Trajectory: Makassar dalam Peta Seni Rupa Indonesia

Pre-Event#1 – Makassar Biennale: Peluncuran Buku “The Voyage to Marege”.
02/17/2017
Trajectory! Kilas Balik Catatan Tema Makassar Biennale#1 – 2015
02/17/2017
Show all

Trajectory: Makassar dalam Peta Seni Rupa Indonesia

Tulisan ini adalah pengantar kuratorial Makassar Biennale 2015: Trajectory. Kurator Makassar Biennale saat itu, Bpk. Suwarno Wisetrotomo, dibantu tim kuratorial mencoba menyusun linimasa senirupa Makassar, sebuah pekerjaan yang hingga hari ini masih belum terselesaikan.

Menyambut Makassar Biennale#2 – 2017, tulisan ini menjadi kilas balik yang penting dalam lintasan sejarah inisiasi perhelatan seni rupa dua tahunan di Makassar.


 

Menziarahi yang Silam, Menanam Masa Depan

Makassar Biennale 2015 untuk pertama kali dihelat. Tak mudah, tetapi terus diupayakan dengan segenap gagasan dan prasangka positif pada banyak pihak, pada akhirnya menjadi mungkin. Peristiwa Makassar Biennale memanggul ambisi berlapis, antara lain; ingin menumbuhkan generasi sadar sejarah, agar memiliki dasar untuk memandang serta memahami persoalan (sosial, masyarakat, ekonomi, politik, kebudayaan) di sekitarnya secara kritis. Pada gilirannya nanti, mereka memiliki modal untuk membangun rasa percaya diri di tengah pergaulan antarbangsa, sebagai modal budaya, sekaligus modal sosial, dan modal politik, yang bisa dikonversi menjadi kekuatan gerakan kebudayaan (dan kesenian) yang memiliki daya tawar kuat.

Ambisi berikutnya, menempatkan yang silam sebagai inspirasi dengan cara meneliti, mengambil nilai-nilai dan saripati maknanya. Hasil penelitiannya digunakan untuk memahami realitas masa kini, sekaligus sebagai bekal untuk merancang dan merekayasa masa depan  secara kritis. Langkah-langkah ini merupakan tindakan kreatif yang sangat dibutuhkan oleh negeri ini, karena akan mengondisikan bahwa pada setiap peristiwa memiliki pijakan historis, sekaligus memiliki kekuatan menginspirasi orang lain.

Ziarah pada yang silam memiliki makna dan konsekuensi dua hal; Pertama, menempatkan yang silam sebagai inspirasi dan dasar dalam laku kreatif. Kedua, menempatkan yang silam pada serangkaian lini masa yang menunjukkan titik-titik penting suatu pencapaian. Kedua tindakan ini penting agar setiap gagasan dan tindakan kreatif tak terperangkap pada sikap romantik; sekadar bangga dan mengagumi masa silam, namun tak sanggup memaknai, tak berhasil menyerap spiritnya, apalagi mampu merevitalisasi. Kegagalan pada tiga aspek itu, biasanya hanya akan berhenti pada sikap glorifikasi yang sesungguhnya justru akan ‘membunuh’ kekayaan (artefak dan sejarah) yang ada.

Riset merupakan kata kunci untuk memahami dan ‘memanfaatkan’ artefak dari masa silam. Karena melalui riset, dengan sejumlah metode dan pendekatan, kompleksitas latar belakang dan konteks dari sebuah artefak dapat diketahui berdasarkan fakta dan data. Berkarya seni rupa pada era sekarang, riset menjadi tantangan yang semakin nyata, karena tuntutan aspek artikulasinya. Karya seni rupa tak berhenti pada aspek kekuatan visualnya, tetapi juga kekuatan nalar dan gagasannya. Karena itu, peristiwa-peristiwa pameran secara berkala, termasuk biennale, menjadi perlu, setidaknya berfungsi sebagai arena pertarungan antarseniman, terutama terkait dengan gagasan, artikulasi (wacana), dan karya-karya gubahannya.

Makassar Center Point of Indonesia adalah citra kota (city branding) Makassar, yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan branding yang strategis, karena posisi geografis kota Makassar yang berada di tengah, sebagai pintu gerbang untuk memasuki wilayah timur Indonesia. Citra (branding) semacam itu menyimpan harapan bahwa Makassar menjadi “pusat yang lain” bagi seni rupa Indonesia, setelah kota lain yang sudah terlebih dahulu dianggap sebagai “pusat” pertumbuhan dan perkembangan, seperti Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Sebagai kota yang berada di titik tengah, Makassar Biennale berpeluang dan berpotensi mewujudkan cita-cita sebagai “pusat seni rupa Indonesia” yang ada di kawasan tengah dan timur Indonesia, sejauh semua pihak di Makassar khususnya, atau di Sulawesi Selatan pada umumnya berikhtiar dan berupaya maksimal berada dalam cita-cita yang sama.

Makassar Biennale: Menyusun Lini Masa

Makassar Biennale 2015 mengambil tema “Trajectory”, yang berarti “lintasan” perjalanan seni rupa (di) Makassar. Istilah “Trajectory” meskipun terasa generik, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa Makassar, meminjam terminologi Bourdiau, adalah “arena” – tempat pertarungan identitas, ideologi – dalam konteks lokal maupun nasional (Indonesia), yang juga berpotensi mengakumulasi “modal” untuk dipertukarkan dengan “modal-modal yang lain” yang berasal dari “pusat-pusat yang lain”. Istilah itu juga dapat digunakan sebagai pintu masuk bahwa Makassar memiliki sejarah, sosok, peristiwa, dan karya seni rupa yang penting – baik dalam konteks Makassar, mau pun dalam konteks Indonesia. Karena itulah, Makassar Biennale merupakan momentum strategis untuk memulai melihat dengan cermat, mencatat dengan tekun, memaknai dan menata dengan hati-hati potensi seni rupa Makassar.

Makassar Biennale 2015, sebagai peristiwa berskala besar yang pertama ini, dengan sejumlah kesulitan dan kerumitannya,  berikhtiar untuk menyusun lini masa (time line) yang dapat menunjukkan jejak-jejak pencapaian kesenian/kebudayaan masyarakat Makasar. Leang-leang yang terbukti merupakan artefak sejarah sangat tua (lebih tua dari jejak seni rupa Goa Altamira di Perancis), dijadikan titik pijak penelusuran jejak peradaban ini. Titik pijak ini terus berjalan, tumbuh, berkembang, menciptakan dialektika, dan pada satu titik tertentu, akan mendewasakan siapapun dalam proses berkesenian/berkarya seni rupa.

Tegangan antara perupa otodidak dengan akademis misalnya, adalah hal biasa, juga bukan perkara baru, mengingat keduanya tumbuh dari akar yang berbeda, namun dari lingkungan yang sama. Masing-masing memiliki pengalaman lahir dan tumbuh yang berbeda. Karena itu keduanya tak selayaknya berseberangan, tetapi justru sebaliknya harus semakin sering bersanding untuk saling mengasah. Setiap event semestinya disikapi sebagai “arena” yang akan mematangkan keduabelah pihak, atau bahkan semua pihak.

Institusi pendidikan seperti Universitas Negeri Makassar (UNM) atau Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), semestinya memerankan diri sebagai laboratorium sekaligus jembatan penghubung antara berbagai pihak. Akademisi berikut sivitas akademika adalah para penjaga nilai yang memiliki otoritas untuk memberikan penilaian kritis pada peristiwa dan karya seni rupa. Itulah laku “menziarahi masa lampau” dengan tindakan dan perspektif kritis, sekaligus sebagai ikhtiar untuk “menanam masa depan”. Tindakan “menanam” merupakan kerja kebudayaan, karena dalam perilaku menanam tersimpan kesadaran berinvestasi bagi masa depan yang akan dipanen oleh generasi berikutnya.

Sidang Kurator Makassar Biennale 2015

Suwarno Wisetrotomo (Ketua), Faisal MRA, Nurabdiansyah, Arham Rahman, Irfan Palippui (Anggota)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *