya dan Wilda Yanti Salam yang coba melihat dan menilai lebih intens di sudut dunia perempuan dan dapur. 

Tidak hanya dibuka dengan sambutan dan sesi tukar cerita dari para seniman residensi, kegiatan ini juga turut dimeriahkan dengan penampilan-penampilan. Setelah beranjak dari sore ke malam, dengan memanfaatkan dinding sebagai penangkap bayangan antara tubuh fisikal dan tubuh kinetik serta batu-batu sebagai unsur pertunjukan “Revisi Memori, Batu-Batu, dan Bayang-Bayang” oleh Rachmat Mustamin dan Deli Luhukay, mereka merespons ruang dengan coba melebarkan pengertian sebuah panggung. Menetapkan nama pertunjukan yang terbilang menyudutkan, mereka hendak menyikapi kembali makna hidup untuk menghadapi hari nanti. Merujuk pada subtema Sekapur Sirih, bahwa momen tertentu yang coba direlakan dapat menjadi proses pemulihan diri antara manusia dengan pencipta. Lalu, dilanjutkan dengan alunan beberapa lagu Bugis yang ditampilkan secara khas oleh Pelakor (Pelantun Keroncong). Dengan musiknya yang bergaya keroncong dan langgam menggunakan instrumen cuk, cak, cello, dan gitar yang memadukan pola dasar keroncong dan petikan Losquin Makassar, mereka berhasil membawa ingatan pendengarnya ke memori masa kecil melalui lantunan lagu-lagu daerah yang seakan tidak ada lelahnya untuk terus ditampilkan.

Sebagai respons terhadap pandemi dan upaya agar pembukaan berlangsung secara intim, pembukaan ini hanya menghadirkan puluhan teman-teman komunitas yang diundang. Dalam hal ini, juga dengan maksud untuk membatasi angka kerumunan di tengah pandemi. Selanjutnya, rangkaian acara kegiatan hari itu ditutup dengan dibukanya pameran karya seniman residensi di dalam area Kampung Buku Ininnawa. Dengan arahan untuk tetap mengikuti protokol kesehatan, para tamu undangan melihat dan mengamati karya yang ditampilkan di sana dengan sebisa mungkin menjaga jarak aman

Namun tidak berhenti di titik tersebut, kegiatan ini akan dilanjutkan di esok dan di hari-hari selanjutnya. Rangkai acara yang secara resmi dibuka di hari tersebut merupakan langkah awal dari rentetan acara yang akan dilanjutkan terhitung selama dua bulan ke depannya. Dalam hal ini, pameran karya seni akan terus dilaksanakan sampai tanggal 14 September 2021 di tiga lokasi berbeda, yakni di Kampung Buku Ininnawa, Floom, dan Artmosphere Studio serta dilengkapi dengan agenda wicara seniman, diskusi, dan lokakarya yang akan dilakukan di sepanjang bulan September dan Oktober.[]

Nurul Muthmainnah, tim dokumentasi Makassar Biennale 2021

1
10
9
8
6
5
4
3
2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *