Makassar Biennale 2019 | Unjuk Rasa Warisan Nenek
16724
post-template-default,single,single-post,postid-16724,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive
 

Unjuk Rasa Warisan Nenek

Makanan dapat digolongkan sebagai seni, apabila makanan hadir untuk dikonsumsi manusia yang terwujud dalam pengalaman makan. Melalui pengalaman makan yang menghayati dan intim (aesthetic engagement), berbagai makna dapat digali oleh manusia. Keberadaan makna inilah yang dapat menjadikan makanan dapat dikategorikan sebagai seni. Berbeda jika makanan hadir sebagai seni dekoratif di mana makanan hadir sebagai tampilan, bukan untuk dikonsumsi (Arnold Bearlent, 1991).[1]

Selain pengalaman makan, melalui prosesi memasak dan menyajikan makanan, manusia bisa kembali menggali dan menghadirkan ingatan terhadap sesuatu hal. Ingatan yang memiliki makna tersendiri dalam kehidupan seseorang. Hal inilah yang coba dilakukan oleh Muslimin Mursalim, seniman kuliner pada performance arts ma’dange di malam pembukaan Makassar Biennale 2019 Parepare.

Dalam pertunjukannya, Muslimin masuk ke dalam sebuah panggung bambu berbentuk kotak berukuran 4 x 4 meter. Di empat sudut tiang panggung itu terdapat lampu hijau dan merah. Muslimin memakai pakaian putih dengan ikat kepala merah, diikuti satu perempuan yang membawa pattapi’ (nampan bambu) yang berisi perkakas ma’dange. Seorang perempuan berpakaian serba hitam dengan kain songket diikat di kepala, duduk di sisi kiri tiang.

Dia adalah Fadjriani, pembaca sureq (sejenis prosa yang dibaca sambil berlagu) berisi rapalan doa-doa berbahasa Luwu sebagai wujud permintaan restu kepada dewata (Tuhan) agar masakan yang dibuat bisa enak. Empat wanita mulai menari masuk ke dalam panggung trotoar. Menari mengelilingi panggung tempat Muslimin duduk. Suling bambu terdengar mengiringi langkah kaki dan gerak tangan penari yang membentuk formasi tarian Singkerru’ Simulajaji. Tarian Singkerru’ Simulajaji adalah lambang persatuan bangsa-bangsa dan kerajaan di Sulawesi Selatan. Konfigurasi Singkerru’ Simulajaji adalah perjanjian awal lahir dan rahasia takdir dalam proses kehidupan manusia atas amanah Tuhan Yang Maha Esa.

Empat penari berbaju adat putih membentuk formasi dasar lambang Makassar Biennale (MB) 2019. Setiap penari melambangkan satu kota/daerah, sedangkan tiang dengan empat penyangga sebagai simbol empat kota MB 2019 berlangsung yakni Makassar, Bulukumba, Parepare, dan Polewali Mandar. Para penari terus mengelilingi tiang hingga pembacaan sureq selesai.

Para penari sedang mengelilingi panggung pertunjukan dengan membentuk formasi tarian Singkerru’ Simulajaji. (Foto: tim dokumentasi MB 2019)

Muslimin mulai memanaskan dapo (sejenis tungku dari tanah liat) yang telah diisi arang. Mengipas-ngipasnya hingga apinya merata membakar semua arang. Cetakan ma’dange yang sedari tadi bikin penasaran dibuka dari bungkusan daun pisang, dinaikkan ke atas dapo. Bahan seperti beras ketan hitam yang telah dijemur dan dihaluskan sejak siang kemudian dicampur dengan sagu, gula merah, cengkih, dan kelapa parut di atas nampan, lalu diayak jadi adonan. Cetakan ma’dange yang dirasa sudah panas, diturunkan dari dapo.

Adonan mulai dimasukkan perlahan ke dalam cetakan ma’dange dengan cara diambil sedikit demi sedikit, lalu dimasukkan ke cetakan dengan mengusap-usapkan kedua tangan agar adonan tidak tumpah ruah. Beberapa menit kemudian, ma’dange matang, dan seseorang dipanggil untuk mencobanya. Setelah itu, Muslimin diikuti oleh perempuan pembawa nampan, pemain suling dan pembaca sureq, keluar dari panggung trotoar di jalan Daeng Parani, Parepare.

Muslimin sudah mempersiapkan performance arts-nya beberapa hari sebelumnya. Setiap pagi dan sore di Rumah Putih, tempat pagelaran MB Parepare, ramai oleh suara Muslimin, para penari (Husnul Urfiah Palliwangi, Indah Permata Sari, Putri Andriana, dan Herawati), dan Rustam Alwi (pemain suling) yang sedang latihan. Pukul 07.00 pagi, sebelum malam pembukaan, Muslimin sudah datang ke Rumah Putih untuk menjemur beras ketan hitam yang telah direndam semalaman, mengambil perkakas latihan, dan mempersiapkan bahan-bahan dasar ma’dange hingga sore hari.

Kalian beruntung, kata Muslimin, karena bisa mencicipi ma’dange buatannya saat ia sedang latihan ma’dange. Maklum Muslimin baru kembali mempraktikkan resep keluarganya kembali sejak 20 tahun lalu. Katanya, resep warisan neneknya tidak untuk diperjualbelikan dan dikonsumsi oleh sembarang orang, kecuali dipertunjukan kapan pun Muslimin mau. Pertunjukannya malam itu ia lakukan karena merasa sudah yakin, ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa ada kue bernama ma’dange.

Lewat ma’dange, Muslimin menghadirkan ingatan masa kecilnya bersama neneknya masuk ke galeri pameran. Membawa ingatan itu ke dalam sepiring kue yang dipertunjukkan di malam pembukaan MB 2019 Parepare . Ma’dange berarti “membuat dange’’. Namun di keluarga Muslimin, ma’dange sekaligus diartikan sebagai nama kue yang dibuat itu.

Perkakas dan dange buatan Muslimin Mursalim dipamerkan di ruang galeri Rumah Putih, Parepare. (Foto: tim dokumentasi MB 2019)

Pertunjukan ma’dange dan kehadiran Muslimin di MB 2019 bermula dari keiikutsertaannya di Sampan Institute, sebuah lembaga di Parepare yang bergerak dalam bidang penelitian dan penerbitan. Pada saat itu, ia hendak terlibat dalam proyek penelitian “Migrasi Orang Enrekang ke Parepare” yang sedang dikerjakan Sampan Institute. Sebelumnya, Muslimin tidak tahu apa itu MB. Ia bercerita dengan tim kerja MB di Parepare tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa dikerjakan dan wujud pelibatan apa yang bisa dia lakukan. Dari obrolan itu, ia mengetahui bahwa MB telah menetapkan “Maritim” sebagai tema abadinya dengan salah satu sub temanya pada 2019 yaitu “Kuliner”.

Tema Kuliner mengingatkan Muslimin dengan pengalaman masa kecilnya bersama mendiang neneknya. Ketika berumur empat tahun, mahasiswa Jurusan Hukum ini sering diajak oleh sang nenek, Hasna Binti Pallawa, untuk ma’dange. Menurut kesaksian orang-orang yang pernah mendapati kala si nenek masih hidup, Hasna pernah menjadi juru masak di kerajaan Luwu dan dekat dengan raja Luwu, Andi Djemma. Sayangnya, nenek Muslimin yang berasal dari Kampung Tadette, Belopa, Luwu, Sulawesi Selatan, menolak bicara banyak kepada sanak cucunya tentang keterlibatannya di Kerajaan Luwu pada saat itu.

Muslimin hanya ingat pengalamannya saat diajak sang nenek untuk ma’dange. Ia diajar untuk memanaskan dan mengingat hawa panas yang pas untuk cetakan ma’dange, juga beberapa bahan dasar yang dipakai. Meski selang beberapa waktu setelah itu, Muslimin dan orangtuanya bermigrasi ke Parepare dan Hasna tetap tinggal di Tadette.

Ingatan-ingatan ma’dange bersama neneknya sewaktu usia empat tahun baru dipraktikkan kembali saat Muslimin berumur 25 tahun. Pun sudah lama tidak melakukannya, resep itu masih terpatri dalam ingatannya. Muslimin adalah generasi kedua penerima resep ma’dange. Bapak, paman, bibi atau sepupu-sepupunya tidak tahu menahu resep ini. Bahkan neneknya sewaktu hidup berpesan padanya bahwa resep ini tidak boleh diketahui oleh sembarang orang, biar pun dari keluarganya sendiri. Muslimin tidak tahu kenapa dia yang dipilih oleh sang nenek untuk menerima resep warisan itu.

Singkat cerita, Muslimin menceritakan resep dan sejarah ma’dange kepada kurator dan direktur MB 2019, Anwar ‘Jimpe’ Rachman. Setelah mendapatkan lampu hijau dari kurator, Muslimin kemudian mencoba menelusuri kembali resep ma’dange ke beberapa wilayah di Luwu. Muslimin berasumsi, jangan sampai resep neneknya ini adalah sesuatu yang tidak otentik di keluarganya saja, tetapi sesuatu yang memang sudah ada sejak dulu.

Dalam penelusurannya, Muslimin pergi ke Kecamatan Bua, satu daerah di Luwu yang terkenal sebagai daerah pembuat cetakan dange dari gerabah, tempat penjual dange, dan pedagang sagu. Saat di Bua, ia tidak mendapati warga yang mengetahui tentang resep ma’dange. Begitu pula ketika pergi ke Balambang, daerah lain di Luwu. Di sana ia mendapati dange dibuat dengan bahan dasar sagu basah dan kering. Begitu juga saat Muslimin ke Pangkep (Segeri) selama sebulan untuk mencari tahu resep dange di sana, yang menggunakan bahan dasar beras ketan hitam dan putih (tetapi cenderung banyak yang memakai beras ketan hitam lantaran aromanya lebih gurih dan rasanya lebih pulen). Sedangkan bahan dasar ma’dange memadukan sagu dan beras ketan. Muslimin juga mengulik informasi lewat internet dan tidak menemukan informasi tentang resep ma’dange.

Bukan hanya berbeda dari bahan dasar, cetakan yang digunakan pun berbeda. Cetakan dange Luwu terdiri dari lima belas lubang untuk setiap cetakan. Sedangkan cetakan ma’dange ada tujuh lubang, angka yang bermakna mattuju, ‘apa yang menjadi tujuan kita bisa tercapai’. Muslimin membeli cetakan ma’dange di pasar tradisional Bua. Katanya, sebelum dibeli harus izin dulu sama penjualnya. Bagian meminta izin ini penting karena sebelumnya, ia sudah memesan cetakan ma’dange di salah satu desa pembuat cetakan ma’dange, namun, si pembuat mengatakan jika cetakan itu selalu pecah saat dibikin. Konon katanya, cetakan itu memang sulit dibuat apalagi dengan tujuh buah lubang dan hendak dibawa keluar dari wilayah Luwu.

Setelah penelusuran dua bulan, Muslimin memantapkan diri membawa resep ma’dange sebagai karya di perhelatan MB 2019 Parepare. Sebelumnya, Muslimin diberi tahu pula untuk menjadi salah satu panelis di simposium MB 2019 yang bertajuk “Kuliner”. Awalnya ia tidak yakin bisa menjadi panelis simposium karena merasa masih mahasiswa dan ‘kapasitasnya belum cukup’. Apalagi harus berdampingan dengan Dias Pradadimara, panelis lain yang juga dosen Ilmu Sejarah di Universitas Hasanuddin. Di sisi lain, ia sadar bahwa ini adalah kesempatan memperkenalkan resep warisan neneknya. Ia lantas memantapkan diri dan bersedia menjadi panelis. Ia juga dibantu oleh tim kerja MB 2019 Parepare dalam menyusun narasi yang akan ia ceritakan di simposium.

Muslimin Mursalim bersama Dias Pradadimara saat berbicara di Simposium MB 2019 di Ruang Teater Gedung Kesenian Sulsel Societeit de Harmonie, Makassar (Senin, 2 September 2019). (Foto: tim dokumentasi MB 2019)

Bagi Muslimin, setiap makanan punya nilai dan konteks seninya sendiri-sendiri. Seperti ma’dange, yang punya sejarah dan ritual khusus. “Rasa ma’dange bisa jadi menurut orang lain biasa saja, tapi prosesi membuatnya itu yang menjadikannya punya nilai seni yang tinggi,” ceritanya.

Walaupun saat ini masih banyak asumsi bias gender bahwa laki-laki yang memasak itu majennang’ (bahasa Bugis yang bermakna ‘mencampuri sesuatu yang bukan urusannya merujuk pada kerja domestik yang dikerjakan perempuan’), tetapi bagi Muslimin, kemampuan memasak itu bisa melengkapi kesempurnaan seorang laki-laki. Dalam keluarganya, laki-laki yang bisa memasak itu biasa saja. Laki-laki justru mesti punya kemampuan memasak agar bisa hidup mandiri. Misalnya saja ketika seorang laki-laki di perantauan, tidak ada perempuan atau istri, mau tidak mau kemampuan memasak dibutuhkan. Laki-laki juga harus pandai melayani dirinya sendiri.

Di tahun 2016, Muslimin pernah bekerja di sebuah katering di Palopo. Suatu waktu katering tempatnya bekerja dipercaya untuk menyiapkan makanan-makanan tradisional untuk acara pertemuan raja-raja seluruh Indonesia di Kerajaan Luwu. Ada adab tersendiri untuk penyajian makanan untuk para raja. Dari situlah Muslimin belajar menata porsi makanan dalam berlapis-lapis piring serta merapalkan doa-doa sebelum menyajikan makanan itu untuk para raja. Ada kebanggaan tersendiri saat bisa menyajikan makanan untuk para raja, katanya.

Muslimin juga pernah kursus chinese food, belajar membuat berbagai jenis mi, kwetiau, dan lainnya. Dari pengalaman kursusnya, ia mendapati perbedaan yang spesifik antara chinese food dengan ma’dange. Perbedaan itu terletak pada ritualnya. Baginya, untuk chinese food ketika bahan-bahan sudah siap, kita bisa mulai memasak tanpa ada hal-hal tertentu yang dilakukan. Sedangkan ma’dange, hanya bisa dilakukan oleh orang yang “suci” dengan niat yang tulus, fokus terhadap proses yang sedang dilakukan dengan merapalkan nyanyian-nyanyian Luwu.

Bagi Muslimin Mursalim, ada sakralitas dibalik cerita dan keunikan sebuah makanan.  Kata sakral merujuk pada konteks dan perlakuan khusus pada pengolahan makanan.  Ia tidak selesai pada kunyahan dan kenyangnya kita. Lebih jauh, makanan bisa menjadi sebuah medium yang merekatkan kita dengan banyak orang. Jalan bagi kita mengenal jati diri seseorang.

Pernyataan Muslimin dipertegas oleh Dias Pradadimara pada Simposium MB 2019 bertajuk “Kuliner”. Bagi Dias, makanan menjadi sebuah peritiwa sakral. Sakralitas itu berhubungan dengan sebuah peristiwa penting. Segala hal yang kita konsumsi, masing-masing memiliki momen tersendiri. Misalnya saja sakralitas sekuler di mana kita memasang status mengenai makanan-makanan yang kita makan di sebuah restoran. Kita mencoba membangun momen. Momen yang tidak mendekatkan kita kepada siapa-siapa kecuali pada status yang kita update. Makanan tidak hanya punya konteks tertentu dari aspek bahan atau penyajiannya. Makanan juga menjadi bagian sentral dalam mempertahankan identitas kita.

Muslimin adalah satu-satunya seniman kuliner yang semakin meragamkan pagelaran MB 2019. Di dalam ruang khusus karya Muslimin di Rumah Putih, terdapat beberapa tangkai bunga sereh dalam pot bambu yang disimpan di sudut ruangan. Bunga sereh itu didapatkan Muslimin dari Gunung Nepo di Parepare yang sering didatanginya sejak kecil. Jika dihitung mungkin sudah dua puluh empat kali naik turun gunung itu, katanya.

Di dalam galeri MB 2019 Parepare, Muslimin juga turut menghadirkan cetakan dange Luwu, dange Segeri Pangkep, dan ma’dange. Di tengah ruangan ada meja dengan dua gelas dan satu teko yang terbuat dari bambu. Di bagian dinding, ada lima buah rak kayu berisi bahan ma’dange yang terdiri dari kelapa parut, gula pasir, cengkih, sagu, beras ketan hitam, beras ketan putih, gula merah, dan garam. Ada juga ayakan sagu dan adonan ma’dange yang siap bakar. Lalu di bawah rak kayu itu disimpan nampan bambu yang biasa dipakai mengayak adonan, lengkap dengan dua potong bambu yang dipakai meratakan ma’dange saat dicetak. Terakhir ada dapo’ disertai dengan arangnya.

Cetakan Ma’dange, Dange Segeri, Dange Luwu, dan Sagu Luwu ikut dipamerkan di ruang galeri Rumah Putih, Parepare. (Foto: tim dokumentasi MB 2019)

Selain karya ma’dange-nya yang dipamerkan, Muslimin juga mendalami perannya sebagai seniman kuliner dengan membuat kapurung (makanan khas Luwu yang berbahan dasar sagu). Kapurung itu dinikmati bersama tim kerja MB Parepare dan Isrol Triono a.k.a Medialegal, seniman residensi MB Parepare dari Yogyakarta. Kapurung itu dinikmati dengan ikan kering, parede (ikan kuah kuning), irisan jeruk, dan racca’-racca’ mangga (mangga yang diiris kecil-kecil). Saat makan, Muslimin masih bersedia melayani semua tim yang makan untuk mengulek ikan tongkol dan parede agar kuah kapurung bisa lebih kental dan sedap, sembari ia mengingatkan bahwa sambal yang terdiri dari terasi yang telah dibakar, tomat, dan puluhan biji cabai itu rasanya sangat pedas dan jangan diambil terlalu banyak.

Ma’dange hingga kapurung bukan hanya menghubungkan Muslimin dengan ingatan tentang neneknya, tetapi juga menunjukkan rasa kuliner warisan neneknya itu kepada khalayak. Menjadikannya seorang seniman kuliner dengan banyak kemungkinan yang bisa ia lakukan di masa mendatang. Ia berharap kelak di pagelaran MB berikutnya, ia bisa kembali terlibat. Muslimin dan makanan yang dibuatnya menunjukkan bahwa karya seni tidak lagi melulu soal apa yang kita lihat, ia bisa juga berarti apa yang kita makan. Rasa apa yang disesap oleh ujung lidah kita.

Wilda Yanti Salam, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin dan sedang belajar dan bekerja di Tanahindie.


[1]http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2015-09/S53017-Esty%20Hayuningtyas, diakses pada 20 Oktober 2019, pukul 09.14 Wita.

No Comments

Post A Comment