MB2021: Sekapur Sirih | Telusur Waktu di Kampung Belae
18326
post-template-default,single,single-post,postid-18326,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
 

Telusur Waktu di Kampung Belae

Perjalanan petang melewati tepi sawah dengan siluet gunung karst mengantar kami pada sebuah tempat bernama Kampung Belae, Desa Kabba, Kabupaten Pangkep. Suara jangkrik, serangga hutan dan lolongan anjing menjadi latar suara yang jarang saya dengarkan saat berada di kota. Langit senja yang mulai gelap perlahan menjadikan bintang-bintang mulai nampak menghiasi langit malam itu. Semakin larut, semakin jelas cahaya dari ribuan bintang yang menggantung di langit, sesaat menggantikan binar lampu yang sehari-hari saya jumpai di kota. 

Sore itu, saya dan rombongan dari Parepare bertolak menuju Pangkep untuk menghadiri gelaran MB di Kabupaten ini.  Jaraknya 100 km dengan waktu tempuh selama 2 jam. Kami berangkat jam 3 sore menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua, dan tiba sekitar jam 5 sore di Tugu Bambu, yang menjadi titik pertemuan kami dengan salah seorang tim MB Pangkep yang akan memandu ke lokasi kegiatan. Berbeda dengan Parepare yang menggelar pameran sebagai salah satu inti acara, di Pangkep sendiri acara utamanya adalah simposium yang tak kalah menariknya karena menghadirkan para pembicara dari berbagai latar belakang yang menarik. Pembukaan MB Pangkep dibuka oleh direktur Yayasan Makassar Biennale (Anwar Jimpe Rahman), turut hadir pula Halim HD (Budayawan), Nirwan Ahmad Arsuka (Pustaka Bergerak), Nurhady Sirimorok, juga Achmad Yasin (Dosen DKV UNM). 

Setibanya di lokasi, kami mendirikan tenda dengan membuat formasi melingkar di atas tanah berumput yang cukup datar. Di sekeliling kami hanya ada 4 rumah yang jaraknya berjauhan satu sama lain, sedang lokasi yang kami gunakan berkegiatan merupakan villa milik salah satu pejabat di Pangkep. Sinyal telepon genggam yang hampir tak ada membuat kami punya kesempatan menikmati segala hal yang tersaji dan terjadi di sana, bukan hanya itu, sinyal yang buruk juga membuat kami lebih terdorong untuk saling sapa satu sama lain, duduk membuat lingkaran, mendengar, bercerita dan diselingi oleh candaan yang membuat kami tertawa. Sederhana, tanpa perlu telepon genggam. Begitulah kurang lebih gambaran simposium yang kami hadiri selama beberapa hari, tidak formal dan lebih santai, berbeda ketika mengalaminya di dalam suatu ruangan yang monoton yang membuat kita tidak dapat berinteraksi satu sama lain, kecuali hanya mendengar pembicara dan memberikan tanggapan itupun jika kita punya kesempatan dan mau melakukannya. 

Sayangnya, kami tidak sempat mengikuti agenda pembukaan karena baru tiba saat sore hari. Barulah pada malam harinya kami mengikuti simposium sesi pertama yang dimulai dengan pemutaran video dokumenter pendek yang menceritakan aktivitas Ady Supriadi dalam upaya pelestarian gua-gua prasejarah yang terdapat di gunung karst sekitar Kampung Belae, lokasi MB Pangkep. Ady Supriadi merupakan anak muda setempat yang sejak kecil sudah dekat dengan pegunungan karst karena sering mengikuti ayahnya yang bekerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Bertumbuh dewasa, kesadaran Ady mulai muncul untuk turut mengambil peran menjaga gua-gua berisi lukisan prasejarah di kampungnya, seiring dengan semakin bertambahnya kunjungan studi, baik dari orang  dalam maupun luar negeri  yang melakukan penelitian pada gambar cadas (Garca) sebagai objeknya. Hingga saat ini, Ady Supriadi aktif melakukan penelitian juga giat mengarsipkan berbagai hal terkait gua dan lukisan prasejarah tersebut. Dia juga aktif mendampingi tamu-tamu yang datang untuk keperluan penelitian dari berbagai penjuru dunia. 

Diskusi dilanjutkan setelah pemutaran film, berbagai pertanyaan muncul dari peserta, salah satu yang menarik adalah pertanyaan dari Onet yang mencoba mengetahui lebih detail lagi mengenai siapa yang menggambar di batu cadas tersebut, apakah anak-anak, remaja atau orang dewasa. Pertanyaan ini kemudian melahirkan banyak spekulasi antara peserta dan pemantik. Forum menjadi hidup dengan munculnya satu persatu peserta yang memberi tanggapan dan secara tidak langsung menambah pengetahuan kita mengenai garca yang terdapat pada karst. Pemutaran film tentang aktifitas Ady dalam pelestarian cagar alam berupa peninggalan gua purbakala berhasil membuat kami penasaran untuk menggali informasi lebih dalam lagi mengenai objek yang tengah berdiri di hadapan kami, yang menjadi latar simposium malam itu. Sesi pemutaran film berakhir, dan terus berlanjut dengan bincang lepas sesama peserta simposium.

Hari kedua dimulai dengan sarapan, antri mandi dan ngopi. Kebetulan di lokasi acara ada lapakan kopi, yang sangat menunjang kebutuhan ngopi, sehingga kami tidak perlu meninggalkan lokasi dan menempuh jarak yang cukup jauh hanya untuk membeli segelas kopi. Setelah seluruh rangkaian pagi itu selesai, saatnya kembali belajar dalam sesi simposium hari kedua di bawah kolong rumah kayu. Tim MB Pangkep menggelar kain pengganti karpet, teman-teman berkumpul dan duduk bersila, di tengah kami telah ada beberapa laptop yang akan kami gunakan menonton menggantikan layar proyektor yang tidak bisa digunakan saat itu karena keterbatasan daya listrik di lokasi ini. Kelas berikutnya dipantik  oleh Achmad Yasin yang membahas tentang sejarah gambar, dimulai dengan memutarkan video yang berisi peta persebaran Homo Sapiens ke penjuru dunia pada 150.000 tahun yang lalu. 

Dalam video tersebut, diterangkan bahwa Homo Sapiens berasal dari benua Afrika yang menjadi titik awal mereka bergerak mengelilingi bumi, melewati daratan hingga menyeberangi lautan. Mereka bertahan hidup dalam segala cuaca dan perubahan kondisi  daratan hingga akhirnya mencapai Pulau Sulawesi pada 6.500 tahun yang lalu, bersamaan dengan majunya kemampuan homo sapiens dalam menerjemahkan perasaan dan pengalaman dalam media gambar, peristiwa itu disebut ledakan kreatifitas. Gambar-gambar yang terdapat pada dinding-dinding gua di kawasan karst Pangkep-Maros merupakan salah satu bukti pra-sejarah yang dapat kita jumpai saat ini. Setelah mendapat titik terang mengenai teka-teki lukisan di karst, kami makin penasaran melihat langsung gambar tersebut, meskipun beberapa tahun lalu saya telah beberapa kali melihatnya, tapi hanya sebatas menjadikannya sebagai salah satu objek wisata, namun kali ini rasanya jauh berbeda ketika gambar itu tidak hanya sebuah goresan warna yang dapat dilihat bentuknya, melainkan seperti lorong waktu yang membawa kita menerobos waktu belasan ribu tahun yang lalu.

Siang jelang sore, rombongan yang terdiri dari kurang lebih dua puluh orang beranjak dari lokasi camp menuju Leang Sakapao menggunakan sepeda motor. Kami berangkat untuk melihat secara dekat objek gambar di dalam gua. Setiba di lokasi parkir kendaraan, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah sekitar lima belas menit hingga tiba di anak tangga pertama menuju Leang Sakapao. 

Leang Sakapao merupakan salah satu gua tertinggi di Kampung Belae, Pangkep. Untuk menuju kesana kita harus menaiki puluhan anak tangga yang cukup terjal hingga tiba di persinggahan sebelum masuk ke dalam gua. Pemandangan dari atas karst begitu menakjubkan, hamparan sawah dan pepohonan membawa angin sejuk, gunung-gunung karst nampak kokoh berdiri mengelilingi persawahan. Setelah menjadi kawasan cagar budaya dan dilindungi, Leang Sakapao tidak lagi menjadi objek wisata yang bebas dikunjungi oleh siapapun, tapi terbatas hanya untuk penelitian dan tujuan pendidikan, itu pun harus izin melalui Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB), ini dilakukan untuk mencegah agar objek gambar tidak mudah rusak. 

Sebelum masuk ke dalam gua, pemandu memberi arahan mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jumlah orang yang masuk ke dalam gua pun terbatas untuk empat orang, jadi kami harus masuk secara bergiliran. Menurut pemandu, orang yang suhu badannya tinggi tidak diperkenankan masuk ke dalam gua, sebab akan mengakibatkan kerusakan pada pigmen warna gambar. Sembari menunggu giliran, Arif Dg. Rate mengambil kesok-kesok, sebuah alat musik tradisional yang terbuat dari tempurung kelapa, kulit kambing dan kayu, dimainkan dengan cara digesek menggunakan senar dari rambut ekor kuda. Ia mulai melantunkan nada menggunakan kesok-kesok, suara yang keluar bergema karena terpantul pada dinding-dinding karst, ini membuat perhatian kami sejenak beralih menyaksikan penampilan itu. 

Tak lama setelah itu, ia mulai melantunkan Sinrilik, sebuah bentuk seni tutur puitis berirama, dalam bahasa makassar ia melantunkan syair-syair senada dengan irama suara yang dikeluarkan oleh kesok-kesok. Usai mendengarkan Arif Dg. Rate yang merupakan salah satu pasinrilik muda di Sulawesi Selatan, saya dan tiga teman sekelompok melangkah menaiki beberapa anak tangga menuju mulut gua. Di dalam gua, terdapat pagar yang mengelilingi objek gambar, ini dimaksudkan agar pengunjung tidak menyentuh gambar secara langsung yang bisa mengakibatkan kerusakan pada gambar, akan tetapi pagar tersebut juga membatasi kami untuk mengamati gambar secara detail, kami kesulitan melihat gambar dengan posisi tubuh yang harus menunduk sambil melihat ke atas dinding. Meski demikian, lumayan jelas terlihat gambar menyerupai babi dengan warna jingga kemerahan terlukis pada bagian atas dinding goa. Selain gambar menyerupai babi, terdapat juga beberapa cap tangan orang dewasa, utamanya pada  bagian ceruk gua. Saat itu, saya membayangkan sedang berada di tengah-tengah mereka (manusia purba) dan mencoba mencocokan makna dibalik gambar-gambar itu, namun terlalu cepat rasanya jika hendak menjawab teka-teki tersebut, kecuali perlu memahami bahwa sejak awal kemunculan manusia, mereka selalu mencari cara untuk terus eksis dari masa ke masa.

Perjalanan ke Leang Sakapao mungkin bagi sebagian besar orang hanyalah perjalanan mengunjungi gambar-gambar yang diyakini merupakan gambar peninggalan manusia pra-sejarah, namun bagi saya perjalanan tersebut adalah perjalanan menemukan makna-makna baru pada simbol setiap gerak alam. Apa yang telah dilakukan oleh teman-teman tim kerja MB 2021 merupakan metode baru pembelajaran dengan model pendekatan kepada objek. Peserta dibiarkan mengalami, mengenali dan membuktikan sendiri melalui pengalaman langsung tanpa harus menelan banyak asumsi tentang hal tersebut. Model belajar di luar ruangan seperti ini membuat kami sebagai peserta bisa melampaui ruang imajinasi kami dalam menangkap pengetahuan yang berasal dari sumber mana saja. Mulai dari para praktisi yang mengisi sesi-sesi simposium, seniman, warga hingga dari apa yang hadir secara fisik berupa bentangan alam yang ada di sekitar kita.[]

Syahrani Said, tim kerja Makassar Biennale 2021 – Parepare

No Comments

Post A Comment