Makassar Biennale 2019 | Pendidikan Seni Yang Kehilangan Konteks
16112
post-template-default,single,single-post,postid-16112,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
 

Pendidikan Seni Yang Kehilangan Konteks

“Kalau pendidikan seni mau bagus, jangan diatur-atur sama orang dari Jakarta. Ini persoalannya. Yang nulis dari Jakarta, Cirebon, dan Surabaya. Padahal pernah ada niatan pada tahun 2010 bahwa pendidikan seni itu tidak berbasis pusat, tetapi berbasis daerah. Tapi disalip oleh kurikulum 2013,” kata Prof. Sofyan Salam, dalam seminar Makassar Biennale 2017 bertajuk “Pendidikan Seni dan Jaringan” saat diminta pandangannya oleh para narasumber. Menurutnya, inilah yang merusak pendidikan seni kita, karena seni harusnya berbasis daerah.

Konsep pendidikan di Indonesia masih bersifat sentralistik. Kurikulum 2013 yang dimaksud Prof. Sofyan adalah pendidikan yang sifatnya sentralisasi akan mendekatkan peserta didik asing bagi dirinya dan hati nuraninya. Hal tersebut disebabkan karena peranan guru yang seharusnya dilaksanakannya tetapi diambil alih oleh pusat. Misalnya mengenai penentuan kurikulum sendiri di daerah masing-masing, tetapi dalam sentralisasi dialihkan semuanya ke pusat untuk mengaturnya. Inilah yang menyebabkan keasingan peserta didik terhadap dirinya.[1] Dalam kesenian misalnya, pemerintah pusat menentukan kesenian apa yang harus dipelajari oleh peserta didik di sekolah. Sebagai orang yang hidup di Makassar, wajar saja kesenian yang bersifat kebudayaan tidak dipelajari secara mendalam jika melihat sistem pendidikan ini.

Abdur Arsyad, seorang komika, menceritakan pendidikan yang tidak kontekstual dengan memberi contoh ‘Budi’ sebagai nama yang banyak dipakai oleh orang Jawa, dipelajari dalam pelajaran membaca oleh orang timur, bahkan Indonesia secara umum. Menurutnya, nama yang dipakai jika kontekstual dengan orang di timur, seperti Eduardus misalnya. Walau penjelasannya tidak secara detail mengkritik konsep pendidikan di Indonesia, ia menekankan bagaimana sentralisasi pendidikan membuat pelajaran yang diajarkan begitu asing dengan budaya ‘nama’ di Indonesia Timur, misalnya. Mereka dipaksakan menerima sesuatu yang asing, dan parahnya lagi harus dipahami, dimengerti, dan diajarkan kepada mereka. [2]

Nirwan Ahmad Arsuka juga menyinggung hal tersebut dalam seminar “Pendidikan Seni dan Jaringan”. “Para pembuat perahu di sana itu mengeluh, mengapa pengetahuan tentang pinisi itu tidak masuk dalam kurikulum?” jelas Nirwan Arsuka. Menurutnya, kurikulum yang digarap pun di sekolah pelaut yang ada di Sulawesi Selatan, lebih banyak mempelajari ilmu yang tidak berkait langsung dengan kebutuhan para seniman perahu di Sulawesi Selatan. Ia berkata bahwa unsur-unsur yang berkaitan dengan perahu atau kapal yang dipelajari di sekolah itu lebih berhubungan dengan kapal-kapal produksi Eropa atau Amerika, yang rata-rata dibuat oleh besi. Kapal-kapal yang dibuat dengan kayu, bahan yang biasa dipakai oleh seniman perahu di Sulawesi Selatan, tidak dimasukkan dalam kurikulum dan dipelajari. Sehingga harapan para panrita lopi atau seniman perahu ini, makin lama makin pupus karena tidak adanya metode yang membuat pewarisan pengetahuan mereka berjalan dengan baik.

Haji Usman, salah satu pembuat perahu padewakkang, mengakui bahwa hampir seluruh pengetahuannya tentang cara membuat perahu telah dicatat oleh Horst, warga negara Jerman yang banyak meriset tentang perahu tradisional di Sulawesi Selatan. Namun menjadi problem dalam distribusi dan desiminasi pengetahuan karena risetnya belum beredar secara luas atau belum muncul dalam teks berbahasa Indonesia. Sehingga, pengetahuan hanya terkumpul di kepala satu orang saja.

Selain masalah kurikulum yang absen dalam mendistribusikan pengetahuan pada lintas generasi, Nirwan Arsuka juga menjelaskan tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh seniman perahu di daerah Bira, Ara, Bonto Bahari, dan Tana Beru tentang pengetahuan yang sulit dihimpun dan diwariskan. Ini adalah dampak dari apa yang dimaksud oleh Prof. Sofyan menyinggung kesenian yang sangat sulit diwariskan karena tersentralisasi, tidak memberikan kebebasan pada daerah untuk mengatur sistem pendidikannya sendiri.

Menurut Nirwan, seniman perahu ini mempunyai gaya dan karakteristik tersendiri dalam membuat sebuah perahu, karena sifatnya sangat personal. Ia menganalogikan Afandi dan Basuki yang sama-sama pelukis, tapi mempunyai gaya yang sangat berbeda dalam melukis.

Selain masalah kurikulum, masalah regulasi yang memberatkan, terutama untuk pelaku seni membuat distribusi pengetahuan menjadi mandek. Sejak zaman VOC kemudian diteruskan oleh zaman Orde Baru, pelayaran rakyat adalah pelayaran liar yang harus dikontrol, karena banyak hal yang tak bisa dikendalikan oleh pelayaran rakyat. Di zaman VOC misalnya, pelayaran rakyat melakukan penyelundupan rempah-rempah yang dilakukan lewat perahu-perahu kayu tersebut. Menurut Nirwan Arsuka, karena kemampuan mobilitasnya yang sangat besar, negara mencoba mengendalikan pelayaran rakyat dengan cara membuat prosedur perizinan menjadi sulit dipenuhi. Artinya, kapal-kapal besar yang mempunyai izin dan tunduk pada penguasa, itulah yang diizinkan untuk beredar, katanya.

Senada dengan Nirwan Arsuka, seorang penanya dalam seminar itu bernama Andi Akbar Ilyas Ibrahim Husain, alumni pendidikan sejarah Strata satu UNM, menceritakan pada tahun 2012, ia dan beberapa temannya dari Pendidikan Sejarah UNM, mengadakan studi maritim di Wagola, Buton. Setelah mewawancarai beberapa nelayan, dan para nelayan itu mengaku bahwa ke depannya mereka akan sulit membuat perahu lambo dengan alasan kesulitan bahan. Ia mempertanyakan, bagaimana mempertemukan masalah regulasi lingkungan hidup, kemaritiman dan kebaharian dengan masalah pembuatan perahu yang memerlukan bahan dasar yang disediakan alam?

Nirwan Arsuka menanggapi pertanyaan itu mengatakan bahwa hubungan antara bahan dan karya sangat penting. Tanpa bahan tidak mungkin muncul karya. Masalahnya adalah, seniman perahu selalu saja resah dengan ketersediaan bahan. Menurutnya, ini mungkin juga akibat dari penebangan hutan yang tak terkontrol, sehingga bahan-bahan untuk membuat perahu harus didatangkan dari luar.

“Kalau kita sekadar melihat perahu-perahu itu sebagai produk ekonomi, sebenarnya kita tidak mesti cemas, dalam arti produk ekonomi itu berpindah ke tempat yang lebih menguntungkan secara ekonomi. Tapi kalau kita melihat ini sebagai barang kultural, sebagai bagian dari identitas kelompok, semisal pembuat perahu di Bulukumba memberi tag pada dirinya sebagai butta panrita lopi, memang ini harus dipikirkan secara sungguh-sungguh,” jelas Nirwan Arsuka. Ia mengaku dan mengajak kita untuk mencari titik tengah dari regulasi yang memberatkan para butta panrita lopi.

Mengapa negara dengan regulasinya dan sistem yang diatur olehnya tidak menganggap kesenian sebagai sesuatu yang penting? Padahal menurut Dr. Sukarman B., M.Sn, dosen Fakultas Seni dan Desain, seni adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, seni menjadi satu mata pendidikan yang harus diberikan kepada anak-anak bangsa.

Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan umum, pendidikan adalah proses transformasi budaya. Pendidikan juga dipandang sebagai proses pembentukan pribadi, selain proses penyiapan warga negara dan tenaga kerja. Menurutnya pendidikan seni yang juga bagian dari pendidikan secara umumnya, harus sejalan dengan ke empat hal yang ia sebutkan tadi. Komunitas pendidikan, katanya, tentu mengetahui bahwa pendidikan berlangsung pada tiga lingkungan, termasuk pendidikan seni; formal, non-formal, dan informal. Dalam konteks informal, dalam hal ini keluarga, seni dikenalkan pada anak sejak lahir sebagai sesuatu yang sangat mendasar dalam budayanya. Kemudian, dalam pendidikan non-formal, dikenal sanggar-sanggar, kursus, dan sejenisnya, menjadi wadah untuk pendidikan seni. Dalam pendidikan seni non-formal, lebih mengerucut pada mengembangkan ketrampilan berkarya pada anak.

“Pendidikan seni yang harus kita soroti adalah pendidikan seni dalam lingkup formal,” lanjutnya. Sorotan ini wajar karena dalam pendidikan seni yang dilakukan secara formal, memiliki tujuan dasar. Dasar-dasar itu adalah pemenuhan diri, memahami warisan artistik, memahami peran seni di masyarakat. Menurutnya, sayangnya pendidikan seni yang saat ini diajarkan lebih mengarahkan pada praktik seni, yang tidak didasari oleh pemahaman yang komprehensif dan pemahaman yang mendalam tentang teori atau wawasan seni. Sehingga, pemahaman tentang teori dan wawasan seni kurang mendapat perhatian dalam pendidikan seni. Jadi, wajar saja kalau yang menjadi peserta didik dan pendidik seni hanya mengetahui jika belajar seni itu hanya belajar berkarya saja.

Memahami peran seni di masyarakat yang dimaksud oleh Dr. Sukarman adalah bagaimana anak-anak mengidentifikasi berbagai bentuk peristiwa melalui kesenian masyarakat yang dikreasikannya. Lalu pertanyaannya kemudian, bagaimana peserta didik mengidentifikasi kesenian masyarakat yang jauh dari wilayahnya? Ini menjadi kritik tersendiri terhadap sistem yang berlaku.

Saya pribadi, bisa mengidentifikasi peristiwa apa yang dialami oleh masyarakat setempat dengan kesenian. Itupun setelah mengalami brainstorming dengan beberapa teman yang saya temui.

Asia Ramli Prapanca, dosen luar biasa di Fakultas Bahasa dan Seni, punya strategi untuk menunjang pendidikan seni yang ada di Indonesia. Ada tiga strategi yang bisa ditempuh oleh pendidik-pendidik kita, menurutnya. Yang pertama adalah eksposisi peradaban maritim. Yang ia maksud di sini adalah membahas beberapa buku penelitian yang menyangkut sejarah, budaya, dan tradisi pelayaran orang Bugis – Makassar. Ini dimaksudkan untuk mengurai nilai-nilai budaya maritim di Sulawesi Selatan. Ia sempat menyinggung beberapa buku yang bisa menunjang pendidikan seni itu. Misalnya buku yang berjudul Pesan-Pesan Moral Pelaut Bugis, hasil penelitian Prof. Dr. H. Abu Hamid, yang membahas tentang pelaut tangguh suku Bugis – Makassar dalam mengarungi lautan untuk berdagang. Kemudian buku Dr. H. A. Rahman Rahim yang berjudul Nilai-Nilai Keutamaan Kebudayaan Bugis yang membahas tentang nilai-nilai seperti kejujuran, kecendikiaan, kepatutan, usaha dan keteguhan, serta membahas siri’ (rasa malu). Kemudian buku lainnya antara lain: (1) Manusia Makassar karya Prof. Dr. Hj. Sugira Wahid, (2) Orang Makassar karya Dr. Andi Halilintar Lathief, (3) Pelayaran Teripang dari Makassar ke Marege karya Prof. Dr. Nurdin Yatim, (4) dan Migrasi & Orang Bugis karya Prof. Dr. Andi Ima Kesuma, M.Pd.

Strategi yang kedua adalah persuasi sebagai langkah inspirasi yang bertujuan untuk mengajak dan memengaruhi peserta didik agar terinspirasi melakukan tindakan yang sama atau lebih dari yang diharapkan. Lalu strategi yang ketiga adalah melakukan kegiatan workshop, eksplorasi, dan pementasan seni teater. Ini dimaksudkan untuk mengimplementasikan pendidikan seni ke dalam sebuah karya yang indah. Ketiga strategi ini pernah ia terapkan dalam pementasan The Eyes of Marege, yang berhasil membuat karya itu 70 % bernuansa Sulawesi Selatan dan selebihnya bernuansa Marege. Strategi ini diharapkan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kreativitas peserta didik yang akan berkelanjutan pada generasi-generasi berikutnya.

Ia sempat menunjukkan 27 fungsi sarung yang sudah ia eksplor dari kebudayaan Sulawesi Selatan, yang juga sudah ia pentaskan di Malaysia mewakili Indonesia yang tampil bersama empat negara ASEAN lainnya. Dalam berkesenian, orang Bugis Makassar dikenal sebagai suku yang tangguh menempuh laut pada zaman dahulu, selain dikenal sebagai pasompe atau pelaut saudagar. Ini seharusnya diperkenalkan dari generasi ke generasi, baik melalui pendidikan formal maupun non-formal, bahkan informal.

Dalam seminar yang dihadiri oleh 112 peserta dari berbagai macam kalangan itu adalah salah satu rangkaian acara Makassar Biennale ini dianggap penting menurut Nurabdiansyah selaku moderator dalam seminar itu. Terutama untuk jaringan komunitas yang menjadi perhatian utama bagi Makassar Biennale tahun 2017.

Pada hari diskusi dilaksanakan, 13 November 2017, di Menara Pinisi UNM, Chen Hsiang Wen dari Taipei, dihadirkan oleh Makassar Biennale untuk menjaring lebih banyak seniman dalam melihat kemungkinan-kemungkinan berkesenian yang ada, selain menghadirkan pilihan berkesenian dan berjejaring. Dalam melihat maritim misalnya, bagaimana Wen dari Taipei menceritakan kesenian yang ada di Taipei. Ia mencertitakan bagaimana kesenian mengalami perubahan besar pasca dipimpin oleh liberal pada saat itu. Perubahan itu berupa maraknya seniman yang muncul ke permukaan dalam membuat karya. Pergolakan politik di Taipei pada saat itu juga menjadi inspirasi dari beberapa seniman yang berfokus pada topik-topik sosial. Ia menyebut beberapa seniman. Di antaranya Yang Mao Lin, yang merespons adanya pembatasan ekspresi pada saat era kuomintang.[3]

Wen juga sempat memutarkan sebuah video yang menceritakan persilangan dalam pernikahan antara tentara-tentara VOC dan Taipei, yang tentunya dipertemukan oleh jalur laut meski dalam bingkai perdagangan dan penjajahan. Dalam video tersebut, lagu Bengawan Solo yang diciptakan oleh Gesang pada tahun 1940, dinyanyikan dalam empat bahasa yakni Taipei, Jepang, dan dua bahasa daerah di Taipei, dalam pagelaran Taipei Biennale pada tahun 2016. Di dalam video itu, Wu Chi-Yu, Shen Sum-Sum, dan Musqui-qui Chihying, menampilkan performance/mixed media berjudul Songs of SPECX. Nyanyiannya berfokus pada cerita Saartje Specx (1617-1636), seorang figur sejarah yang pengalamannya menjadi basis eksplorasi sejarah perdagangan modern di antara Jepang, Indonesia, dan Taiwan. Sartje Specx adalah anak dari seorang pedagang Belanda dan seorang perempuan Jepang. Dengan adanya kebijakan VOC terkait pernikahan silang, VOC mendeportasi orang-orang hasil pernikahan silang ke Batavia yang sekarang kita kenal dengan Jakarta, di mana mereka dikumpul dan dapat dikontrol. Sementara di sana, Saartje terlibat dalam skandal yang membuat dia terpaksa untuk menikah dengan seorang tokoh agama, George Candidus, dan mengikutinya ke Taiwan. Catatan-catatan yang berkaitan dengan orang-orang hasil pernikahan silang seperti Saartje, ada di Jepang dan Taiwan. Di mana, cerita seperti ini menginspirasi lirik-lirik dari lagu-lagu populer di sana. Song of SPECX, bertujuan untuk mendekonstruksi dan membandingkan cerita dan jalur migrasi para wanita-wanita dan menciptakan sebuah pandangan alternatif terkait perkembangan atau evolusi kapitalisme di sejarah modern Asia Timur.[]

Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie

[1] Suryanagara dkk, http://suryanagarahamida.blogspot.co.id/2014/01/problematika-sentralisasi-dan.html, diakses pada 20 November, 21.47 WITA.

[2] Apatis Blues dalam Kompas TV. Youtube: Abdur SUCI 4 Show #1 Pelajaran Membaca di Sekolah Dasar, https://www.youtube.com/watch?v=zPcKdXwa8zk, diakses pada 20 November, 22.31 WITA.

[3] Partai Nasionalis Tingkok

No Comments

Post A Comment